Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Panas Ekstrem Jadi Ancaman Nyata Bagi Kelangsungan Hidup Satwa Liar

Kompas.com, 20 Juni 2026, 20:04 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Sama seperti manusia, hewan liar kini semakin rentan karena krisis iklim memicu gelombang panas yang lebih lama dan lebih menyengat. Hal ini mengganggu cara mereka mencari makan dan berkembang biak, bahkan dalam kondisi yang parah, bisa menyebabkan kematian.

Dampak buruk gelombang panas terhadap manusia sudah banyak dicatat, namun efeknya terhadap alam dan lingkungan masih kurang mendapat perhatian.

Melansir Phys, Jumat (19/6/2026) sebuah penelitian yang terbit pada bulan Maret di jurnal Nature Ecology and Evolution menemukan bahwa tiga perempat spesies hewan di darat dan laut mengalami dampak buruk saat gelombang panas besar melanda wilayah barat Amerika Utara pada tahun 2021 lalu.

"Gelombang panas bisa menjadi sangat kejam bagi satwa liar," kata Gregoire Lois, ahli burung di Museum Nasional Sejarah Alam di Paris.

Ia menjelaskan bahwa hewan memiliki lebih sedikit kesempatan untuk menyelamatkan diri atau beradaptasi saat gelombang panas datang mendadak, dibandingkan jika suhu bumi naik secara perlahan.

Lantas seperti apa ancaman gelombang panas bagi satwa liar ini?

Baca juga: Begini Nasib Hewan dan Tumbuhan Pasca Ledakan Nuklir Chernobyl

RIsiko bagi burung

Burung adalah hewan yang sangat lemah terhadap suhu panas. Suhu tubuh normal mereka sudah cukup tinggi, yaitu antara 39 derajat C hingga 42 derajat C, dan angka ini akan melonjak lebih tinggi lagi saat mereka terbang atau mencari makan.

Burung juga tidak memiliki kelenjar keringat, sehingga tubuh mereka kesulitan untuk membuang rasa panas saat suhu udara sekitar melonjak drastis.

Sebagai gantinya, burung mendinginkan tubuh dengan cara menguapkan air melalui saluran pernapasan mereka. Cara ini membutuhkan sangat banyak air, sehingga membuat burung rawan terkena stres akibat panas dan dehidrasi.

Anak-anak burung yang masih berada di dalam sarang dan belum bisa terbang saat musim panas menjadi korban yang paling rentan.

"Anak burung yang kepanasan terkadang jatuh dari sarangnya saat mereka berusaha mencari udara segar," kata perwakilan dari Liga Perlindungan Burung, sebuah LSM lingkungan di Prancis.

Burung-burung yang membuat sarang di bawah atap rumah seperti burung walet dan burung layang-layang adalah kelompok yang menghadapi risiko paling besar.

Dampak ke mamalia

Hewan bertulang belakang mengatur suhu tubuh mereka dengan cara terengah-engah atau berkeringat. Namun, Lois menjelaskan bahwa proses tersebut membuat tubuh kehilangan lebih banyak air jika ukuran hewan tersebut semakin kecil.

Anne-Laure Dugue, dari program penyelamatan satwa, mengatakan bahwa risiko mati kepanasan dehidrasi sangat besar terjadi pada landak susu dan beberapa jenis tikus kecil.

Kematian massal pada kelelawar juga sering tercatat saat gelombang panas karena hewan-hewan ini menjadi linglung dan kehabisan cairan tubuh. Baru saja pada Januari 2026 kemarin, ribuan kalong mati akibat gelombang panas di bagian tenggara Australia.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Singapura Evaluasi Rencana Induk Daur Ulang Sampah Demi Perpanjang Usia TPA Semakau
Singapura Evaluasi Rencana Induk Daur Ulang Sampah Demi Perpanjang Usia TPA Semakau
Pemerintah
Fenomena Super El Nino Ancam Nasib 500 Juta Petani Global
Fenomena Super El Nino Ancam Nasib 500 Juta Petani Global
Pemerintah
Pemerintah Bakal Terbitkan Inpres Perlindungan Gajah Demi Cegah Kepunahan
Pemerintah Bakal Terbitkan Inpres Perlindungan Gajah Demi Cegah Kepunahan
Pemerintah
Imbas Cuaca Panas, Produksi Susu Merosot dan Kurang Bergizi
Imbas Cuaca Panas, Produksi Susu Merosot dan Kurang Bergizi
Pemerintah
BRIN Identfikasi Spesies Baru Rhododendron yombuwurii di Sulawesi Tengah
BRIN Identfikasi Spesies Baru Rhododendron yombuwurii di Sulawesi Tengah
Pemerintah
Penghidupan Jutaan Orang Asia Tenggara dari Sungai Mekong Terancam Tambang Ilegal di Myanmar
Penghidupan Jutaan Orang Asia Tenggara dari Sungai Mekong Terancam Tambang Ilegal di Myanmar
LSM/Figur
Kunang-kunang Semakin Sulit Dijumpai, Pertanda Apa?
Kunang-kunang Semakin Sulit Dijumpai, Pertanda Apa?
Pemerintah
Pemerintah Perancis Tetapkan Siaga Panas Tertinggi di 35 Wilayah
Pemerintah Perancis Tetapkan Siaga Panas Tertinggi di 35 Wilayah
Pemerintah
Panas Ekstrem Jadi Ancaman Nyata Bagi Kelangsungan Hidup Satwa Liar
Panas Ekstrem Jadi Ancaman Nyata Bagi Kelangsungan Hidup Satwa Liar
LSM/Figur
Formula 1 Kejar Target Ramah Lingkungan
Formula 1 Kejar Target Ramah Lingkungan
Pemerintah
Studi: Perusahaan Sulit Terapkan Strategi Iklim secara Menyeluruh
Studi: Perusahaan Sulit Terapkan Strategi Iklim secara Menyeluruh
Pemerintah
'Langkah Membumi', Memantik Aksi Nyata Generasi Muda untuk Gaya Hidup Berkelanjutan
"Langkah Membumi", Memantik Aksi Nyata Generasi Muda untuk Gaya Hidup Berkelanjutan
Swasta
Dorong Anak Muda Suarakan Gagasan, Lembaga Filantropi Dukung Festival Film Mikro 2026
Dorong Anak Muda Suarakan Gagasan, Lembaga Filantropi Dukung Festival Film Mikro 2026
LSM/Figur
Literasi Keuangan Inklusif Penting untuk Wujudkan Kemandirian Penyandang Disabilitas
Literasi Keuangan Inklusif Penting untuk Wujudkan Kemandirian Penyandang Disabilitas
Pemerintah
Pengamat: Target PLTS 100 GW di RUPTL Harus Dibarengi Pengurangan PLTU
Pengamat: Target PLTS 100 GW di RUPTL Harus Dibarengi Pengurangan PLTU
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau