KOMPAS.com - Tumbuhan dapat berevolusi lebih cepat dari perkiraan, tapi panas ekstrem dapat mendorong mereka menuju kepunahan, menurut studi terbaru dari jurnal Science.
Temuan tersebut berdasarkan studi yang dilakukan Moisés Expósito-Alonso dari Universitas California, Berkeley bekerja sama dengan tim internasional.
Baca juga:
Selama ini peneliti bertanya-tanya bisakah tumbuhan mengimbangi perubahan iklim. Untuk mempelajarinya peneliti kemudian melakukan sebuah studi global.
Studi dilakukan dengan menciptakan jaringan GrENE dan menanam Arabidopsis thaliana di 30 wilayah berbeda, dilansir dari Earth, Senin (30/3/2026).
Wilayah-wilayah ini termasuk Eropa, Timur Tengah, dan Amerika Utara. Setiap lokasi memiliki beberapa kelompok tumbuhan yang tumbuh di bawah kondisi cuaca alami.
Pengaturan ini memungkinkan para ilmuwan untuk mengamati evolusi yang terjadi secara real-time, di berbagai iklim yang sangat berbeda.
Arabidopsis thaliana adalah tanaman kecil yang sering digunakan ilmuwan dalam penelitian. Tanaman ini tumbuh cepat dan memiliki genetika yang sederhana.
Ilustrasi tanaman Arabidopsis thaliana. Studi ungkap tanaman berevolusi cepat melawan iklim, tapi panas ekstrem tetap berisiko memicu kepunahan massal.Dalam studi, peneliti menggunakan 231 varietas alami Arabidopsis thaliana yang berbeda. Mereka mencampur benih dan menanam semua strain tersebut bersama-sama.
Hal ini menciptakan populasi yang sangat beragam. Keragaman genetik tersebut penting karena memberi tanaman peluang yang lebih baik untuk beradaptasi.
Studi kemudian menunjukkan, tanaman mengubah susunan genetiknya hanya dalam beberapa tahun.
Penelitian ini juga menegaskan bahwa perubahan genetik bukanlah acak. Banyak perubahan mengikuti pola yang jelas terkait dengan iklim.
Baca juga:
Studi ungkap tanaman berevolusi cepat melawan iklim, tapi panas ekstrem tetap berisiko memicu kepunahan massal.Studi juga menunjukkan tanaman mampu beradaptasi dengan baik di banyak tempat, tapi tidak di semua lokasi. Di wilayah yang sangat panas, beberapa populasi tanaman gagal bertahan hidup.
Bukannya menghasilkan perubahan genetik yang bermanfaat, tanaman-tanaman ini justru menunjukkan perubahan yang acak dan akhirnya mati punah.
“Di lingkungan yang paling panas, yang mungkin paling menggambarkan kondisi iklim masa depan akibat pemanasan global, populasi dengan perubahan evolusi yang teratur dan terprediksi mampu bertahan hidup, sementara mereka yang mengalami perubahan genetik yang kacau justru punah,” terang Expósito-Alonso.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa populasi di iklim yang keras sering kali menyusut drastis. Populasi yang lebih kecil memiliki keragaman genetik yang lebih rendah sehingga membuat proses adaptasi menjadi jauh lebih sulit.
"Penelitian menunjukkan bahwa tanaman tumbuh paling baik di iklim yang serupa dengan tempat asal mereka. Tanaman dari daerah yang lebih hangat bertahan lebih baik di lokasi yang hangat, sementara tanaman lainnya tampak kesulitan.
Baca juga:
Pola ini mencerminkan adaptasi lokal, yang berarti spesies tersebut sudah membawa sifat genetik yang sesuai dengan lingkungan spesifik mereka.
Namun, studi ini juga mengungkapkan tren yang mengkhawatirkan. Beberapa tanaman dari daerah hangat justru tumbuh lebih baik di kondisi yang sedikit lebih sejuk.
Hal ini menunjukkan, perubahan iklim mungkin sudah bergerak lebih cepat daripada kemampuan adaptasi tanaman tersebut.
“Dengan pengetahuan dari tanaman Arabidopsis ini, kita bisa membuat perkiraan yang lebih akurat tentang spesies mana yang akan bertahan hidup di lokasi tertentu,” ujar Expósito-Alonso.
Hal itu dapat membantu melindungi spesies yang terancam punah dan menjadi panduan bagi upaya konservasi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya