JAKARTA, KOMPAS.com - Tiga sektor industri diprediksi bakal mendongkrak permintaan tembaga di dalam negeri.
Founder & Advisor ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto mengungkapkan terdapat ketiga sektir itu antara lain infrastruktur dan listrik seperti kabel serta trafo, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan PLT angin, serta industri otomotif terutama kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).
Menurut dia, ekosistem industri ini membutuhkan dukungan serta fasilitasi dari pemerintah agar dapat berkembang optimal. Kemudahan investasi di sektor-sektor turunan penyerap tembaga juga diperlukan, agar produksi tembaga optimal.
Baca juga: Tambang Batu Bara Kini Jadi Sumber Kerentanan, Daerah Penghasil Harus Beralih Rupa
“Itu yang nantinya akan menyerap produksi tembaga dan tembaga olahan (katoda) dari smelter tembaga yang beroperasi di Indonesia,” kata Pri Agung dalam keterangannya, Kamis (23/4/2026).
Kendati demikian, peningkatan nilai tambah dari ekspor mineral mentah menjadi katoda tembaga sudah cukup kuat untuk meningkatkan neraca perdagangan global Indonesia ke depan.
"Jika ekosistem industri itu belum berkembang, maka produksi yang ada akan lebih banyak terserap untuk ekspor," tutur dia.
Adapun tembaga menjadi salah satu bahan baku penting bagi industri global saat ini. Pri Agung menilai, Indonesia berpotensi mendapat keuntungan besar dari pemanfaatan komoditas ini.
Baca juga: Awasi Perusahaan Tambang di 14 Provinsi, KLH Tak Segan Bekukan Izin Lingkungan
Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Indonesia berada di posis tujuh besar cadangan tembaga dunia dengan porsi sekitar 3 persen dari total keseluruhan. Akan tetapi, dari sisi produksi tambang Indonesia berada di posisi ke-11.
Sementara itu, di industri hilir, Indonesia berada di peringkat ke-18, dan tengah mengejar kompetitor seperti Jepang, India, Korea, serta Bulgaria yang tidak memiliki sumber daya tembaga.
Saat ini, industri tembaga Indonesia didominasi oleh sejumlah perusahaan tambang besar dengan proyek strategis meliputi PT Freeport Indonesia Anggota Grup MIND ID, PT Amman Mineral Internasional Tbk, dan PT Merdeka Copper Gold Tbk.
Perusahaan memiliki besaran cadangan tembaga berbeda-beda. Freeport Indonesia, misalnya, mencatat hasil eksplorasi terbaru menunjukkan cadangan tembaga yang dapat diekstraksi hingga 2041 meningkat menjadi 8 miliar pon. Angka ini naik dari sebelumnya yang diperkirakan sebesar 7 miliar pon.
Sementara itu, PT Amman Mineral Nusa Tenggara melaporkan total cadangan mineral mencapai sekitar 460 juta ton hingga 2030. Peningkatan ini terjadi seiring dimulainya fase baru penambangan Fase 8 di Tambang Batu Hijau.
Di sisi lain, PT Merdeka Copper Gold Tbk mengungkap pertumbuhan cadangan tembaga sepanjang 2025 menjadi 9,1 juta ton atau naik 6 persen. Dari sisi bijih, cadangan bijih tembaga bahkan melonjak 60 persen menjadi 3 juta ton.
Besarnya cadangan itu didukung kehadiran smelter yang meningkatkan nilai tambah komoditas tembaga. Merujuj penelitian Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), nilai tambah dari smelter tembaga dapat mencapai sekitar 1,74 kali lipat dibandingkan bahan baku konsentrat.
Baca juga: Konsumsi BBM Diprediksi Turun karena Peralihan ke Kendaraan Listrik
Di sektor peleburan, Indonesia telah memiliki sejumlah smelter aktif yang menjadi tulang punggung hilirisasi. Fasilitas utama tersebut antara lain berada di Gresik, Jawa Timur, serta proyek smelter baru di Nusa Tenggara Barat yang memperkuat kapasitas pengolahan domestik.
Dengan kombinasi cadangan melimpah, proyek hilirisasi yang terus berkembang, serta potensi permintaan dari berbagai sektor strategis, Indonesia dinilaj memiliki peluang besar untuk mengoptimalkan peran tembaga dalam perekonomian nasional.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya