Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga

Kompas.com, 10 April 2026, 10:17 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

TASIKMALAYA, KOMPAS.com - Mulanya, Iim Suherman (51 tahun) menjual manggis dari pohon liar di lahan warisan orang tuanya. Setiap berhasil meraup keuntungan banyak dari manggis, Iim berinvestasi dengan membeli lahan.

Kini, Iim sudah mempunyai enam titik lahan kebun yang terpencar-pencar di Kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya, dengan total lebih dari 400 pohon manggis. Iim membeli lahan kebun yang sudah ada banyak pohon manggisnya.

Kebunnya rerata sudah berumur 50 tahun dan masih akan terus menghasilkan buah sampai beberapa dekade ke depan. Iim dan warga lainnya tidak melakukan penanaman pohon manggis secara khusus di kebun mereka, meski di sana saat ini sudah ada pembibitan dan hasilnya sudah dikirim ke berbagai daerah di Jawa dan Sumatera.

Baca juga: Krisis Iklim Ganggu Siklus Produksi Manggis, Hasil Panen Petani Turun

‎"Tidak terlalu banyak 'hama' di sini. Paling ya seperti ini, jamur alga gitu kalau terlalu banyak hujan pasti itu, tapi, enggak merusak buah. Kelelawar enggak (ada), tupai yang makan buah yang enak, paling manis, tapi enggak terlalu merusak," ujar Iim di Kabupaten Tasikmalaya, Rabu (8/4/2026).

Sebelum merawat kebun manggis, Iim bekerja sebagai perajut untuk baju yang diekspor ke China. Iim beralih mengurus kebun manggis karena pendapatannya bisa lebih tinggi dan merasa sudah enggak cocok kerja sebagai perajut.

Jika belum musim panen, Iim mengelola kebunnya, serta ikut mendatangkan mengemas manggis dari luar Tasikmalaya dan bekerja pada bagian pengemasan perusahaan eksportir buah tropis Indonesia, Java Fresh.

‎"Dulu jual sendiri, biasanya saya borongkan, ijonkan satu musim, wah beda banget (pendapatannya dengan sekarang). Kalau diijonkan per tahun kontraknya, satu musim, misalkan ada 10 pohon mau ditebas berapa gitu enggak mau repot saya saat itu. Sekarang sudah bekerja dengan Java Fresh lebih dari enam tahun, mending ini (juga) daripada bikin baju," tutur Iim.

‎Iim juga menanam pisang, singkong, dan talas untuk mengisi lahan kosong di sekitar pohon manggis. Hampir semua buah manggis dari kebun Iim diserap Java Fresh. ‎

Buah manggis yang akan diekspor Java Fresh ke supermarket di Jerman.Kompas.com/Manda Firmansyah Buah manggis yang akan diekspor Java Fresh ke supermarket di Jerman.

‎Diekspor ke Eropa

Chief Marketing Officer Java Fresh, Swasti Adicita Karim menyebut, sekitar 80 persen buah manggis dari kebun Iim dan warga sekitarnya berkualitas ekspor.

Java Fresh membeli manggis langsung dari petani, yang kebanyakan di daerah pelosok, dan mengirim sekitar 200-250 ton manggis ke 25 negara tujuan ekspor setiap tahunnya, dengan sebagian besar pasarnya di Eropa. ‎Java Fresh menjual satu buah manggis di Eropa dengan harga 3 Euro atau setara Rp 59.790.

"Jadi, saat kami mencoba masuk ke market di Eropa, mereka (konsumen) sudah tahu 'oh manggis tuh buah yang ada di muka bumi ini' kurang lebih itu, tetapi enggak tahu itu dari Indonesia. Selama ini, mereka cuma dapat dari Malaysia, Thailand, dan Vietnam," tutur Swasti.

Baca juga: Lestari Summit & Awards 2025: Buah-buahan Lokal dan Coffee Cup Gratis untuk Peserta

Dari sisi pembeli Eropa, nilai tambah terpenting adalah bisa memperoleh pasokan buah manggis sepanjang tahun. Konsumen Eropa menginginkan buah manggis berukuran sedang, berbeda dengan Timur Tengah yang menyukai lebih kecil darinya dan China justru harus semakin besar.

"Jadi mereka nggak perlu ganti-ganti supplier karena ibaratnya ibaratnya kalau ke supermarket kita tahu ketika mau beli mangis, kita mau selalu dan selalu ada gitu, terlepas dari ya mereka tutup mata lah mau musimnya kayak gimana gitu ya," ucapnya.

Keunggulan Manggis dari Indonesia

Menurut Swasti, Java Fresh mengoptimalkan keuntungan posisi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar, dengan memasok buah manggis berpindah-pindah secara bergantian mengikuti musim panen dari Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, sampai Sumatera.

Eropa juga menetapkan regulasi yang sangat ketat untuk batas residu maksimum (MRL) bagi produk buah ekspor. Oleh karena itu, Java Fresh harus memastikan manggisnya diperoleh dari kebun yang dikelola dengan cara 'natural' atau tanpa menggunakan pestisida kimia.

Untuk meyakinkan pembeli-pembeli Eropa, Java Fresh harus konsisten dalam menjaga kualitas dan kuantitas dari produk, dengan grading system, di mana sebagian kecil buah manggis yang tidak lolos dijual di pasar domestik.

Di sisi lain, agrikultur negara-negara tetangga pesaing Indonesia sudah terindustrialisasi yang terbiasa dengan pemakaian pestisida kimia dalam jumlah besar.

"Nah itu yang jadi halangan mereka masuk ke Eropa karena ketika mereka ketahuan ada mahal sekali penaltinya gitu, baik untuk buyer-nya maupun untuk supplier-nya. Nah itu yang beruntung kita ada di tanah yang sangat subur ini ya jadi kami bisa menyuplai dengan cara yang sangat natural gitu dan itu tidak menjadi penghalang," ujar Swasti.

Tempat untuk membuat kompos di kebun Iim Suherman di Tasikmalaya pada Rabu (8/4/2026). Tempat pengelolaan kompos untuk mengelola manggis yang tidak layak untuk diekspor dan dijual di pasar domestik, sampah kulit manggis, sampai gulma hasil penyiangan.Kompas.com/Manda Firmansyah Tempat untuk membuat kompos di kebun Iim Suherman di Tasikmalaya pada Rabu (8/4/2026). Tempat pengelolaan kompos untuk mengelola manggis yang tidak layak untuk diekspor dan dijual di pasar domestik, sampah kulit manggis, sampai gulma hasil penyiangan.

Untuk menjawab tuntutan ketertelusuran kebun manggis, Java Fresh mengantongi sertifikasi Global Good Agricultural Practices (Global GAP) dan Global GAP Risk Assessment on Social Practice (GRASP). Awalnya, Java Fresh hanya melakukan sertifkasi Global GAP yang mengharuskannya ikut dalam menangani pemupukan, pemetikan, dan pengemasan manggis atau buah-buah ekspor lainnya.

Baca juga: 11 Manfaat Kesehatan Manggis, Buah Lezat yang Kaya Manfaat

Seiring waktu, Java Fresh juga berupaya menjawab ketertelusuran dari aspek sosialnya — seperti tidak mengeksploitasi pekerja anak atau berbagai hal lain terkait memperhatikan kesejahteraan pekerja —, yang akhirnya juga melakukan sertifikasi GRASP.

"Sertifikat-sertifikat tadi yang membuktikan kalau pupuk yang kami pakai itu organik dan tidak mengeksploitasi anak kecil, disuruh kerja sampai bolos sekolah misalnya," tutur Swasti.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau