Para ilmuwan juga memindai sampel dengan kondisi yang meniru trik-trik para penyelundup seperti dibungkus kertas timah, dibalut pakaian, atau disembunyikan di dalam mainan anak-anak.
Mereka bahkan memasukkan gambar sampel tersebut ke dalam foto pemindaian tas normal yang kosong, sebuah teknik yang disebut Threat Image Projection. Hal ini membantu meniru kondisi nyata di lapangan, di mana barang selundupan biasanya ditemukan tersembunyi di dalam koper.
Para ilmuwan menggunakan foto-foto ini untuk melatih algoritma agar bisa mengenali sirip hiu, teripang, dan kuda laut. Setelah itu, mereka menguji kemampuan algoritma tersebut menggunakan kumpulan foto baru yang belum pernah diperlihatkan sebelumnya.
Baca juga: Kompleksnya Perdagangan Satwa Liar Ilegal, Aktor Utama Makin Sulit Diburu
Tingkat akurasi yang tinggi
Secara keseluruhan, algoritma tersebut berhasil mendeteksi barang selundupan dengan tingkat keberhasilan 92 persen.
Jika dirinci, alat ini 95 persen sukses mendeteksi sirip hiu, 96 persen sukses mendeteksi kuda laut, dan 86 persen sukses mendeteksi teripang. Sementara itu, tingkat kesalahan deteksinya adalah 13 persen yaitu 2 persen untuk sirip hiu, 1 persen untuk teripang, dan 9 persen untuk kuda laut.
Tingkat akurasi yang tinggi ini menunjukkan bahwa alat deteksi otomatis tersebut bisa menjadi senjata ampuh untuk menangkap kiriman ilegal yang selama ini lolos dari pemeriksaan, sehingga bisa membantu memutus jalur perdagangan gelap dan menghukum para penyelundup satwa laut.
Namun, program deteksi otomatis yang sukses ini barulah sebagian dari solusi.
Masih banyak jenis hewan lain yang juga diselundupkan, dan alarm yang salah bunyi tetap harus diperiksa secara manual oleh petugas. Selain itu, tidak semua bandara memiliki mesin pemindai 3D CT karena harganya yang sangat mahal. Banyak bandara yang masih bergantung pada mesin pemindai dua dimensi (2D) biasa. Oleh karena itu, deteksi otomatis ini sifatnya hanya melengkapi metode pemeriksaan yang sudah ada, bukan menggantikannya.
"Kita hanya bisa meniru skenario penyelundupan di dunia nyata berdasarkan kasus-kasus yang sudah pernah ketahuan sebelumnya," kata Pirotta.
"AI bukanlah obat ajaib yang bisa menyelesaikan semua masalah deteksi, dan AI juga bukan pengganti peran manusia atau anjing pelacak," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya