Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia

Kompas.com, 6 Juni 2026, 16:04 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Meskipun ada komitmen global yang semakin kuat untuk mengurangi batu bara serta makin banyaknya dana transisi energi yang banyak, jumlah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara yang pensiun di Asia masih sangat terbatas karena masalah aturan dan tata kelola pemerintahan.

Hal ini terungkap dalam laporan baru dari Climate Finance Asia (CFA) yang berjudul “Mempercepat Pensiunnya PLTU Batu bara di Indonesia: Bukti Nyata dan Pemetaan Pemangku Kepentingan.”

Sebagai informasi Climate Finance Asia merupakan sebuah perusahaan dengan misi khusus untuk mengatasi tantangan perubahan iklim melalui sistem keuangan yang ramah lingkungan.

Hambatan penutupan PLTU batu bara

Melansir Eco Business, Jumat (5/6/2026) studi yang fokus pada Indonesia ini menemukan bahwa hambatan pensiun dini batu bara utamanya adalah masalah struktural.

Kontrak jual-beli listrik jangka panjang (PPA), pembuatan keputusan yang terpecah-pecah, serta risiko hukum dan keuangan yang dihadapi oleh lembaga pemerintah membuat kesepakatan pensiun PLTU sulit dijalankan, meskipun niat politik dan uangnya sudah siap.

Baca juga: Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir

Peneliti memberikan contoh macetnya proyek uji coba pensiun dini PLTU Cirebon-1. Studi menunjukkan meskipun ada dana transisi yang tertarik, proyek tetap mandek karena perubahan kontrak yang belum selesai, risiko audit, dan tidak adanya izin resmi dari pemerintah.

Indonesia sendiri terpilih untuk studi Tahap II dan menunjukkan bahwa Indonesia memiliki keterlibatan kebijakan yang lebih kuat, aktivitas pendanaan transisi energi yang mulai bermunculan, dan kecocokan yang tinggi untuk transisi batu bara, serta ketergantungan yang sangat besar pada batu bara.

Berdasarkan wawancara langsung, diskusi dengan berbagai pihak terkait, dan pemetaan lembaga, studi ini menunjukkan bahwa pensiun dini PLTU baru bisa dilakukan jika ada wadah aturan hukum yang jelas, rasa aman bagi pejabat dari pemeriksaan hukum dalam mengambil keputusan, serta kelenturan dalam kontrak kerja sama.

Tanpa kondisi-kondisi tersebut, sistem pendanaan transisi energi tidak akan bisa berjalan dengan baik.

Analisis ini fokus pada PLTU Jawa 7 dan Jawa 8 sebagai contoh kasus, dan menggunakan hasil wawancara dengan lembaga-lembaga Indonesia, perusahaan listrik negara PLN, operator pembangkit listrik, penyedia dana, serta investor energi asing yang memiliki aset batu bara di Indonesia.

Laporan ini juga menyoroti bahwa wewenang pembuatan keputusan hanya berkumpul di tangan sekelompok kecil pihak, termasuk kementerian-kementerian kunci dan PLN, sementara banyak pihak lain yang terkena dampak hanya memiliki pengaruh yang kecil.

Selain itu, wawancara dengan investor energi asing menunjukkan bahwa memensiunkan dini aset batu bara tetap sulit secara aturan tanpa adanya jaminan hukum yang aman dari negara asal mereka untuk penataan ulang aset yang ramah iklim.

Contoh kasus perbandingan dari Filipina, yaitu transaksi ACEN–SLTEC, menunjukkan bahwa pensiun dini batu bara bisa berjalan ketika kontraknya dapat dinegosiasikan ulang dan pembuatan keputusan dilakukan secara internal. Kondisi yang sangat berbeda jauh dengan sistem kelistrikan Indonesia yang dikendalikan penuh oleh negara.

“Temuan kami menunjukkan bahwa uang saja tidak cukup untuk menghentikan penggunaan batu bara,” kata Dr. Farhad Taghizadeh-Hesary, Kepala Ekonom Climate Finance Asia.

“Pensiun dini PLTU membutuhkan perintah aturan yang jelas, kepastian hukum, dan pembuatan keputusan yang kompak. Tanpa hal-hal ini, sistem pendanaan yang dirancang dengan sangat baik pun akan tetap anggur dan tidak terpakai,” katanya.

Pentingnya percepatan transisi energi

Ia menambahkan ketegangan politik yang terjadi baru-baru ini di Timur Tengah dan kekacauan di pasar bahan bakar fosil, terutama minyak dan gas alam, semakin mempertegas pentingnya mempercepat transisi energi.

Baca juga: Kapasitas PLTU Batu Bara Dunia Bertambah Tapi Konsumsinya Menurun

Beralih ke energi terbarukan mendukung tujuan perbaikan lingkungan sekaligus menjaga keamanan energi dengan cara mengurangi risiko dari guncangan luar negeri.

Dalam situasi seperti ini, mengurangi ketergantungan pada batu bara menjadi semakin penting, karena hal itu mendukung target iklim sekaligus keamanan energi jangka panjang.

Laporan ini juga memberikan panduan siap pakai yang menegaskan bahwa perbaikan aturan pemerintah harus dibereskan terlebih dahulu sebelum uang bantuan dicairkan.

Laporan menentukan langkah-langkah penting pula yang harus segera diambil oleh pembuat kebijakan, lembaga keuangan, dan pengelola pembangkit listrik.

Berdasarkan hasil studi, Climate Finance Asia mengajak semua pihak terkait untuk bergerak cepat dan kompak agar pensiun dini PLTU batu bara bisa terlaksana.

Menunda-nunda transisi ini akan membawa dampak buruk yang besar bagi kehidupan sosial dan lingkungan masyarakat di sekitar PLTU. Mempercepat pensiun dini PLTU akan membantu peralihan menuju ekonomi ramah lingkungan, memperkuat keamanan energi, mencegah risiko kerugian akibat aset yang mangkrak , serta meningkatkan kesejahteraan sosial dan kesehatan lingkungan.

Climate Finance Asia berharap bisa bekerja sama dengan pihak-pihak yang punya visi sama untuk membantu mempercepat penghentian penggunaan pembangkit listrik batubara.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
IPB University Promosikan Potensi Agromaritim Indonesia di Korea Selatan
IPB University Promosikan Potensi Agromaritim Indonesia di Korea Selatan
Pemerintah
Menaikkan Pajak UMKM saat Terjadi Ketidakpastian Global Dinilai Kurang Tepat
Menaikkan Pajak UMKM saat Terjadi Ketidakpastian Global Dinilai Kurang Tepat
LSM/Figur
Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia
Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia
Pemerintah
Pakar IPB University Dorong Hilirisasi Industri Lobster Nasional
Pakar IPB University Dorong Hilirisasi Industri Lobster Nasional
Pemerintah
Kemenhut : Gap Pendanaan Konservasi Keanekaragaman Hayati Capai 74 Persen
Kemenhut : Gap Pendanaan Konservasi Keanekaragaman Hayati Capai 74 Persen
Pemerintah
Fitoplankton Bisa 'Kunci' Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
Fitoplankton Bisa "Kunci" Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
LSM/Figur
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Swasta
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
Pemerintah
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Pemerintah
Program 'SNI Goes to Campus' Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Program "SNI Goes to Campus" Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Swasta
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Pemerintah
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Pemerintah
Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
LSM/Figur
El Niño Datang, Sektor Pertanian Asia Mulai Terancam
El Niño Datang, Sektor Pertanian Asia Mulai Terancam
Pemerintah
Saat Plastik Tak Lagi Murah, Sistem Guna Ulang Jadi Makin Relevan
Saat Plastik Tak Lagi Murah, Sistem Guna Ulang Jadi Makin Relevan
BrandzView
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau