Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Startup Ekonomi Sirkular Ciptakan Peluang di Pasar yang Sulit Ditembus

Kompas.com, 14 Januari 2026, 16:53 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Studi baru mengungkapkan startup ekonomi sirkular berpotensi menciptakan peluang baru di pasar yang resisten atau sulit ditembus.

Studi dari University of Eastern Finland yang diterbitkan di Business Strategy and the Environment menyebutkan startup ekonomi sirkular berhasil mengembangkan bisnis mereka di pasar di mana permintaan konsumen untuk produk berkelanjutan masih belum pasti, dukungan institusional kurang, dan perusahaan-perusahaan besar yang sudah mapan lambat beradaptasi.

Startup ekonomi sirkular menciptakan peluang baru dengan berkomitmen untuk mengurangi atau meminimalkan dampak lingkungan, melakukan eksperimen, uji coba, dan pengembangan berbasis umpan balik, serta membina kolaborasi erat dengan pelanggan dan mitra.

Baca juga: Wujudkan Ekonomi Sirkular, Daur Ulang Baterai Kendaraan Listrik Diperlukan

Melansir Phys, Selasa (13/1/2026) secara tradisional, ekonomi sirkular biasanya dikaji melalui teknologi dan model bisnisnya.

Jumlah Masih Terbatas

Namun, menurut para peneliti, perhatian mengenai bagaimana penguasaha yang berorientasi pada keberlanjutan dalam menciptakan peluang di pasar, masih sangat sedikit.

Studi ini didasarkan pada 31 wawancara naratif dengan pengusaha startup yang menggambarkan tahap awal usaha mereka, proses pembelajaran, dan upaya untuk membentuk kembali pasar.

Perusahaan rintisan ekonomi sirkular menunjukkan bahwa transformasi pasar sering kali dimulai dengan nilai-nilai dan keinginan untuk memperbaiki sesuatu yang tidak berfungsi dalam sistem saat ini,” kata Direktur Riset Ville-Veikko Piispanen dari University of Eastern Finland.

“Dan luar biasanya para pengusaha ini memandang pasar tradisional yang luas sebagai peluang daripada hambatan. Ini mencerminkan kesiapan mereka untuk berubah," katanya lagi.

Startup ekonomi sirkular menciptakan peluang baru melalui tiga praktik utama yakni komitmen terhadap dampak lingkungan, eksperimen, uji coba, dan pengembangan berbasis umpan balik, serta kolaborasi erat antara pelanggan dan mitra.

Baca juga: Pengusaha Siap-siap meski Penerapan Deforestasi EUDR Ditunda Setahun

"Startup berkelanjutan bertindak sebagai agen perubahan penting dengan mempertanyakan norma, membangun model kolaborasi baru, dan menciptakan kondisi untuk pasar berkelanjutan. Peran mereka sangat penting karena masyarakat bergerak menuju ekonomi berbasis sirkularitas berkelanjutan," catat Hanna Lehtimäki, yang merupakan salah satu penulis studi ini.

Lebih lanjut, studi juga menunjukkan motivasi yang didorong oleh nilai-nilau serta keyakinan pribadi yang kuat dari wirausahawan membantu menantang praktik pasar yang sudah mapan dan mendorong konsumen mengadopsi solusi baru yang lebih berkelanjutan.

Proses-proses ini pun menjadikan startup berkelanjutan sebagai akselerator penting transisi keberlanjutan serta penggerak perubahan di pasar tradisional.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Pemerintah
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Pemerintah
IEA: Permintaan Global Baterai Litium-Ion Melonjak Tajam
IEA: Permintaan Global Baterai Litium-Ion Melonjak Tajam
Pemerintah
Ketika Fenomena 'Overwork' Dirasakan Banyak Para Pekerja Muda...
Ketika Fenomena "Overwork" Dirasakan Banyak Para Pekerja Muda...
LSM/Figur
Krisis Finansial Global Bisa Muncul Akibat Pemerintah Abai Risiko Iklim
Krisis Finansial Global Bisa Muncul Akibat Pemerintah Abai Risiko Iklim
Pemerintah
81 Persen Perusahaan di Indonesia Sulit Dapat Kandidat Sesuai Kebutuhan
81 Persen Perusahaan di Indonesia Sulit Dapat Kandidat Sesuai Kebutuhan
Swasta
Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total
Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total
Pemerintah
Bandara Heathrow Targetkan Pemakaian Avtur Berkelanjutan 5,6 Persen pada 2026
Bandara Heathrow Targetkan Pemakaian Avtur Berkelanjutan 5,6 Persen pada 2026
Pemerintah
Selandia Baru Ungkap Besarnya Potensi Panas Bumi di Sulawesi Utara
Selandia Baru Ungkap Besarnya Potensi Panas Bumi di Sulawesi Utara
BUMN
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
LSM/Figur
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
LSM/Figur
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
Pemerintah
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
LSM/Figur
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau