KOMPAS.com-Terlepas dari volatilitas politik dan ekonomi global, keuangan berkelanjutan di Asia Pasifik tetap stabil selama bertahun-tahun.
Tren tersebut diperkirakan oleh lembaga keuangan global ING juga tetap akan berlanjut pada tahun 2026.
Melansir Eco Business, Senin (6/4/2026) ING menyatakan dalam laporan terbarunya bahwa wilayah Asia Pasifik kini menjadi penyumbang utama bagi keuangan berkelanjutan dunia, di saat pasar lain justru menunjukkan tren yang tidak menentu.
Pada tahun 2025, wilayah Asia Pasifik mencatatkan pertumbuhan tahunan yang kuat pada instrumen obligasi hijau (green bonds) dan pinjaman hijau (green loans), meskipun pinjaman berbasis keberlanjutan dan obligasi transisi sedikit mengalami penurunan.
Menurut ING, tren ini sebagian besar didorong oleh sektor korporasi dan lembaga keuangan. Di sisi lain, aktivitas dari pemerintah, perusahaan supranasional, serta dana kekayaan negara (sovereign funds) dan agensi justru mengalami sedikit penurunan.
Baca juga: Wacana Konversi 120 Juta Motor Listrik Berisiko Gagal dan Bebankan Keuangan Negara
“Di tahun 2026, kami memperkirakan pertumbuhan yang lebih besar dari Asia Pasifik dan potensi peningkatan penerbitan obligasi transisi seiring dengan terus berkembangnya kerangka kebijakan di seluruh wilayah tersebut,” ujar Martijn Hoogerwerf, Kepala Sustainable Solutions Group ING di Asia Pasifik.
Laporan menambahkan bahwa wilayah ini berpotensi melihat kebangkitan kembali utang obligasi transisi tahun ini.
Data ING menunjukkan bahwa pada tahun 2025, volume keuangan berkelanjutan di Asia Pasifik mencapai rekor tertinggi berkat banyaknya kesepakatan bisnis yang terjadi.
Hal ini didorong oleh kinerja kuat di sembilan bulan pertama tahun tersebut, di mana ING berperan penting sebagai koordinator utama dalam mengatur sebagian besar transaksi keuangan berkelanjutan tersebut.
"Klien-klien ING di kawasan Asia Pasifik lebih 'memprioritaskan solusi pembiayaan hijau dan transisi yang praktis serta layak secara finansial. Ini menunjukkan betapa pentingnya keahlian dalam menyusun struktur pembiayaan untuk mewujudkan jalur dekarbonisasi yang kredibel," ujar Anand Sachdev, Country Manager ING Singapura sekaligus Head of South & Southeast Asia."
Sachdev menambahkan bahwa kuatnya pasar keuangan berkelanjutan di Asia Pasifik semakin didorong oleh kebutuhan nyata di sektor-sektor seperti energi, infrastruktur, dan kapasitas digital.
Secara global, total penerbitan instrumen keuangan berkelanjutan mencapai 1,557 triliun dolar AS atau sekitar Rp 26.587 triliun pada tahun 2025. Angka tersebut sekitar 6,7 persen lebih rendah dibandingkan perolehan tahun 2024 yang sebesar 1,669 triliun dolar AS atau sekitar Rp 28.500 triliun.
Untuk tahun 2026, ING memperkirakan angka tersebut akan kembali naik dengan total penerbitan mencapai sekitar 1,621 triliun dolar AS atau sekitar Rp 27.680 triliun.
ING mengungkapkan pula bahwa meskipun wilayah Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA) kemungkinan tetap menjadi sumber keuangan berkelanjutan terbesar di tahun 2026, pertumbuhannya lebih didorong oleh pemerintah dan lembaga keuangan, sementara sektor perusahaan justru menurun cukup drastis.
Baca juga: Pasar Keuangan Berkelanjutan Diprediksi Tumbuh Dua Kali Lipat pada 2031
Hal ini sebagian disebabkan karena perusahaan lebih memilih beralih ke utang konvensional yang aksesnya lebih mudah dan tidak terikat dengan aturan lingkungan, sosial, maupun tata kelola (ESG).
Laporan juga menambahkan, wilayah EMEA sebenarnya sudah menjadi pasar yang matang bagi perusahaan dengan aturan ESG, namun semangatnya kini mulai menurun. Utang berbasis keberlanjutan (sustainability-linked debt) menjadi titik terlemah saat ini.
Sebaliknya, penerbitan keuangan berkelanjutan di Eropa Tengah dan Timur sedang melonjak tajam. ING mencatat pertumbuhan sebesar 40 persen pada tahun 2025 yang dipimpin oleh pemerintah dan perusahaan negara.
Meskipun ada perubahan tren di berbagai wilayah dan jenis produk, ING tetap optimis akan pertumbuhan sektor ini di masa depan.
"Awal tahun ini sudah cukup kuat dengan dana sebesar 257 miliar dolar AS atau sekitar Rp 4.388 triliun yang masuk ke pasar dalam dua bulan pertama, meskipun pada bulan Maret sempat melambat akibat ketidakstabilan pasar yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah," tulis laporan tersebut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya