KOMPAS.com – Tekanan terhadap rantai pasok global kembali menjadi perhatian seiring kenaikan harga sejumlah bahan baku industri.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa dinamika global tidak hanya berdampak pada perdagangan internasional, tetapi juga langsung menyentuh operasional pelaku usaha di dalam negeri.
Kenaikan harga plastik, misalnya, menunjukkan bahwa gangguan pasokan dapat menjalar ke berbagai sektor. Plastik yang selama ini kerap dilihat sebagai isu lingkungan, kini juga menegaskan posisinya sebagai komponen penting dalam struktur biaya industri.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menyebut bahwa lonjakan harga tersebut dipicu oleh pasokan bahan baku yang terganggu. Situasi ini berdampak pada distribusi dan ketersediaan di pasar yang pada akhirnya mulai dirasakan oleh pelaku industri melalui peningkatan biaya produksi.
“Hampir seluruh pedagang di berbagai tempat mengeluhkan harga plastik yang melonjak dalam beberapa hari terakhir. Saya dengar (harga) biji plastiknya juga naiknya luar biasa,” ujar Zulhas sebagaimana diberitakan Kompas.com, Sabtu (28/3/2026).
Baca juga: Pesan Tersembunyi di Balik Kenaikan Harga Plastik
Dalam konteks ini, kenaikan harga plastik bukan sekadar isu sektoral, melainkan cerminan kerentanan yang lebih luas dalam sistem industri yang masih bergantung pada bahan baku tertentu. Ketergantungan yang tinggi terhadap material baru (virgin material) dinilai membuat industri lebih rentan terhadap fluktuasi global.
Tekanan tersebut juga dirasakan oleh pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). Kenaikan harga bahan baku kemasan, misalnya, berpotensi menggerus margin usaha jika tidak diimbangi dengan penyesuaian harga jual. Namun, langkah ini tidak selalu mudah dilakukan karena berkaitan langsung dengan daya saing produk di pasar.
Situasi itu akhirnya mendorong pelaku industri untuk mulai mengkaji ulang strategi operasional mereka. Ketahanan (resilience) menjadi kata kunci. Sebab, upaya ini tidak hanya dilakukan guna menjaga keberlanjutan bisnis, tetapi juga respons ketidakpastian yang semakin sering terjadi.
Sejumlah pelaku industri mulai mengkaji ulang strategi operasional mereka. Diversifikasi sumber bahan baku, efisiensi penggunaan material, hingga pengembangan model produksi yang lebih adaptif menjadi beberapa langkah yang mulai ditempuh.
Baca juga: Plastik Langka, Taiwan Fokus Stabilkan Pasokan dan Dorong Penggunaan kembali
Selain itu, pendekatan berbasis efisiensi sumber daya juga mulai mendapat perhatian. Model yang mengedepankan penggunaan ulang (reuse) dan pengisian kembali (refill) dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku baru.
Perubahan pendekatan itu mulai terlihat di sejumlah sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap kemasan dan distribusi berbasis material. Beberapa pelaku usaha mengembangkan sistem operasional yang lebih efisien sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan di tengah ketidakpastian.
Di sektor air minum, misalnya, model distribusi berbasis isi ulang menjadi salah satu pendekatan yang mulai berkembang. Skema ini dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku baru sekaligus menjaga stabilitas operasional. Hal ini pula yang dilakukan penyedia layanan air minum isi ulang Air Minum Biru.
Baca juga: Dampak Konflik AS-Israel Vs Iran, Industri Plastik Asia Terguncang
Direktur PT Biru Semesta Abadi (Air Minum Biru) Yantje Wongso mengatakan bahwa ketahanan sistem menjadi faktor penting dalam menghadapi dinamika tersebut.
Menurutnya, pendekatan operasional yang tidak sepenuhnya bergantung pada produksi material baru dapat membantu perusahaan lebih adaptif.
“Dalam kondisi seperti sekarang, sistem yang efisien dalam penggunaan sumber daya menjadi penting. Sejak awal, kami mengembangkan model berbasis isi ulang untuk mengurangi ketergantungan pada produksi material baru dan lebih adaptif terhadap perubahan di rantai pasok,” ujar Yantje dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (8/4/2026).
Yantje memaparkan, sistem yang efisien tidak hanya berdampak pada aspek lingkungan, tetapi juga menciptakan stabilitas dalam operasional, terutama ketika terjadi fluktuasi pasokan dan harga bahan baku.
“Ketika pasokan dan harga (bahan baku) menjadi tidak pasti, sistem yang lebih efisien dalam penggunaan sumber daya akan menjadi keunggulan. Reuse dan refill bukan hanya alternatif, melainkan bagian dari solusi jangka panjang dengan tetap mengedepankan standar kebersihan dan keamanan,” tegas Yantje.
Baca juga: Bersiap untuk Kelangkaan Air, Korsel Kembangkan Industri Desalinasi
Ke depan, pendekatan yang lebih sirkular diperkirakan akan semakin relevan. Optimalisasi penggunaan ulang komponen dalam proses produksi dinilai dapat menjadi bagian dari strategi untuk menjaga efisiensi sekaligus meningkatkan ketahanan sistem.
Di tengah tekanan global yang masih berlangsung, pelaku industri didorong untuk tidak hanya berfokus pada efisiensi jangka pendek, tetapi juga membangun sistem yang lebih tangguh dan adaptif. Upaya ini menjadi penting untuk memastikan keberlanjutan operasional di tengah dinamika yang semakin kompleks.
Dengan demikian, tekanan pada rantai pasok dapat menjadi momentum bagi industri untuk bertransformasi, dari yang semula bergantung pada pola produksi konvensional, menuju sistem yang lebih efisien, resilien, dan berkelanjutan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya