Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ekonomi Sirkular Berpotensi Sumbang Rp512,7 Kuadriliun bagi Perekonomian Global

Kompas.com, 21 April 2026, 19:57 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Hampir sepertiga dari Produk Domestik Bruto (PDB) global hilang setiap tahunnya akibat penggunaan energi dan sumber daya yang sia-sia.

Menurut laporan terbaru Circularity Gap Report yang dikeluarkan oleh lembaga think tank Circle Economy bekerja sama dengan Deloitte Belanda, nilai kerugian tersebut setara dengan sekitar 1 Euro (sekitar Rp 20.186) dari setiap 3 Euro (sekitar Rp 60.559) nilai ekonomi yang dihasilkan atau total lebih dari 25 triliun Euro (sekitar Rp512,7 Kuadriliun) yang terbuang percuma setiap tahunnya.

Melansir Edie, Jumat (17/4/2026) beralih dari model ekonomi tradisional ke ekonomi sirkular disebut dapat membantu menyelamatkan sebagian besar nilai ekonomi tersebut.

"Sebagian besar hilangnya nilai ini bukan sekadar masalah kecil atau kebetulan, melainkan karena masalah struktur dan sistem yang ada," ujar Alvaro Conde, pimpinan laporan sekaligus penulis utama penelitian tersebut.

Baca juga: Startup Ekonomi Sirkular Ciptakan Peluang di Pasar yang Sulit Ditembus

Penggunaan energi dan sumber daya yang sia-sia

Ekonomi saat ini dirancang untuk mengejar keuntungan maksimal tanpa peduli dampaknya bagi manusia dan bumi.

Hasilnya? Pengambilan sumber daya alam yang terus meningkat, barang-barang yang tidak terpakai secara maksimal, dan penumpukan sampah. Hal ini terjadi karena aturan dan tolak ukur ekonomi yang umum digunakan justru mendorong terjadinya hal-hal tersebut.

Laporan ini menekankan bahwa tolak ukur umum seperti PDB tidak memperhitungkan upaya penghematan nilai serta mengabaikan masalah sampah dan habisnya sumber daya alam. Akibatnya, hilangnya nilai ekonomi yang besar ini sering kali tidak terlihat dalam pengambilan keputusan ekonomi.

Laporan-laporan sebelumnya lebih fokus pada "Metrik Sirkularitas", yaitu perkiraan jumlah bahan yang digunakan di seluruh dunia yang berasal dari hasil daur ulang atau penggunaan kembali. Dalam laporan tahun 2025, angka tersebut hanya berada di level 6,9 persen, turun dari 7,2 persen pada tahun 2023.

Alih-alih menggunakan indikator lingkungan, untuk edisi 2026 ini, Circle Economy lebih fokus pada sudut pandang ekonomi. Di saat penggunaan bahan baku terus melonjak sementara produktivitas sumber daya dunia cenderung jalan di tempat selama satu dekade terakhir, laporan ini menunjukkan bahwa ekonomi sirkular adalah cara bagi bisnis dan negara untuk kembali meraih keuntungan efisiensi yang nyata.

Selain menjadi cara untuk melindungi alam dan mengurangi emisi, laporan tersebut menyatakan bahwa ekonomi sirkular juga menghadirkan peluang ekonomi yang sangat besar.

Peluang ekonomi sirkular

Untuk menghitung total "Kesenjangan Nilai", Circle Economy mengukur dua hal yakni nilai fungsional berupa manfaat material dan produk serta harga pasarnya dan nilai yang tercipta seperti dampak lingkungan dan sosial yang lebih luas, baik yang positif seperti pendidikan maupun yang negatif seperti polusi.

Terkait hilangnya nilai tersebut, laporan ini mengidentifikasi lima penyebab utamanya: kerugian selama proses pengolahan, pemborosan energi, sisa dan pemborosan makanan, sampah dari barang yang sudah tidak terpakai, serta penyusutan aset modal.

Kerugian nilai global terbesar, yang diperkirakan mencapai 10 triliun euro (sekitar Rp201.860 triliun), terjadi pada sampah akhir pakai, yaitu ketika produk atau bahan dibuang begitu saja tanpa digunakan kembali atau didaur ulang.

Menurut WRAP, jumlah sampah diperkirakan akan melonjak lebih dari 80 persen pada tahun 2050 dibanding tahun 2020. Ini artinya, ribuan triliun nilai ekonomi akan terus hilang setiap tahun jika tidak ada tindakan untuk mendorong ekonomi sirkular.

Bidang utama lainnya yang disorot laporan ini adalah pemborosan energi, yang nilainya diperkirakan mencapai 8,7 triliun euro per tahun atau sekitar Rp175.618 triliun.

Baca juga: Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja

Angka ini mencakup segalanya, mulai dari energi yang hilang akibat tumpahan minyak dan pembakaran gas sisa, hingga saluran transmisi yang tidak efisien dan energi yang terbuang sebagai panas di industri berat.

Sementara itu penyusutan aset modal merujuk pada penurunan nilai infrastruktur dan mesin ketika barang-barang tersebut rusak lebih cepat dari perkiraan akibat kurangnya perawatan, ketinggalan zaman, atau tidak digunakan secara maksimal diperkirakan kerugiannya mencapai 5,2 triliun euro atau sekitar Rp104,9 kuadriliun.

Dua penyebab terakhir hilangnya nilai ekonomi adalah limbah makanan dan kerugian proses pengolahan, yang masing-masing diperkirakan bernilai lebih dari 650 miliar euro (sekitar Rp13,1 kuadriliun ) dan 904 miliar euro (sekitar Rp18,2 kuadriliun).

Alih-alih kembali menekankan dampak buruk pemborosan ekonomi global terhadap lingkungan, Circle Economy justru menyoroti besarnya nilai finansial yang bisa didapatkan oleh negara dan perusahaan jika mereka menerapkan praktik ekonomi sirkular.

Laporan tersebut menegaskan bahwa penggunaan sumber daya yang sirkular dapat membantu meningkatkan produktivitas, ketahanan rantai pasok, serta kesejahteraan manusia dan bumi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Aksi Pengurangan Penuh Metana Bisa Tekan Emisi, Namun Gagal Capai Target 2030
Aksi Pengurangan Penuh Metana Bisa Tekan Emisi, Namun Gagal Capai Target 2030
Pemerintah
Ekspor Indonesia Terancam CBAM dan EUDR, Sistem MRV Emisi Perlu Diperkuat
Ekspor Indonesia Terancam CBAM dan EUDR, Sistem MRV Emisi Perlu Diperkuat
LSM/Figur
Arak Monster Godzilla, Koalisi Orang Muda Serukan Keadilan Iklim Antargenerasi
Arak Monster Godzilla, Koalisi Orang Muda Serukan Keadilan Iklim Antargenerasi
LSM/Figur
Cegah Pembukaan Lahan dengan Dibakar, Koperasi Sawit di Kaltim Sewa Alat Berat
Cegah Pembukaan Lahan dengan Dibakar, Koperasi Sawit di Kaltim Sewa Alat Berat
LSM/Figur
Sertifikasi Sawit Berkelanjutan Perlu Pertimbangkan Satwa yang Ada
Sertifikasi Sawit Berkelanjutan Perlu Pertimbangkan Satwa yang Ada
LSM/Figur
Restorasi Ekosistem Global Lambat, PBB Ungkap Baru Mencapai 25 Persen
Restorasi Ekosistem Global Lambat, PBB Ungkap Baru Mencapai 25 Persen
Pemerintah
Riset Ungkap Mahasiswa Alami Kecemasan Akibat Krisis Iklim
Riset Ungkap Mahasiswa Alami Kecemasan Akibat Krisis Iklim
Pemerintah
Ditopang PLTS Atap Industri, Bauran EBT di Jawa Barat Capai 23,58 Persen
Ditopang PLTS Atap Industri, Bauran EBT di Jawa Barat Capai 23,58 Persen
Pemerintah
Lele Jadi Sumber Protein Terjangkau, Peternak Madura Kembangkan Metode Panen 45 Hari
Lele Jadi Sumber Protein Terjangkau, Peternak Madura Kembangkan Metode Panen 45 Hari
LSM/Figur
Alarm Kesehatan, Kasus Kanker Serviks Global Diprediksi Terus Meningkat
Alarm Kesehatan, Kasus Kanker Serviks Global Diprediksi Terus Meningkat
Pemerintah
Kelompok Disabilitas di Pedalaman Kalimantan Pakai Dana Karbon untuk Budi Daya Ikan
Kelompok Disabilitas di Pedalaman Kalimantan Pakai Dana Karbon untuk Budi Daya Ikan
LSM/Figur
Studi Ungkap Krisis Pendanaan Hijau UMKM Global Capai Rp18.136 Triliun
Studi Ungkap Krisis Pendanaan Hijau UMKM Global Capai Rp18.136 Triliun
Pemerintah
Perhitungan Global Ungkap Dampak Ekonomi Akibat Kenaikan Permukaan Laut
Perhitungan Global Ungkap Dampak Ekonomi Akibat Kenaikan Permukaan Laut
Pemerintah
Pabrik Coca-Cola di Bekasi Pasang PLTS Atap 1,45 MWp, Tekan Emisi 1500 ton CO2e
Pabrik Coca-Cola di Bekasi Pasang PLTS Atap 1,45 MWp, Tekan Emisi 1500 ton CO2e
Swasta
Krisis Timur Tengah Ancam Ketahanan Pangan 11,7 Juta Perempuan
Krisis Timur Tengah Ancam Ketahanan Pangan 11,7 Juta Perempuan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau