Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tanaman Berevolusi Cepat, tapi Bisakah Hadapi Perubahan Iklim?

Kompas.com, 30 Maret 2026, 17:18 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Tumbuhan dapat berevolusi lebih cepat dari perkiraan, tapi panas ekstrem dapat mendorong mereka menuju kepunahan, menurut studi terbaru dari jurnal Science

Temuan tersebut berdasarkan studi yang dilakukan Moisés Expósito-Alonso dari Universitas California, Berkeley bekerja sama dengan tim internasional.

Baca juga: 

Evolusi cepat tanaman bisa terhambat panas ekstrem

Tanaman ubah susunan genetiknya dalam beberapa tahun

Selama ini peneliti bertanya-tanya bisakah tumbuhan mengimbangi perubahan iklim. Untuk mempelajarinya peneliti kemudian melakukan sebuah studi global.

Studi dilakukan dengan menciptakan jaringan GrENE dan menanam Arabidopsis thaliana di 30 wilayah berbeda, dilansir dari Earth, Senin (30/3/2026).

Wilayah-wilayah ini termasuk Eropa, Timur Tengah, dan Amerika Utara. Setiap lokasi memiliki beberapa kelompok tumbuhan yang tumbuh di bawah kondisi cuaca alami.

Pengaturan ini memungkinkan para ilmuwan untuk mengamati evolusi yang terjadi secara real-time, di berbagai iklim yang sangat berbeda.

Arabidopsis thaliana adalah tanaman kecil yang sering digunakan ilmuwan dalam penelitian. Tanaman ini tumbuh cepat dan memiliki genetika yang sederhana.

Ilustrasi tanaman Arabidopsis thaliana. Studi ungkap tanaman berevolusi cepat melawan iklim, tapi panas ekstrem tetap berisiko memicu kepunahan massal.Dok. Wikimedia Commons/Krzysztof Ziarnek, Kenraiz Ilustrasi tanaman Arabidopsis thaliana. Studi ungkap tanaman berevolusi cepat melawan iklim, tapi panas ekstrem tetap berisiko memicu kepunahan massal.

Dalam studi, peneliti menggunakan 231 varietas alami Arabidopsis thaliana yang berbeda. Mereka mencampur benih dan menanam semua strain tersebut bersama-sama.

Hal ini menciptakan populasi yang sangat beragam. Keragaman genetik tersebut penting karena memberi tanaman peluang yang lebih baik untuk beradaptasi.

Studi kemudian menunjukkan, tanaman mengubah susunan genetiknya hanya dalam beberapa tahun.

Penelitian ini juga menegaskan bahwa perubahan genetik bukanlah acak. Banyak perubahan mengikuti pola yang jelas terkait dengan iklim.

Baca juga:

Adaptasi tanaman 

Studi ungkap tanaman berevolusi cepat melawan iklim, tapi panas ekstrem tetap berisiko memicu kepunahan massal.Unsplash/huyphan2602 Studi ungkap tanaman berevolusi cepat melawan iklim, tapi panas ekstrem tetap berisiko memicu kepunahan massal.

Studi juga menunjukkan tanaman mampu beradaptasi dengan baik di banyak tempat, tapi tidak di semua lokasi. Di wilayah yang sangat panas, beberapa populasi tanaman gagal bertahan hidup.

Bukannya menghasilkan perubahan genetik yang bermanfaat, tanaman-tanaman ini justru menunjukkan perubahan yang acak dan akhirnya mati punah.

“Di lingkungan yang paling panas, yang mungkin paling menggambarkan kondisi iklim masa depan akibat pemanasan global, populasi dengan perubahan evolusi yang teratur dan terprediksi mampu bertahan hidup, sementara mereka yang mengalami perubahan genetik yang kacau justru punah,” terang Expósito-Alonso.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa populasi di iklim yang keras sering kali menyusut drastis. Populasi yang lebih kecil memiliki keragaman genetik yang lebih rendah sehingga membuat proses adaptasi menjadi jauh lebih sulit.

"Penelitian menunjukkan bahwa tanaman tumbuh paling baik di iklim yang serupa dengan tempat asal mereka. Tanaman dari daerah yang lebih hangat bertahan lebih baik di lokasi yang hangat, sementara tanaman lainnya tampak kesulitan.

Baca juga:

Pola ini mencerminkan adaptasi lokal, yang berarti spesies tersebut sudah membawa sifat genetik yang sesuai dengan lingkungan spesifik mereka.

Namun, studi ini juga mengungkapkan tren yang mengkhawatirkan. Beberapa tanaman dari daerah hangat justru tumbuh lebih baik di kondisi yang sedikit lebih sejuk.

Hal ini menunjukkan, perubahan iklim mungkin sudah bergerak lebih cepat daripada kemampuan adaptasi tanaman tersebut.

“Dengan pengetahuan dari tanaman Arabidopsis ini, kita bisa membuat perkiraan yang lebih akurat tentang spesies mana yang akan bertahan hidup di lokasi tertentu,” ujar Expósito-Alonso.

Hal itu dapat membantu melindungi spesies yang terancam punah dan menjadi panduan bagi upaya konservasi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BNPB Catat Banjir Rendam Sejumlah Wilayah di Awal April 2026
BNPB Catat Banjir Rendam Sejumlah Wilayah di Awal April 2026
Pemerintah
Studi Ungkap 70 Persen Area Konservasi Laut Terkontaminasi Limbah Cair
Studi Ungkap 70 Persen Area Konservasi Laut Terkontaminasi Limbah Cair
LSM/Figur
Inovasi Guru di Gayo Lues Jaga Hutan Lewat Penyulingan Atsiri
Inovasi Guru di Gayo Lues Jaga Hutan Lewat Penyulingan Atsiri
LSM/Figur
Danantara Siapkan Platform Investasi Energi Berbasis Sampah
Danantara Siapkan Platform Investasi Energi Berbasis Sampah
Pemerintah
Pertagas Inisiasi Sedekah Pohon, Tanam 4.300 Pohon di Sejumlah Wilayah
Pertagas Inisiasi Sedekah Pohon, Tanam 4.300 Pohon di Sejumlah Wilayah
BUMN
Ini Daftar Pemenang Proper Emas 2026, Ada Perusahaan Tambang hingga Semen
Ini Daftar Pemenang Proper Emas 2026, Ada Perusahaan Tambang hingga Semen
Pemerintah
Hari Nelayan 2026, KIARA Soroti Tekanan yang Dihadapi Nelayan Tradisional di Indonesia
Hari Nelayan 2026, KIARA Soroti Tekanan yang Dihadapi Nelayan Tradisional di Indonesia
LSM/Figur
Bekas Tambang Garam Batu Disulap Jadi Fasilitas PLTB, Turbin Angin Ubah Citra China
Bekas Tambang Garam Batu Disulap Jadi Fasilitas PLTB, Turbin Angin Ubah Citra China
Pemerintah
Negara-negara Eropa akan Pajaki Keuntungan Tak Terduga dari Perusahaan Energi
Negara-negara Eropa akan Pajaki Keuntungan Tak Terduga dari Perusahaan Energi
Pemerintah
Ketertelusuran akan Jadi Bagian Tak Terpisahkan dari Laporan ESG
Ketertelusuran akan Jadi Bagian Tak Terpisahkan dari Laporan ESG
Swasta
KLH Sanksi 67 Perusahaan yang Terbukti Perparah Banjir di Sumatera
KLH Sanksi 67 Perusahaan yang Terbukti Perparah Banjir di Sumatera
Pemerintah
Laporan ING: Asia Pasifik Dominasi Tren Keuangan Berkelanjutan
Laporan ING: Asia Pasifik Dominasi Tren Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Menteri LH: Pengelolaan Sampah Naik Jadi 26 Persen Dibanding 2024
Menteri LH: Pengelolaan Sampah Naik Jadi 26 Persen Dibanding 2024
Pemerintah
BNPB Siapkan 'Water Bombing' Hadapi Karhutla Selama Musim Kemarau
BNPB Siapkan "Water Bombing" Hadapi Karhutla Selama Musim Kemarau
Pemerintah
Menurut BMKG, Curah Hujan 2026 akan Lebih Rendah dari Curah Hujan 30 Tahun Terakhir
Menurut BMKG, Curah Hujan 2026 akan Lebih Rendah dari Curah Hujan 30 Tahun Terakhir
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau