KOMPAS.com - Pemerintah kota Zhangzhou, Provinsi Fujian, China tenggara, telah memperkuat perlindungan ekologi dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah kota Zhangzhou juga mendorong konservasi dan restorasi area-area kunci, seperti Sungai Jiulong, demi menjaga langit biru, tanah bersih, dan air jernih.
Pemerintah kota Zhangzhou mempromosikan proyek pembaruan yang disebut 'Long Jiang Years' secara bertahap di tepi selatan, Sungai Jiulong. Proyek pembaruan kota tersebut mengubah dataran pasang surut dan lahan terlantar menjadi ruang hijau tepi Sungai Jiulong.
Dilansir dari Xinhua, Selasa (14/4/2026), di atas lahan yang diubah menjadi ruang hijau tepi Sungai Jiulong, dibangun fasilitas hiburan di kawasan wisata Long Jiang Years, Kota Zhangzhou. Di sana, warga berkesempatan untuk bertanu di kebun sayur, bermain voli, sampai berlari-larian di antara bunga-bunga.
Baca juga: Menghidupkan Kembali Etika Damai di Ruang Publik
China telah mengidentifikasi pembaruan perkotaan sebagai komponen kunci dari rancangan garis besar Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030) dan memulai agenda pembangunan perkotaan baru yang ambisius. China akan menggeser kebijakan perkotaannya dari ekspansi ke luar, menjadi pembangunan ke dalam yang lebih intensif.
"Kota-kota didorong untuk mengejar pembangunan kembali yang kompak, efisien, dan ramah lingkungan daripada pertumbuhan spasial yang tidak terkendali," ujar wakil dekan Fakultas Seni Liberal dan Seni Rupa dan ketua Departemen Ilmu Politik dan Geografi di Universitas Texas, Jon Taylor, dilansir dari China Daily.
China mempromosikan pembangunan regional yang terkoordinasi dan saling terkait, mengejar urbanisasi tipe baru, mengoptimalkan skala dan struktur kota, serta mempromosikan model pembangunan yang intensif.
Baca juga: Selain Produksi Listrik, Proyek Waste to Energy Disiapkan Jadi Ruang Publik dan Pusat Edukasi
Kota-kota tingkat pertama, seperti Beijing, Shanghai, Guangzhou, dan Shenzhen, telah lama menjadi bagian dari proses urbanisasi China.
Imbasnya, sebagian besar properti perumahan dan komersial dibangun selama periode akhir 1980-an hingga awal tahun 2000-an semakin tidak memadai untuk melayani China modern yang mengalami perubahan demografis dengan berbagai tuntutan sosial, lingkungan, serta teknologi.
China kemungkinan akan menempatkan pembaruan perkotaan sebagai pusat pembangunan ekonominya selama lima tahun ke depan. China akan merevitalisasi distrik-distrik kota yang menua, menstabilkan pasar perumahan, dan meluncurkan reformasi besar yang berfokus pada perumahan terjangkau.
Sebagai penggerak struktural utama bagi perekonomian China selama periode Rencana Lima Tahun ke-15, fokus pembaruan perkotaan menghubungkan upaya merenovasi lingkungan yang menua, mengganti infrastruktur usang, dan mengatasi penggunaan lahan tidak efisien.
"Pada gilirannya, hal ini telah menciptakan permintaan yang kuat untuk pembangunan kembali di tingkat lokal, provinsi, dan nasional," tutur Taylor.
Baca juga: Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Kota-kota, seperti Shanghai telah merintis program yang menargetkan 'pembaruan mikro' di tingkat lingkungan. Sedangkan kota Guangzhou telah mengejar regenerasi tingkat distrik. Kata dia, semua kota tingkat satu telah dengan cepat memperluas pembangunan kembali yang berorientasi pada transit. "Dan, Beijing telah terlibat dalam upaya besar untuk menerapkan proyek pelestarian dan pembaruan kota tua," ucapnya.
Strategi pembaruan perkotaan ini bertujuan untuk memperkuat tata kelola perkotaan, menyelaraskannya dengan tujuan nasional demi meningkatkan layanan publik dan daya tanggap pemerintah, serta mengintegrasikan sistem digital.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya