Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan

Kompas.com, 11 April 2026, 12:05 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Chairman Indonesia Carbon Trade Association (IDCTA) Riza Suarga membantah anggapan bahwa perdagangan karbon selama ini hanya menguntungkan perusahaan besar, sementara masyarakat pengelola hutan hanya menjadi penonton.

Menurut dia, bisnis perdagangan karbon justru memiliki kompleksitas tinggi dan tidak mudah dijalankan, bahkan oleh pelaku usaha berskala besar.

“Saya sudah berdarah-darah di dalam perdagangan karbon, konglomerat sekalipun yang terjun di perdagangan karbon itu banyak yang enggak sabaran,” ujar Riza dalam webinar Beyond the Green Hype; Membedah Kompleksitas, Paradoks, dan Keadilan dalam Ekosistem Pasar Karbon Indonesia, Jumat (10/4/2026).

Baca juga: Pemerintah Jajaki Pendanaan dari Perdagangan Karbon untuk Biayai Taman Nasional

Ia menegaskan, keuntungan dalam perdagangan karbon tidak bisa diraih secara instan atau dengan pendekatan setengah hati. Pelaku usaha perlu memiliki komitmen jangka panjang, termasuk dalam menjaga integritas proyek dan pengelolaan lingkungan.

Integritas jadi Kunci

Riza menjelaskan, perdagangan karbon sangat bergantung pada kepercayaan, sehingga transparansi menjadi aspek krusial. Ia mengingatkan potensi penyimpangan, seperti penghitungan ganda kredit karbon (*double counting*), dapat merusak kredibilitas pasar.

“Ini barang tidak terlihat, tetapi karena disertifikasi, deklarasinya harus jujur. Kalau tidak, bisa terjadi double scamming,” ujarnya.

Selain itu, ia menilai pelaku usaha sebaiknya tidak masuk ke bisnis ini tanpa pemahaman mendalam, termasuk terkait konservasi keanekaragaman hayati dan interaksi dengan masyarakat sekitar kawasan hutan.

Menurut dia, perdagangan karbon tidak sekadar aktivitas bisnis, tetapi juga berkaitan dengan upaya menjaga ekosistem dan hubungan sosial yang berkelanjutan.

Baca juga: COP30: Pemerintah Siapkan Strategi Hadapi Fraud Perdagangan Karbon

Peluang Pembiayaan Konservasi

Meski penuh tantangan, Riza menyebut perdagangan karbon tetap memiliki potensi sebagai alternatif pembiayaan untuk kegiatan reforestasi dan perlindungan hutan.

Instrumen ini juga dinilai sebagai bagian dari solusi berbasis alam (*nature-based solutions*) dalam menghadapi krisis iklim.

Sementara itu, Carbon & Sustainability Consultant sekaligus Vice Chair ACEXI Regina Inderadi mengatakan, pasar karbon diperkirakan akan terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan global untuk menurunkan emisi gas rumah kaca.

Menurut dia, tren tersebut didorong oleh komitmen berbagai negara dalam mencapai target dekarbonisasi, termasuk menjaga kenaikan suhu global di bawah 2 derajat Celcius sesuai Perjanjian Paris.

Selain itu, kebijakan seperti *Carbon Border Adjustment Mechanism* (CBAM) yang diterapkan Uni Eropa turut mendorong kebutuhan terhadap instrumen pengurangan emisi, termasuk perdagangan karbon.

Baca juga: KLH Perluas Perdagangan Karbon Global, Gandeng Global Carbon Council dan Plan Vivo

“Ini bukan soal naik turun harga, tetapi transformasi menuju pasar karbon yang lebih berkualitas dan berintegritas,” ujar Regina dalam Forum Outlook Pasar Karbon Indonesia 2026.

Ia menilai, pasar karbon di Indonesia saat ini masih dalam tahap pematangan, sehingga diperlukan upaya untuk memperkuat kredibilitas dan integritas sistemnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
LSM/Figur
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
Pemerintah
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Swasta
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Pemerintah
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau