Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Sebut 98 Persen Janji Keberlanjutan Industri Daging dan Susu Hanya Greenwashing

Kompas.com, 23 April 2026, 14:14 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Industri makanan telah memberikan janji besar untuk mengurangi emisi dan menjadi lebih ramah lingkungan, namun sebuah tinjauan menyimpulkan bahwa banyak dari janji tersebut tidak didukung oleh bukti nyata.

Salah satunya adalah perusahaan daging dan susu. Mereka selama ini terus menghujani publik dengan janji untuk mengatasi pemanasan global. Tapi sebuah analisis terbaru mengklaim bahwa hampir semua janji itu hanyalah greenwashing alias pencitraan ramah lingkungan palsu.

Melansir New Scientist, Rabu (22/4/2026) peternakan hewan adalah penyebab utama perubahan iklim karena menyumbang setidaknya 16,5 persen emisi gas rumah kaca dunia.

Menanggapi kritik yang ada, industri ini pun mengeluarkan berbagai janji untuk menjaga lingkungan.

Baca juga: Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan

Menguji Janji Industri Peternakan

Untuk menguji kebenaran janji tersebut, Jennifer Jacquet dari University of Miami meneliti laporan resmi dan situs web milik 33 perusahaan daging dan susu terbesar di dunia antara tahun 2021 hingga 2024.

"Kami benar-benar ingin membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya sekadar pencitraan," ungkapnya.

"Tim tersebut kemudian menemukan 1.233 klaim terkait lingkungan. Akan tetapi hampir semuanya atau sekitar 98 persen bisa dikategorikan sebagai greenwashing," papar Jacquet.

Klaim-klaim ini dianggap menipu atau sengaja menyesatkan. Contohnya, perusahaan memberikan janji manis soal komitmen iklim di masa depan, tapi tidak punya rencana jelas untuk mencapainya.

Lebih dari dua pertiga pernyataan tersebut tidak punya bukti pendukung sama sekali, dan hanya tiga klaim yang didukung oleh penelitian ilmiah resmi.

Saat ini, 17 dari 33 perusahaan yang diteliti sudah menetapkan target net-zero. Namun, mirip dengan industri minyak dan gas, janji-janji ini terasa sangat jauh dan lebih mengandalkan skema "bayar denda karbon" daripada benar-benar memangkas polusi mereka sendiri.

Tindakan nyata yang mereka pamerkan ternyata jauh lebih kecil dibandingkan janji-janji besar mereka untuk masa depan. Misalnya saja proyek hijau yang sangat kecil di mana satu perusahaan membanggakan proyek pertanian berkelanjutan yang ternyata cuma melibatkan 24 peternakan, alias hanya 0,0019 persen dari total seluruh operasional mereka.

Contoh lainnya lagi, perubahan kemasan yang tidak berarti seperti hanya mengurangi lebar isolasi pada bungkus sosis sebanyak 3 milimeter.

"Para penulis menunjukkan dengan sangat jelas bahwa banyak klaim dari industri ini cuma hiasan belaka agar terlihat bagus," kata Marco Springmann dari Universitas Oxford.

Baca juga: Greenwashing Bisa Jadi Kesalahan Strategi Komunikasi ESG, Mengapa?

Greenwashing jadi hal umum

Sementara itu Pete Smith dari Universitas Aberdeen, Inggris yang ikut merancang metode penilaian greenwashing dalam penelitian ini mengatakan bahwa temuan tersebut sama sekali tidak mengejutkan baginya.

Para pakar lain mengatakan bahwa greenwashing masih sangat umum di industri ini.

"Mengingat besarnya kekuasaan perusahaan-perusahaan ini, mereka cenderung memberikan janji yang berlebihan agar terlihat lebih maju dari kenyataannya, padahal aslinya mereka berusaha mempertahankan keadaan yang ada," kata Tim Benton dari Universitas Leeds, Inggris.

"Sama seperti industri rokok dan bahan bakar fosil, pasti ada pihak yang sengaja menggunakan kata-kata manis dan informasi palsu demi melindungi bisnis mereka," tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Target PLTS 100 GW Dinilai Bikin RI Lebih Tahan Guncangan Krisis Energi
Target PLTS 100 GW Dinilai Bikin RI Lebih Tahan Guncangan Krisis Energi
LSM/Figur
Pekerja Keamanan Siber Makin Dibutuhkan, Swasta dan Pemerintah Perlu Berinvestasi
Pekerja Keamanan Siber Makin Dibutuhkan, Swasta dan Pemerintah Perlu Berinvestasi
Pemerintah
EV Lebih Efisien dari WFH, Pemerintah Berpotensi Hemat Rp 12 Triliun
EV Lebih Efisien dari WFH, Pemerintah Berpotensi Hemat Rp 12 Triliun
LSM/Figur
BSSN: Serangan Siber Naik 7 Kali Lipat pada 2025 dan Berlanjut di Awal 2026
BSSN: Serangan Siber Naik 7 Kali Lipat pada 2025 dan Berlanjut di Awal 2026
Pemerintah
Indef: Cukai Emisi Kendaraan Berpotensi Hasilkan Rp 40 Triliun Per Tahun
Indef: Cukai Emisi Kendaraan Berpotensi Hasilkan Rp 40 Triliun Per Tahun
LSM/Figur
Program 'Reuse' Global Mandek Akibat Aturan yang Berbeda di Tiap Negara
Program "Reuse" Global Mandek Akibat Aturan yang Berbeda di Tiap Negara
Pemerintah
PLTS hingga EV Diprediksi Bakal Dongkrak Produksi Tembaga di Indonesia
PLTS hingga EV Diprediksi Bakal Dongkrak Produksi Tembaga di Indonesia
BUMN
Banyak CEO Tak Anggap Keamanan Siber sebagai Investasi
Banyak CEO Tak Anggap Keamanan Siber sebagai Investasi
Swasta
Studi Sebut 98 Persen Janji Keberlanjutan Industri Daging dan Susu Hanya Greenwashing
Studi Sebut 98 Persen Janji Keberlanjutan Industri Daging dan Susu Hanya Greenwashing
Pemerintah
BRIN Temukan Subspesies Baru Buah Bisbul Asli Papua
BRIN Temukan Subspesies Baru Buah Bisbul Asli Papua
Pemerintah
Percepat Ubah Sampah Jadi Energi, Pemerintah Tawarkan Berbagai Kemudahan untuk Pengelola
Percepat Ubah Sampah Jadi Energi, Pemerintah Tawarkan Berbagai Kemudahan untuk Pengelola
Pemerintah
Ledakan Populasi Ikan Sapu-Sapu Jadi Alarm Pencemaran Sungai Ciliwung
Ledakan Populasi Ikan Sapu-Sapu Jadi Alarm Pencemaran Sungai Ciliwung
Pemerintah
IDX Carbon Permudah Individu dan Retail Hapus Jejak Karbon
IDX Carbon Permudah Individu dan Retail Hapus Jejak Karbon
Swasta
Pemerintah Lelang Proyek 'WtE' di Medan-Bekasi, untuk Olah 7.000 Ton Per Hari
Pemerintah Lelang Proyek "WtE" di Medan-Bekasi, untuk Olah 7.000 Ton Per Hari
Pemerintah
PT Elnusa Sebut Pangkas 3.079 Ton CO2 dan Kurangi 178.606 Sampah Plastik
PT Elnusa Sebut Pangkas 3.079 Ton CO2 dan Kurangi 178.606 Sampah Plastik
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau