KOMPAS.com - Saat memikirkan tentang perdagangan satwa liar, kita mungkin akan membayangkan cula badak atau bayi orangutan yang dijual sebagai hewan peliharaan.
Namun, siapa sangka perdagangan satwa laut pun juga terjadi hanya saja jarang diketahui.
Banyak produk satwa laut yang sering diselundupkan, seperti sirip hiu, bisa disembunyikan di dalam koper atau paket dan dibawa melewati perbatasan negara dengan sangat mudah tanpa ketahuan.
Melansir Phys, Minggu (7/6/2026) untuk mengatasi masalah ini, para ilmuwan menggunakan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) untuk menciptakan algoritma yang bisa mendeteksi sampel satwa laut yang paling sering diperdagangkan yaitu sirip hiu, kuda laut, dan teripang dengan tingkat akurasi mencapai 92 persen.
"Perdagangan satwa liar itu kejam dan tidak bermoral," kata Dr. Vanessa Pirotta dari Universitas Macquarie, penulis utama artikel yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Ocean Sustainability.
"Bagi banyak orang, ini mungkin pertama kalinya mereka mendengar tentang penyelundupan satwa laut ilegal. Perdagangan satwa liar tidak hanya mengincar hewan-hewan yang paling sering kita dengar, seperti cula badak atau gading gajah," katanya.
Baca juga: Kontaminasi Bahan Kimia dari Plastik Bikin Perilaku Hewan Laut Berubah
Perdagangan ilegal satwa liar laut diperkirakan bernilai miliaran dolar setiap tahunnya, dan hal ini menjadi ancaman besar bagi hewan-hewan yang terancam punah.
Pengiriman hewan untuk bahan makanan, obat-obatan, hiasan, atau hewan peliharaan mengancam kelangsungan hidup kelompok satwa yang jumlahnya sudah sangat sedikit di alam.
Selain itu, hewan yang diselundupkan dalam keadaan hidup bisa saja kabur dan menjadi spesies asing yang merusak ekosistem baru. Namun, menangkap basah aksi penyelundupan ini sangat sulit dilakukan. Akibatnya, petugas tidak hanya kesulitan menghentikan perdagangan tersebut, tetapi juga susah menghitung seberapa besar dampak kerusakannya terhadap lingkungan.
Dalam studi ini para ilmuwan memilih untuk meneliti sirip hiu, kuda laut, dan teripang. Sirip hiu sangat banyak dicari untuk bahan makanan mewah, sedangkan kuda laut kering diperdagangkan untuk obat tradisional.
Baca juga: Kompleksnya Perdagangan Satwa Liar Ilegal, Aktor Utama Makin Sulit Diburu
Penyelundupan teripang memang jarang tercatat, meskipun kita tahu hewan ini sering ditangkap secara berlebihan dan ilegal; para peneliti yakin bahwa penyelundupan teripang sebenarnya jauh lebih sering terjadi daripada yang bisa kita buktikan saat ini.
Tim peneliti pun memanfaatkan kembali mesin pemindai X-ray CT yang sudah ada. Mesin ini biasanya digunakan di banyak bandara untuk mendeteksi bahan peledak atau ancaman keamanan hayati.
Pemindai ini mengambil banyak foto rontgen dari satu objek, lalu mengubahnya menjadi gambar tiga dimensi (3D) dari isi tas tersebut. Dengan menggunakan jaringan saraf komputer untuk melatih algoritma agar bisa mengenali jenis-jenis hewan yang sering diselundupkan pada gambar tersebut, para ilmuwan berharap bisa menciptakan sistem yang dapat otomatis memberi tanda peringatan pada tas yang mencurigakan untuk diperiksa.
Peneliti pun kemudian membuat total 298 hasil pemindaian dari 20 sampel teripang, 30 sampel kuda laut, dan 18 sampel sirip hiu, yang sebagian besar berasal dari barang bukti sitaan kasus penyelundupan.
Lima pemindaian berbeda dibuat untuk setiap sampel dengan posisi dan kondisi yang berbeda-beda, ditambah pemindaian yang menggabungkan beberapa jenis hewan sekaligus.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya