Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harapan Justru Lebih Efektif Atasi Krisis Iklim, Kok Bisa?

Kompas.com, 20 Mei 2026, 16:05 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Selama ini, kampanye tentang iklim selalu menggunakan cara lama yang sama untuk menyentuh emosi kita: tunjukkan sesuatu yang menakutkan, buat orang merasa bersalah, dan berharap rasa tidak nyaman itu akan berubah menjadi tindakan nyata.

Namun, sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa cara tersebut ternyata keliru. Ketika tujuannya adalah memancing ide-ide kreatif yang tulus untuk mengatasi perubahan iklim, rasa optimis alias harapan terbukti menjadi alat yang jauh lebih ampuh daripada rasa takut.

Melansir Earth, Selasa (19/5/2026) rasa takut, rasa bersalah, dan rasa marah sebenarnya bukan tidak ada gunanya. Emosi-emosi itu bisa memancing orang untuk langsung bertindak. Namun, tindakan tersebut biasanya hanya bersifat spontan, berlangsung sebentar, dan sering kali tidak bertahan lama.

Hal yang kurang bisa dilakukan oleh rasa takut dan rasa bersalah adalah memancing cara berpikir yang luwes dan kreatif. Padahal cara berpikir seperti itulah yang sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang rumit.

Baca juga: Dampak Tersembunyi Krisis Iklim, dari Kemiskinan hingga Kerja Paksa

Para ahli psikologi sudah lama punya teori bahwa emosi positif bekerja dengan cara yang berbeda. Bukannya membuat fokus kita menyempit karena panik melihat ancaman, emosi positif justru membuka pikiran kita menjadi lebih luas.

Hal ini membuat orang lebih terbuka terhadap ide-ide baru, hubungan baru, dan cara-cara baru dalam menyelesaikan masalah.

Dampak emosi positif

Penelitian yang dipimpin oleh Profesor Alexa Spence dari Sekolah Psikologi Universitas Nottingham ini kemudian ingin menguji apakah teori tersebut benar-benar terbukti dalam kenyataan, khususnya dalam pembahasan tentang perubahan iklim.

"Kita terlalu sering melihat emosi negatif seperti rasa takut, rasa bersalah, dan rasa marah digunakan untuk memaksa orang agar peduli pada lingkungan. Memang, cara itu bisa membuat orang langsung bertindak dalam jangka pendek. Namun, kami yakin bahwa emosi positif bisa memberikan efek yang berbeda, dampaknya jauh lebih luas dan bertahan jauh lebih lama," jelasnya.

Para peneliti kemudian melakukan dua kali percobaan, yang masing-masing diikuti oleh 160 orang dan 334 orang peserta.

Tim peneliti lantas membuat sebuah tugas bernama "tugas kreativitas iklim". Mereka meminta para peserta untuk memikirkan berbagai cara unik agar gaya hidup mereka sendiri bisa lebih ramah lingkungan. Setelah itu, tim peneliti memberikan nilai berdasarkan seberapa asli dan seberapa luas ide-ide yang dihasilkan tersebut.

Tugas tersebut kemudian digabungkan dengan tes lainnya, termasuk tes menghubungkan kata-kata dan latihan menyelesaikan masalah lingkungan.

Selanjutnya, dalam percobaan kedua peserta dibagi secara acak untuk menonton salah satu dari dua video tentang perubahan iklim, yang sengaja dibuat untuk memancing rasa penuh harapan atau rasa takut.

Video yang memancing rasa harapan mengambil sudut pandang yang optimis. Video ini menunjukkan berbagai solusi yang bisa dilakukan, menggunakan bahasa yang positif dan ceria, serta diiringi musik latar yang membakar semangat.

Baca juga: Krisis Iklim Picu Deoksigenisasi Sungai Tropis

Sebaliknya, video yang memancing rasa takut sama sekali berbeda. Video ini menunjukkan rasa ragu apakah solusi yang ada akan berhasil, menggunakan bahasa yang penuh peringatan bahaya, memberikan efek warna gelap pada videonya, dan dipadukan dengan musik yang suram.

Setelah menonton video tersebut, para peserta diminta menyelesaikan tes kreativitas umum dan juga tugas kreativitas iklim yang baru.

Hasilnya jelas, rasa harapan menang. Para peserta yang menonton video penuh harapan menunjukkan tingkat kreativitas yang lebih tinggi secara keseluruhan.

Mereka juga menunjukkan kreativitas yang lebih tinggi dalam urusan iklim. Artinya, mereka berhasil menghasilkan ide-ide yang lebih asli dan lebih beragam tentang cara hidup yang lebih ramah lingkungan.

"Ini adalah penelitian pertama di jenisnya yang berhasil membuktikan bahwa komunikasi yang memberikan harapan bisa meningkatkan kreativitas iklim. Ini menunjukkan bahwa harapan bisa menjadi modal penting untuk memancing pemecahan masalah dan tindakan nyata dalam mengatasi perubahan iklim," kata Spence.

Emosi positif bikin lebih kreatif

Emosi positif bisa membuat cara berpikir kita menjadi lebih kreatif, dan cara berpikir yang kreatif ini akan menghasilkan berbagai pilihan cara yang lebih beragam serta lebih kuat untuk menjaga lingkungan.

Artinya, penyampaian informasi yang memberikan harapan bisa memicu sesuatu yang berputar dan saling menguatkan, sebuah lingkaran kebaikan di mana satu tindakan penyelamatan lingkungan akan menular dan memancing tindakan baik lainnya secara alami.

Para peneliti menjelaskan bahwa hal ini menjadi sangat penting dalam situasi di mana tindakan yang diminta memang benar-benar sulit untuk dilakukan.

Misalnya saja mengurangi naik pesawat terbang, mengubah menu makanan sehari-hari, atau melawan aturan/kebiasaan lama di tempat kerja. Itu semua bukanlah hal mudah yang bisa dilakukan orang begitu saja tanpa berpikir keras.

Semua itu butuh perjuangan untuk melewati rintangan yang nyata. Dan untuk bisa melewati rintangan tersebut, kita membutuhkan cara berpikir yang luwes, yang terbukti bisa muncul berkat adanya rasa harapan.

Baca juga: Publik Desak WHO Tetapkan Krisis Iklim Jadi Darurat Kesehatan Global

"Penelitian kami menunjukkan bahwa untuk kampanye yang mengajak orang melakukan kebiasaan yang sangat sulit penyampaian informasi yang positif dan bisa memancing kreativitas akan sangat membantu orang untuk mulai bertindak," kata Spence.

Menakut-nakuti orang agar mereka sadar akan bahaya memang ada gunanya. Namun, jika tujuannya adalah membuat orang benar-benar bergerak menyelesaikan masalah, maka emosi yang dibawa oleh pesan tersebut sama pentingnya dengan isi pesan itu sendiri.

Penelitian ini tidak mengatakan bahwa kenyataan pahit tentang alam harus ditutup-tutupi, atau bahwa bahaya darurat krisis iklim boleh disepelekan.

Penelitian ini menjelaskan hal yang lebih khusus bahwa cara kita menunjukkan peluang atau masa depan yang masih bisa diselamatkan, sama pentingnya dengan menjelaskan bahaya yang sedang mengancam kita.

Memberikan alasan kepada masyarakat untuk merasa optimis ternyata merupakan salah satu cara paling nyata dan praktis yang bisa dilakukan oleh para penyampai informasi tentang iklim.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau