Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
LANGIT mendung di luar musim, hujan turun saat seharusnya kemarau, dan panas terasa lebih menyengat dari biasanya.
Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya perubahan cuaca biasa. Namun bagi petani, nelayan, dan masyarakat yang bergantung langsung pada alam, ini adalah tanda—tanda yang sering kali datang lebih cepat daripada kemampuan kita untuk memahaminya.
Dulu, alam seperti memiliki ritme yang dapat diprediksi. Petani menanam berdasarkan musim, nelayan melaut mengikuti arah angin, dan masyarakat hidup selaras dengan siklus yang telah berlangsung turun-temurun.
Kini, ritme itu mulai kacau. Kalender musim yang dulu menjadi pegangan, perlahan kehilangan relevansinya.
Baca juga: Perempuan, Pekarangan, dan Masa Depan Pangan Indonesia
Dalam kajian Ilmu Perubahan Iklim, kondisi ini merupakan dampak nyata dari perubahan sistem iklim global.
Suhu bumi meningkat, pola hujan bergeser, dan kejadian ekstrem seperti banjir serta kekeringan terjadi lebih sering.
Indonesia, sebagai negara agraris dan kepulauan, menjadi salah satu wilayah yang paling rentan terhadap perubahan ini.
Di Sumatera Barat, misalnya, petani mulai menghadapi ketidakpastian yang semakin besar.
Hujan yang datang tidak pada waktunya menyebabkan benih membusuk sebelum sempat tumbuh.
Di sisi lain, kemarau panjang membuat tanah mengering dan retak, menghambat pertumbuhan tanaman. Tidak sedikit petani yang mengalami gagal panen, bukan karena kurangnya pengetahuan, tetapi karena alam yang tak lagi mudah dibaca.
Fenomena ini juga berdampak pada meningkatnya serangan penyakit tanaman.
Dalam perspektif Perlindungan Tanaman, perubahan suhu dan kelembapan menciptakan kondisi ideal bagi patogen untuk berkembang.
Jamur, bakteri, dan hama serangga menjadi lebih agresif, menyerang tanaman dalam skala yang lebih luas dan intensitas yang lebih tinggi.
Namun, menyalahkan alam bukanlah jawaban. Alam tidak pernah keliru. Ia hanya bereaksi terhadap apa yang dilakukan manusia.
Penebangan hutan tanpa kendali, alih fungsi lahan, serta penggunaan bahan kimia berlebihan telah merusak keseimbangan yang selama ini terjaga.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya