Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BMKG: 28 Persen Wilayah Indonesia Masuk Kemarau

Kompas.com, 9 Juni 2026, 13:46 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAScom - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 28,6 persen wilayah zona musim di Indonesia sudah masuk musim kemarau. Hal ini pun terlihat dari Hari Tanpa Hujan (HTH) di Indonesia bagian selatan dengan periode selama 21-30 hari.

"Kondisi kering mulai berkembang lebih konsisten, seiring dengan meningkatnya pengaruh Monsun Australia yang membawa massa udara kering dari Australia menuju wilayah Indonesia bagian selatan," kata BMKG dalam keterangannya, Selasa (9/6/2026).

BMKG menambahkan, massa udara kering yang mendominasi memicu berkurangnya kelembapan udara, dan pembentukan awan lebih terbatas terutama pada di hingga siang hari.

Pada 4-7 Juni 2026, dilaporkan suhu panas lebih dari 35 derajat celsius melanda Aceh, Sumatera Utara, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, serta Papua Barat.

Baca juga: Suhu Bumi Diprediksi Naik 1,9 Derajat C pada Tahun 2030

"Meskipun perkembangan musim kemarau mulai terlihat di sebagian wilayah Indonesia, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih teramati di sejumlah wilayah," ujar BMKG.

BMKG memprediksi aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) dalam sepekan ke depan berada pada fase 8 hingga 1 atau bergerak di wilayah Belahan Barat hingga Afrika, sehingga berdampak terhadap cuaca relatif kecil.

Namun, aktivitas konvektif MJO masih berpotensi memicu pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Papua, terutama bagian selatan hingga tengah.

Peluang awan hujan

Selain itu, gelombang Kelvin diperkirakan melintasi sebagian Sumatra Utara dan Sumatra Selatan. Gelombang Rossby Ekuatorial juga diprediksi aktif di Papua, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi, Kalimantan, hingga Jawa yang meningkatkan peluang terbentuknya awan hujan.

Baca juga: Lebih dari 2 Miliar Orang Hadapi Panas Ekstrem Tanpa Pendingin Ruangan

BMKG turut memantau sirkulasi siklonik di Samudra Pasifik utara Papua dan Samudra Hindia barat Kepulauan Nias. Fenomena ini berpotensi membentuk daerah pertemuan dan perlambatan angin yang memperkuat pertumbuhan awan hujan di Papua, Kepulauan Nias, sebagian Sumatra Barat, hingga Riau.

Karena itu, cuaca di Indonesia bakal didominasi hujan ringan hingga lebat pada 9-11 Juni 2026. Wilayah yang perlu waspada antara lain Aceh, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.

Sedangkan pada 12-15 Juni 2026 hujan diprediksi melanda Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua, serta Papua Selatan.

"Menghadapi potensi cuaca signifikan yang masih berpeluang terjadi dalam beberapa hari kedepan, BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi," papar BMKG.

Sementara, masyarakat di lokasi yang sudah masuk musim kemarau atau berada pada periode peralihan, diimbau untuk menggunakan pelindung atau tabir surya guna menghindari paparan langsung sinar matahari dan menjaga kecukupan cairan tubuh.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau