JAKARTA, KOMPAS.com - Penerliti Badan Inovasi dan Riset Nasional (BRIN) menemukan spesies tanaman baru, Rhododendron yombuwurii di Sulawesi Tengah. Tanaman ini dipelihara di sekitar kawasan wisata Air Terjun Saluopa, Tenten pada Juni 2023.
Penelusuran selanjutnya mengungkap bahwa spesimen epifit ini aslinya berasal dari hutan pegunungan di Pegunungan Tokorondo, barat Tentena dan Danau Poso, pada ketinggian sekitar 1000–1800 meter di atas permukaan laut (mdpl), sebelum diselamatkan warga lokal.
Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Prima Wahyu Kusuma Hutabarat menjelaskan Rhododendron yombuwurii memiliki karakteristik khas berupa semak epifit ramping dengan bunga berbentuk corong sempit berwarna jingga cerah yang tumbuh semi-tegak atau horizontal.
Menurut dia. secara kekerabatan morfologi tanaman tersebut paling dekat dengan spesies Rhododendron celebicum.
Baca juga: BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
"Namun, Rhododendron yombuwurii memiliki perbedaan yang sangat nyata, di antaranya ukuran daun yang lebih kecil, susunan bunga yang semi-tegak bukan menggantung, serta ukuran bunga yang jauh lebih kecil dan berwarna jingga cerah, berbeda dengan R celebicum yang bunganya berukuran besar dan berwarna merah muda hingga merah," kata Prima dalam keterangannya, Senin (22/6/2026).
Sementara itu, Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Muhammad Rifqi Hariri menyatakan untuk memperkuat penentuan status taksonomi tim tidak hanya mengamati fisik tanaman secara konvensional, tetapi juga menggunakan teknologi.
Analisis pencitraan struktur mikroskopis daun dilakukan memakai Focused Ion Beam Scanning Electron Microscope (FIB-SEM) Aquilos 2 di laboratorium genomik BRIN Cibinong guna mengidentifikasi bentuk sisik spesifik daun.
Selain itu, pendekatan integratif berbasis analisis DNA molekuler pada wilayah Internal Transcribed Spacer (ITS) ribosomal nukleus turut dilakukan untuk memastikan tanaman ini merupakan garis keturunan yang terpisah dan sah sebagai spesies baru.
Baca juga: 13 Spesies Kuda Laut di RI Terancam akibat Perdagangan dan Kerusakan Habitat
“Nama epitet yombuwurii dipilih sebagai bentuk penghormatan kepada mendiang Pendeta Yombu Wuri, seorang tokoh agama dan adat dari Suku Pamona yang dikenal sangat gigih dalam menyuarakan kelestarian dan konservasi keanekaragaman hayati di wilayah Poso,” beber Rifqi.
Secara ekologis, wilayah Pegunungan Tokorondo yang menjadi tempat asal spesies ini memiliki potensi biodiversitas yang sangat tinggi. Akan tetapi, masih minim dieksplorasi karena keterbatasan akses.
Berdasarkan kajian konservasi awal menurut kriteria International Union for Conservation of Nature (IUCN), spesies Rhododendron yombuwurii berstatus Data Deficient (DD) atau Kekurangan Data. Sebab, populasinya belum pernah diobservasi secara langsung di habitat aslinya.
Sehingga diperlukan survei lapangan sistematis lebih lanjut di masa depan.
Adapun studi dilakukan BRIN bersama peneliti dari Yayasan Tumbuhan Asli Nusantara, Perkumpulan Konservasi Membumi, Lentera Matia Ndano, Universitas Lampung, serta Universitas Hasanuddin. Pihaknya menilai, temuan spesies baru membuktikan hutan-hutan pegunungan di Sulawesi masih menyimpan kekayaan flora yang belum terungkap sepenuhnya ke dunia ilmu pengetahuan.
BRIN berkomitmen untuk terus menggencarkan eksplorasi taksonomi dan penelitian biodiversitas demi mendukung pendataan, perlindungan, serta pemanfaatan flora endemik nasional secara berkelanjutan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya