Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dibanding Biofuel, EV Disebut Lebih Layak Jadi Alternatif untuk Tekan Impor BBM

Kompas.com, 4 Juni 2026, 20:42 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kendaraan listrik (EV) disebut lebih layak menjadi alternatif untuk mengurangi impor BBM dibandingkan biofuel atau bahan bakar nabati di tengah krisis energi global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Manajer Mobilitas Berkelanjutan, Lingkungan Bersih, dan Bangunan Institute for Essential Services Reform (IESR), Rahmi Puspita Sari berasumsi, biofuel tidak tepat sebagai alternatif karena memperbesar nilai subsidi energi dan pertimbangan emisi gas rumah kaca (GRK).

Biaya subsidi untuk biofuel melalui bioetanol maupun biodiesel sebesar Rp 6.000 - Rp9.000 per liter, yang terus membesar seiring dengan kebijakan peningkatan persentase campurannya ke dalam BBM. Sedangkan biaya subsidi EV Rp 11 juta per unit.

Baca juga: Daur Ulang Nikel Stainless Steel untuk Baterai Boros Energi

"Untuk mobil listrik, NPV (net present value) positif, sehingga memberikan sinyal bahwa sebenarnya untuk EV itu enggak memberatkan secara fiskal sama sekali," ujar Rahmi dalam Editors Meeting yang digelar Yayasan Indonesia Cerah, Kamis (4/6/2026).

Selain itu, emisi GRK yang dihasilkan biofuel bisa mencapai 2,5 kali lipat jika menghitung Penggunaan Lahan, Perubahan Penggunaan Lahan, dan Kehutanan (LULUCF). Sementara itu, EV menurunkan emisi GRK sebesar 40-70 persen seiring penetrasi energi barukan (EBT).

"Kalau hitung dari LCA (Life Cycle Assessment) itu 2,5 kali lipat dari emisi bensin biasa. Jadi, malah kontra-intuitif ketika kita menggunakan biodiesel yang niatnya untuk mengurangi emisi, malah justru ketika kami menghitung emisinya itu naik malah 2,5 kali lipat dari solar biasa ya," tutur Rahmi.

Dari aspek penghematan impor BBM, masih bergantung pada persentase campurannya. Untuk EV, penghematan impor BBM mencapai Rp 14,5-19,5 juta per unit selama 10 tahun.

Di sisi lain, biofuel juga memiliki kesulitan teknis karena kendaraan tidak dapat menerima biodiesel lebih tinggi. Imbasnya, terjadi pergantian kendaraan. Dari sisi EV, tidak ada kesulitan teknis, meski perlu pergantian kendaraan.

Dalam aspek ketahanan energi, biofuel bergantung pada komoditas global dan musim panen. EV hanya mandiri dari impor migas dan bisa diversifikasi energi.

Urgensi transisi energi sektor transportasi

Krisis energi yang dipicu perang antara Amerika Serikat dan Israel versus Iran membuktikan bahwa perekonomian Indonesia sangat bergantung pada impor BBM, sehingga berisiko menjadi risiko fiskal yang berulang.

Selama aktivitas transportasi masih bergantung pada BBM, setiap streaming minyak global akan langsung menekan APBN dan berisiko menambah subsidi kebutuhan. "

Aktivitas transportasi yang sangat berbasis BBM itu sangat rentan dari krisis-krisis semenanjung Hormuz dan mungkin ke depan ada krisis-krisis lagi ya ‎kita tidak bisa melakukan aktivitas transportasi yang selalu di ambang-ambang krisis energilah," ucapnya.

Di sisi lain, data IESR terbaru mengungkapkan, emisi GRK dari sektor transportasi pada tahun 2024 mencapai 204 juta ton CO2. Sektor transportasi menyumbangkan sekitar 22 persen dari total emisi GRK nasional.

Baca juga: RI Perlu Perkuat Riset agar Hilirisasi Nikel Bisa Dukung Program PLTS 100 GW

"Pengguna BBM itu kebanyakan dari sektor transportasi. Sebesar 78 persen kita itu untuk BBM itu digunakan oleh sektor transportasi. Kita tiap hari berkendara, tiap hari kita jalan ke kantor, sekolah, itu kita pakai BBM gitu kan. Dan itu menghasilkan emisi yang cukup besar," ucapnya.

‎Sebelumnya, Chief Executive Officer, Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa mengatakan, program B50 atau mencampurkan 50 persen biodiesel ke dalam solar untuk mengurangi konsumsi bahan bakar fosil tidak otomatis memperkuat ketahanan energi jangka panjang.

"Semakin tinggi mandat biodiesel berbasis CPO, semakin besar pula alokasi minyak sawit untuk bahan bakar, potensi penurunan ekspor, tekanan terhadap pasokan domestik, dan kebutuhan subsidinya," tutur Fabby dalam keterangan tertulis, Kamis (30/4/2026).

‎Ia menganggap, B40 merupakan titik pencampuran yang lebih optimal dari segi manfaat, biaya, dan risiko fiskal. Sebaiknya, kata dia, B50 tidak dijadikan kebijakan permanen, melainkan opsi darurat yang hanya dipakai ketika harga minyak berada di atas 110 dolar AS atau Rp 1,9 juta per barel. Ia mengusulkan agar pemerintah mengembangkan bahan baku alternatif non-CPO (minyak kelapa sawit/crude palm oil).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tingkatkan Efisiensi Produksi, Industri Makanan Mulai Adopsi AI
Tingkatkan Efisiensi Produksi, Industri Makanan Mulai Adopsi AI
Swasta
Konsumsi Daging Global Naik 4 Kali Lipat, Apa Dampaknya Bagi Lingkungan?
Konsumsi Daging Global Naik 4 Kali Lipat, Apa Dampaknya Bagi Lingkungan?
LSM/Figur
IPB University Promosikan Potensi Agromaritim Indonesia di Korea Selatan
IPB University Promosikan Potensi Agromaritim Indonesia di Korea Selatan
Pemerintah
Menaikkan Pajak UMKM saat Terjadi Ketidakpastian Global Dinilai Kurang Tepat
Menaikkan Pajak UMKM saat Terjadi Ketidakpastian Global Dinilai Kurang Tepat
LSM/Figur
Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia
Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia
Pemerintah
Pakar IPB University Dorong Hilirisasi Industri Lobster Nasional
Pakar IPB University Dorong Hilirisasi Industri Lobster Nasional
Pemerintah
Kemenhut : Gap Pendanaan Konservasi Keanekaragaman Hayati Capai 74 Persen
Kemenhut : Gap Pendanaan Konservasi Keanekaragaman Hayati Capai 74 Persen
Pemerintah
Fitoplankton Bisa 'Kunci' Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
Fitoplankton Bisa "Kunci" Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
LSM/Figur
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Swasta
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
Pemerintah
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Pemerintah
Program 'SNI Goes to Campus' Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Program "SNI Goes to Campus" Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Swasta
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Pemerintah
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Pemerintah
Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau