Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Diana Putri
Dosen

Diana Putri adalah dosen Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Andalas Kampus III Dharmasraya dengan bidang keahlian Penyakit tanaman, khususnya serta pemanfaatan bakteri dan jamur endofit sebagai agen pengendali hayati dan pemacu pertumbuhan tanaman

Alam Tidak Salah, Kita yang Terlambat Membaca Tanda

Kompas.com, 9 April 2026, 13:30 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

LANGIT mendung di luar musim, hujan turun saat seharusnya kemarau, dan panas terasa lebih menyengat dari biasanya.

Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya perubahan cuaca biasa. Namun bagi petani, nelayan, dan masyarakat yang bergantung langsung pada alam, ini adalah tanda—tanda yang sering kali datang lebih cepat daripada kemampuan kita untuk memahaminya.

Dulu, alam seperti memiliki ritme yang dapat diprediksi. Petani menanam berdasarkan musim, nelayan melaut mengikuti arah angin, dan masyarakat hidup selaras dengan siklus yang telah berlangsung turun-temurun.

Kini, ritme itu mulai kacau. Kalender musim yang dulu menjadi pegangan, perlahan kehilangan relevansinya.

Baca juga: Perempuan, Pekarangan, dan Masa Depan Pangan Indonesia

Dalam kajian Ilmu Perubahan Iklim, kondisi ini merupakan dampak nyata dari perubahan sistem iklim global.

Suhu bumi meningkat, pola hujan bergeser, dan kejadian ekstrem seperti banjir serta kekeringan terjadi lebih sering.

Indonesia, sebagai negara agraris dan kepulauan, menjadi salah satu wilayah yang paling rentan terhadap perubahan ini.

Di Sumatera Barat, misalnya, petani mulai menghadapi ketidakpastian yang semakin besar.

Hujan yang datang tidak pada waktunya menyebabkan benih membusuk sebelum sempat tumbuh.

Di sisi lain, kemarau panjang membuat tanah mengering dan retak, menghambat pertumbuhan tanaman. Tidak sedikit petani yang mengalami gagal panen, bukan karena kurangnya pengetahuan, tetapi karena alam yang tak lagi mudah dibaca.

Fenomena ini juga berdampak pada meningkatnya serangan penyakit tanaman.

Dalam perspektif Perlindungan Tanaman, perubahan suhu dan kelembapan menciptakan kondisi ideal bagi patogen untuk berkembang.

Jamur, bakteri, dan hama serangga menjadi lebih agresif, menyerang tanaman dalam skala yang lebih luas dan intensitas yang lebih tinggi.

Namun, menyalahkan alam bukanlah jawaban. Alam tidak pernah keliru. Ia hanya bereaksi terhadap apa yang dilakukan manusia.

Penebangan hutan tanpa kendali, alih fungsi lahan, serta penggunaan bahan kimia berlebihan telah merusak keseimbangan yang selama ini terjaga.

Kita memaksa alam bekerja di luar batasnya, lalu terkejut ketika ia menunjukkan perubahan.

Ironisnya, tanda-tanda itu sebenarnya sudah lama muncul. Banjir yang semakin sering, suhu yang terus meningkat, hingga berkurangnya keanekaragaman hayati adalah sinyal yang jelas.

Sayangnya, respons yang diberikan sering kali terlambat dan tidak menyentuh akar persoalan.

Padahal, solusi bukan sesuatu yang mustahil. Di sektor pertanian, pendekatan yang lebih berkelanjutan dapat menjadi jalan keluar.

Baca juga: Perubahan Iklim Melahirkan Beban Berlapis Perempuan Desa

Penggunaan agen hayati untuk mengendalikan penyakit, penerapan sistem pertanian ramah lingkungan, serta pengelolaan air yang lebih efisien adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan.

Selain itu, penguatan sistem peringatan dini berbasis data iklim juga dapat membantu petani dalam mengambil keputusan.

Lebih dari itu, yang dibutuhkan adalah perubahan cara pandang. Alam bukan sekadar sumber daya yang bisa dieksploitasi tanpa batas, melainkan sistem yang harus dijaga keseimbangannya.

Kesadaran ini perlu dibangun tidak hanya di tingkat individu, tetapi juga dalam kebijakan pembangunan.

Pemerintah memiliki peran penting dalam memastikan bahwa pembangunan tidak mengorbankan lingkungan.

Investasi pada energi terbarukan, perlindungan hutan, serta regulasi yang ketat terhadap aktivitas yang merusak lingkungan harus menjadi prioritas.

Tanpa itu, upaya yang dilakukan di tingkat masyarakat akan sulit memberikan dampak yang signifikan.

Pada akhirnya, alam selalu berbicara. Ia tidak menggunakan kata-kata, tetapi tanda. Persoalannya, apakah kita mau mendengarkan?

Keterlambatan kita dalam membaca tanda-tanda alam bukan hanya soal kurangnya informasi, tetapi juga soal pilihan.

Baca juga: Belajar Toleransi dari Luka Teluknaga

Pilihan untuk mengabaikan atau peduli, untuk menunda atau bertindak. Dan seperti yang kita lihat hari ini, setiap penundaan selalu datang dengan konsekuensi.

Alam tidak salah. Ia hanya menunjukkan apa yang sedang terjadi. Kitalah yang sering kali terlambat memahami, bahkan ketika tanda-tandanya sudah begitu jelas di depan mata.

Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin kita akan sampai pada titik di mana tanda-tanda itu berubah menjadi krisis yang tak lagi bisa dihindari.

Masih ada waktu untuk berubah. Namun waktu itu tidak akan menunggu.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau