Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Publik Desak WHO Tetapkan Krisis Iklim Jadi Darurat Kesehatan Global

Kompas.com, 19 Mei 2026, 16:40 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber knowesg

KOMPAS.com - Sebuah kelompok independen yang terdiri dari para pakar kesehatan dan iklim internasional mendesak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk secara resmi menyatakan krisis iklim sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat global.

Mereka memperingatkan bahwa jutaan nyawa terancam jika tindakan yang lebih tegas terus ditunda-tunda.

Melansir Know ESG, Senin (18/5/2026) kelompok yang tergabung dalam komisi khusus iklim dan kesehatan wilayah Eropa yang dibentuk oleh WHO ini menyatakan bahwa perubahan iklim saat ini sudah menjadi ancaman yang sangat serius bagi keselamatan manusia, sehingga harus dikategorikan sebagai "Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional".

Itu merupakan status siaga kesehatan global tingkat tertinggi yang bisa dikeluarkan oleh WHO.

Laporan ini rencananya akan diajukan kepada para menteri di Eropa sebelum pertemuan utama WHO dimulai. Para ahli yang ikut dalam penelitian ini mengatakan bahwa pengumuman status darurat tersebut akan membantu memicu kerja sama internasional yang kompak, mirip seperti saat dunia menghadapi wabah besar seperti COVID-19 dan Mpox.

Baca juga: WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?

Bukti perubahan iklim merusak kesehatan dunia

Menurut komisi tersebut, suhu bumi yang terus naik, polusi udara yang semakin parah, krisis makanan, serta meluasnya penyebaran penyakit akibat gigitan serangga sudah terbukti merusak kesehatan masyarakat di seluruh dunia.

Selain itu, bencana banjir, gelombang panas, dan kebakaran hutan yang makin parah juga membuat beban rumah sakit dan fasilitas kesehatan menjadi semakin berat.

Katrín Jakobsdóttir, mantan Perdana Menteri Islandia yang juga menjabat sebagai ketua komisi tersebut, mengatakan bahwa krisis iklim harus ditangani dengan tingkat kegentingan yang sama seperti darurat kesehatan besar lainnya.

Ia memperingatkan bahwa tanpa adanya tindakan penyelamatan iklim yang lebih cepat dan lebih luas, jutaan orang lainnya bisa menghadapi penyakit serius atau meninggal lebih cepat dalam beberapa puluh tahun ke depan.

Sir Andrew Haines, penasihat ilmiah utama untuk komisi tersebut sekaligus profesor di London School of Hygiene & Tropical Medicine, mengatakan bahwa tingkat emisi gas rumah kaca saat ini mempercepat munculnya risiko kesehatan, baik bagi generasi sekarang maupun generasi masa depan.

Ia mencatat pula bahwa paparan suhu panas yang meningkat, penyakit menular, asap kebakaran hutan, kekurangan makanan, serta komplikasi terkait kehamilan menjadi semakin sering terjadi seiring dengan bumi yang semakin panas.

Kritik terhadap subsidi fosil yang masih berjalan

Komisi tersebut juga mengkritik pemberian subsidi untuk bahan bakar fosil yang masih terus berjalan di seluruh Eropa, dan menyebutnya sebagai kegagalan besar dalam menjaga kesehatan masyarakat.

Laporan tersebut memperkirakan bahwa bahan bakar fosil menjadi penyebab sekitar 600.000 kematian dini setiap tahunnya di wilayah Eropa saja.

Negara-negara Eropa secara bersama-sama menghabiskan ratusan miliar euro setiap tahun untuk mendukung industri minyak dan gas, meskipun beban kesehatan akibat polusi dan emisi udara terus meningkat.

Di beberapa negara, bantuan dana untuk bahan bakar fosil ini bahkan ditemukan lebih besar daripada sebagian besar anggaran yang dikeluarkan pemerintah untuk biaya kesehatan masyarakat.

Para ahli memperingatkan bahwa memperluas investasi bahan bakar fosil atau meningkatkan kegiatan pengeboran minyak dan gas akan semakin memperburuk kesehatan masyarakat dan memperparah risiko iklim.

Selain memotong emisi, komisi tersebut mendesak pemerintah untuk mengatasi misinformasi seputar iklim, meningkatkan penilaian dampak iklim terhadap kesehatan, serta mengakui efek krisis iklim terhadap kesehatan mental, termasuk stres dan kecemasan yang disebabkan oleh bencana alam.

Baca juga: Sisi Lain Dampak Perubahan Iklim: Merusak Hubungan Sosial Antar Manusia

Perlu fasilitas kesehatan tahan perubahan iklim

Laporan tersebut juga menegaskan pentingnya membangun fasilitas kesehatan yang lebih kuat dan tahan terhadap perubahan iklim. Menurut para ahli, rumah sakit dan pusat medis kini semakin rentan terkena dampak banjir dan suhu panas ekstrem, terutama bangunan-bangunan tua yang dulunya tidak dirancang untuk menghadapi kondisi cuaca yang berubah seperti sekarang.

Kendati demikian sektor kesehatan itu sendiri ternyata menyumbang sekitar 5 persen dari total emisi gas rumah kaca di seluruh dunia. Hal ini menunjukkan bahwa sistem medis juga perlu diubah agar menjadi lebih bersih dan ramah lingkungan.

Dr. Hans Kluge, Direktur Regional WHO untuk wilayah Eropa, mendukung penuh saran-saran dari komisi tersebut. Beliau menyatakan bahwa tindakan penyelamatan iklim bukan lagi sekadar masalah lingkungan saja, melainkan sudah menjadi masalah kesehatan, ekonomi, dan keamanan bersama.

Johan Rockström, Direktur Institut Potsdam untuk Penelitian Dampak Iklim, menambahkan bahwa bukti-bukti ilmiah dengan sangat jelas menunjukkan bahwa perubahan iklim sudah merugikan dan menyakiti jutaan orang di seluruh dunia. Oleh karena itu, masalah ini sudah sepatutnya diakui sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat global.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Swasta
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
Pemerintah
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Pemerintah
Program 'SNI Goes to Campus' Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Program "SNI Goes to Campus" Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Swasta
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Pemerintah
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Pemerintah
Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
LSM/Figur
El Niño Datang, Sektor Pertanian Asia Mulai Terancam
El Niño Datang, Sektor Pertanian Asia Mulai Terancam
Pemerintah
Saat Plastik Tak Lagi Murah, Sistem Guna Ulang Jadi Makin Relevan
Saat Plastik Tak Lagi Murah, Sistem Guna Ulang Jadi Makin Relevan
BrandzView
Reformasi Subsidi BBM-LPG Bisa Hemat Ratusan Triliun untuk Energi Terbarukan
Reformasi Subsidi BBM-LPG Bisa Hemat Ratusan Triliun untuk Energi Terbarukan
LSM/Figur
Emil Salim Serukan Perubahan Model Pembangunan yang Lebih Holistik
Emil Salim Serukan Perubahan Model Pembangunan yang Lebih Holistik
LSM/Figur
BNPB: Karhutla hingga Banjir Landa Sejumlah Wilayah Indonesia
BNPB: Karhutla hingga Banjir Landa Sejumlah Wilayah Indonesia
Pemerintah
Reformasi Subsidi Energi Jadi Kunci Pulihkan Kredibilitas Fiskal dan Percepat Transisi Energi
Reformasi Subsidi Energi Jadi Kunci Pulihkan Kredibilitas Fiskal dan Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Dibanding Biofuel, EV Disebut Lebih Layak Jadi Alternatif untuk Tekan Impor BBM
Dibanding Biofuel, EV Disebut Lebih Layak Jadi Alternatif untuk Tekan Impor BBM
LSM/Figur
FEM IPB: Pertumbuhan Ekonomi 5,6 Persen Belum Mampu Kurangi Ketimpangan
FEM IPB: Pertumbuhan Ekonomi 5,6 Persen Belum Mampu Kurangi Ketimpangan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau