Mereka juga dituduh melakukan kesalahan fatal yang meremehkan manfaat pengurangan daging dalam laporan polusi peternakan, serta bersikap cuek terhadap kritik ilmiah.
“Masalah utamanya adalah pada tujuan awal pembuatan laporan. Laporan ini dirancang untuk membantu pembuat kebijakan mencari celah di mana produk hewan bisa mendukung pola makan sehat. Cara pandang ini mungkin cocok untuk masyarakat yang kekurangan makanan, tetapi salah besar jika diterapkan di negara-negara kaya, di mana alasan kesehatan dan lingkungan justru menuntut pengurangan daging,” ungkap Cleo Verkuijl, seorang ilmuwan senior di Institut Lingkungan Stockholm yang tidak ikut dalam pembuatan laporan tersebut.
Senada dengan Verkuijl, Matthew Hayek, seorang peneliti sistem pangan di Universitas New York yang tidak terlibat dalam laporan ini tetapi pernah mengkritik laporan-laporan FAO terdahulu.
Dia mengatakan bahwa laporan sebagian besar menghindari pembahasan tentang dampak buruk dari tingginya konsumsi daging di negara-negara kaya serta keuntungan iklim jika konsumsi tersebut dikurangi.
“Sebaliknya, para penulis malah menggambarkan masalah lingkungan hanya sebagai sudut pandang konsumen atau hal yang perlu diteliti lagi nanti,” kata Hayek.
“Cara pandang mereka ini menutupi banyaknya penelitian dan bukti kuat yang menunjukkan bahwa tingginya konsumsi daging berdampak buruk bagi lingkungan dan memicu berbagai macam penyakit berbahaya,” terangnya lagi.
Baca juga: Perubahan Iklim Berpotensi Pangkas Separuh Lahan Peternakan Dunia pada 2100
Bumi telah memanas sekitar 1,4 derajat Celsius sejak zaman sebelum industri akibat ulah manusia yang membakar bahan bakar fosil dan merusak alam. Peternakan hewan bertanggung jawab atas 12 hingga 20 persen polusi yang membuat bumi semakin panas, serta menjadi penyebab utama hilangnya keanekaragaman hayati.
Battaglia mengatakan bahwa kerja FAO selalu berdasarkan bukti nyata dan setiap ilmuwan bisa saja memiliki pendapat yang berbeda-beda.
Ia menyebutkan bahwa pesan FAO kepada pemerintah adalah untuk mengurangi dampak buruk dari produksi daging seperti kekebalan kuman terhadap resistensi antimikroba dan polusi gas rumah kaca bukan untuk mengurangi jumlah hewan ternaknya.
“Kita sudah punya teknologi, kita punya inovasi, dan kita punya ilmu pengetahuan untuk mengurangi emisi secara drastis,” kata Battaglia.
“Ini juga masalah pilihan dan konsekuensi. Makanan yang berasal dari hewan tetap penting sebagai sumber gizi jadi kita harus membuat keseimbangan antara menekan dampak buruknya semaksimal mungkin dan memanfaatkan dampak positifnya sebesar-besarnya,” tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya