Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bapanas Ingatkan Ancaman Krisis Pangan di Balik Kelangkaan BBM

Kompas.com, 31 Maret 2026, 11:33 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber CGTN

KOMPAS.com - Risiko kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia akibat ketegangan geopolitik akibat konflik Amerika Serikat dan Israel lawan Iran dapat memicu krisis pangan.

Direktur Pengendali Kerawanan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Sri Nuryanti mengingatkan ancaman krisis pangan di Indonesia yang masih tersembunyi di balik perang tersebut.

Baca juga:

Hingga saat ini, potensi krisis pangan masih belum tersingkap, mengingat kenaikan harga BBM masih belum dideklarasikan. Jika harga BBM sudah resmi naik, daya beli masyarakat akan anjlok dan jangkauan logistik akan semakin sempit.

"Pemanfaatannya akan lebih minim, bermakna bahwa bahan bakar ini, sumber energi ini terbatas yang akan berdampak tidak langsung kepada potensi krisis pangan," ujar Sri dalam webinar Diseminasi Inovasi Pangan Tahan Iklim Ekstrem sebagai Strategi Ketahanan Pangan di Wilayah Rawan Bencana, Senin (30/3/2026).

Ancaman krisis pangan di balik kelangkaan BBM

Kesadaran masyarakat Indonesia dinilai masih rendah

Ada ancaman krisis pangan di balik konflik AS-Israel vs Iran. Jika harga BBM naik, daya beli anjlok dan distribusi logistik pangan terancam.SHUTTERSTOCK Ada ancaman krisis pangan di balik konflik AS-Israel vs Iran. Jika harga BBM naik, daya beli anjlok dan distribusi logistik pangan terancam.

Indonesia saat ini sudah berpotensi mengalami kelangkaan BBM yang berisiko menimbulkan krisis pangan jika dampak secara tidak langsung ini tidak segera ditangani dalam jangka menengah dan panjang.

Negara-negara di Asia Tenggara lainnya sudah melakukan berbagai cara untuk mengantisipasi kelangkaan tersebut. Filipina, misalnya, sudah mendeklarasikan darurat energi nasional dan pekerja memilih untuk berjalan kaki ke kantor, dilansir dari CGTN, Selasa (31/3/2026).

Namun, kesadaran masyarakat Indonesia dinilai masih rendah akan ancaman krisis pangan sebagai dampak tidak langsung kelangkaan BBM.

"Tampaknya, orang (Indonesia) masih belum melihat itu sebagai suatu ancaman, mudik masih penuh, jalan tol masih macet. Nah, ini kami imbau agar kita semua aware (waspada) telah ada ancaman yang diindikasikan dengan kelangkaan bahan bakar. Memang bahan bakarnya sudah ada, begitu harga naik nanti tanggal 1 (April 2026), apakah ada naik atau tidak, ya kita lihat semua," jelas Sri.

Berdasarkan Pasal 42 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi, kriteria krisis pangan terdiri dari lonjakan harga, serta penurunan ketersediaan dan konsumsi makanan pokok.

Bapanas mengimbau pemerintah daerah di tingkat provinsi dan kabupaten/kota untuk segera melakukan rapid assessment (penilaian cepat). Studi cepat juga diperlukan untuk melihat dampak kalau suatu wilayah itu mengalami bencana.

"Kalau biasanya makan pangan pokok bukan karena diet, tiga kali sehari lalu menjadi dua kali sehari atau bahkan hanya satu kali sehari, bermakna bahwa ada potensi krisis pangan di sana karena merupakan salah satu kriterianya," kata Sri.

Bapanas sudah menerbitkan Perbadan 19 Tahun 2023 tentang Kesiapsiagaan Krisis Pangan, yang mana meminta pemerintah daerah memahami tiga kriteria di atas dan bersiap dengan kedaruratan.

Bapanas juga meminta Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) membantu mengadvokasi pemerintah daerah tentang kesiapsiagaan krisis pangan, termasuk terkait potensi ganguan produksi dan konsumsi pangan yang dipicu krisis iklim.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Swasta
Prakiraan Cuaca  yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Prakiraan Cuaca yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Pemerintah
Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
LSM/Figur
Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Pemerintah
Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Pemerintah
Tekanan Ekonomi Global Bikin Perusahaan Kurangi Inisiatif Keberlanjutan
Tekanan Ekonomi Global Bikin Perusahaan Kurangi Inisiatif Keberlanjutan
LSM/Figur
Inggris Kucurkan Rp 115 Miliar untuk Krematorium agar Beralih ke EBT
Inggris Kucurkan Rp 115 Miliar untuk Krematorium agar Beralih ke EBT
Pemerintah
Jelang Penerapan EUDR, Sepertiga Perusahaan Masih Minim Komitmen Deforestasi
Jelang Penerapan EUDR, Sepertiga Perusahaan Masih Minim Komitmen Deforestasi
Pemerintah
Danantara Kaji Wacana Pembangunan PSEL di 31 Wilayah Aglomerasi
Danantara Kaji Wacana Pembangunan PSEL di 31 Wilayah Aglomerasi
Pemerintah
Microsoft Stop Sementara Pembelian Carbon Removal
Microsoft Stop Sementara Pembelian Carbon Removal
Pemerintah
KLH Bakal Tetapkan Tersangka Kasus Longsor Bantargebang yang Tewaskan 7 Orang
KLH Bakal Tetapkan Tersangka Kasus Longsor Bantargebang yang Tewaskan 7 Orang
Pemerintah
Deloitte: Physical AI Diprediksi Ubah Operasi Bisnis dalam Tiga Tahun
Deloitte: Physical AI Diprediksi Ubah Operasi Bisnis dalam Tiga Tahun
Swasta
MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung
MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung
Pemerintah
Tambang Batu Bara Kini Jadi Sumber Kerentanan, Daerah Penghasil Harus Beralih Rupa
Tambang Batu Bara Kini Jadi Sumber Kerentanan, Daerah Penghasil Harus Beralih Rupa
LSM/Figur
'Blue Carbon' Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
"Blue Carbon" Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau