KOMPAS.com - Industri makanan telah memberikan janji besar untuk mengurangi emisi dan menjadi lebih ramah lingkungan, namun sebuah tinjauan menyimpulkan bahwa banyak dari janji tersebut tidak didukung oleh bukti nyata.
Salah satunya adalah perusahaan daging dan susu. Mereka selama ini terus menghujani publik dengan janji untuk mengatasi pemanasan global. Tapi sebuah analisis terbaru mengklaim bahwa hampir semua janji itu hanyalah greenwashing alias pencitraan ramah lingkungan palsu.
Melansir New Scientist, Rabu (22/4/2026) peternakan hewan adalah penyebab utama perubahan iklim karena menyumbang setidaknya 16,5 persen emisi gas rumah kaca dunia.
Menanggapi kritik yang ada, industri ini pun mengeluarkan berbagai janji untuk menjaga lingkungan.
Baca juga: Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
Untuk menguji kebenaran janji tersebut, Jennifer Jacquet dari University of Miami meneliti laporan resmi dan situs web milik 33 perusahaan daging dan susu terbesar di dunia antara tahun 2021 hingga 2024.
"Kami benar-benar ingin membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya sekadar pencitraan," ungkapnya.
"Tim tersebut kemudian menemukan 1.233 klaim terkait lingkungan. Akan tetapi hampir semuanya atau sekitar 98 persen bisa dikategorikan sebagai greenwashing," papar Jacquet.
Klaim-klaim ini dianggap menipu atau sengaja menyesatkan. Contohnya, perusahaan memberikan janji manis soal komitmen iklim di masa depan, tapi tidak punya rencana jelas untuk mencapainya.
Lebih dari dua pertiga pernyataan tersebut tidak punya bukti pendukung sama sekali, dan hanya tiga klaim yang didukung oleh penelitian ilmiah resmi.
Saat ini, 17 dari 33 perusahaan yang diteliti sudah menetapkan target net-zero. Namun, mirip dengan industri minyak dan gas, janji-janji ini terasa sangat jauh dan lebih mengandalkan skema "bayar denda karbon" daripada benar-benar memangkas polusi mereka sendiri.
Tindakan nyata yang mereka pamerkan ternyata jauh lebih kecil dibandingkan janji-janji besar mereka untuk masa depan. Misalnya saja proyek hijau yang sangat kecil di mana satu perusahaan membanggakan proyek pertanian berkelanjutan yang ternyata cuma melibatkan 24 peternakan, alias hanya 0,0019 persen dari total seluruh operasional mereka.
Contoh lainnya lagi, perubahan kemasan yang tidak berarti seperti hanya mengurangi lebar isolasi pada bungkus sosis sebanyak 3 milimeter.
"Para penulis menunjukkan dengan sangat jelas bahwa banyak klaim dari industri ini cuma hiasan belaka agar terlihat bagus," kata Marco Springmann dari Universitas Oxford.
Baca juga: Greenwashing Bisa Jadi Kesalahan Strategi Komunikasi ESG, Mengapa?
Sementara itu Pete Smith dari Universitas Aberdeen, Inggris yang ikut merancang metode penilaian greenwashing dalam penelitian ini mengatakan bahwa temuan tersebut sama sekali tidak mengejutkan baginya.
Para pakar lain mengatakan bahwa greenwashing masih sangat umum di industri ini.
"Mengingat besarnya kekuasaan perusahaan-perusahaan ini, mereka cenderung memberikan janji yang berlebihan agar terlihat lebih maju dari kenyataannya, padahal aslinya mereka berusaha mempertahankan keadaan yang ada," kata Tim Benton dari Universitas Leeds, Inggris.
"Sama seperti industri rokok dan bahan bakar fosil, pasti ada pihak yang sengaja menggunakan kata-kata manis dan informasi palsu demi melindungi bisnis mereka," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya