KOMPAS.com - Sistem pakai ulang (reuse) menjadi salah satu cara yang bisa dipakai untuk mengurangi polusi plastik. Namun sayangnya, praktik ini belum bisa berjalan maksimal lantaran terhambat oleh beberapa hal.
Penelitian yang dilakukan oleh Global Plastics Policy Center di Universitas, Portsmouth, Inggris mengungkapkan sistem pakai ulang ini belum berjalan sesuai target karena kebijakan yang tidak seragam, kurangnya bantuan keuangan, dan infrastruktur yang belum memadai.
Studi ini merupakan analisis perbandingan pertama mengenai kebijakan pakai ulang yang mencakup wilayah Eropa, Amerika Selatan, dan Asia Tenggara.
Baca juga: Polusi Plastik Mulai Cemari Hutan Dunia
Melansir Phys, Rabu (22/4/2026) berdasarkan analisis kebijakan selama bertahun-tahun, wawancara dengan para ahli, dan penelitian perbandingan, laporan ini mempelajari bagaimana pemerintah mendukung sistem pakai ulang dan apa yang harus dilakukan agar sistem ini bisa berkembang besar.
Di ketiga wilayah tersebut, para peneliti menemukan banyak kegiatan yang menjanjikan, namun dukungan aturan dan pendanaan dari pemerintah masih sangat terbatas.
Meskipun beberapa negara mulai memasukkan aturan pakai ulang ke dalam regulasi kemasan, dunia masih membutuhkan target yang lebih jelas, koordinasi antar lembaga yang lebih kuat, dan dukungan modal yang lebih nyata.
Temuan ini muncul di tengah kekhawatiran dunia yang semakin besar terhadap polusi plastik dan kebutuhan mendesak untuk meninggalkan kemasan sekali pakai.
Sistem pakai ulang semakin diakui sebagai salah satu cara paling efektif untuk mengurangi limbah, namun aturan hukum di banyak negara masih belum matang.
"Di Eropa, Amerika Selatan, dan Asia Tenggara, kita melihat semangat nyata untuk menerapkan sistem pakai ulang. Namun, sistem ini masih berjalan di celah-celah aturan yang sebenarnya dibuat untuk ekonomi lama yakni penggunaan plastik sekali pakai. Tanpa kerangka kebijakan yang lebih kuat dan terkoordinasi, sistem pakai ulang akan sulit berkembang lebih jauh dari sekadar proyek uji coba," kata Dr. Antaya March, Direktur Global Plastics Policy Center.
Laporan-laporan ini pun diharapkan bisa memberikan panduan praktis berdasarkan bukti nyata bagi pemerintah dan pembuat kebijakan. Tujuannya agar sistem pakai ulang bisa berkembang luas, sehingga mendukung target lingkungan sekaligus ketahanan ekonomi.
Baca juga: Skema Return dan Reuse Disebut Bisa Kurangi Polusi Plastik dalam 15 Tahun
"Sistem pakai ulang bukan lagi ide sampingan, ini adalah bagian penting dalam mengatasi polusi plastik. Riset kami menunjukkan bahwa pemerintah punya peran besar untuk menciptakan kondisi agar sistem ini berhasil. Dengan kebijakan yang tepat, sistem pakai ulang dapat memberikan manfaat bagi lingkungan, ekonomi, dan sosial," ungkap Dr. Tegan Evans, peneliti dari Revolution Plastics Institute.
Dr. March menambahkan bahwa semangat untuk mengadopsi program reuse ini sudah ada, tapi untuk memperbesar skala sistem pakai ulang, masih butuh rancangan kebijakan yang lebih matang.
Ini termasuk mendefinisikan sistem pakai ulang dengan lebih jelas, menghubungkannya dengan aturan yang sudah ada, serta menciptakan kondisi yang mendukung investasi. Riset dan kerja sama yang berkelanjutan sangat penting untuk mempercepat kemajuan ini.
Penelitian melibatkan kerja sama dengan berbagai organisasi di tiap wilayah, termasuk PlastikDiet Indonesia, New European Reuse Alliance, Circulearth, Enviu, Fundación Chile, dan University of St Andrews untuk memastikan bahwa hasil temuannya sesuai dengan kondisi dan pendapat para ahli di daerah tersebut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya