Sebagian dari mereka mungkin sedang mengalami kesulitan ekonomi, mengidap penyakit menahun, mengalami disabilitas, atau hidup sebatang kara terasing dari orang lain.
"Lansia perempuan, yang biasanya lebih sering hidup sendirian, juga memiliki keuangan yang lebih terbatas dibandingkan lansia laki-laki. Hal ini bisa membuat mereka berada dalam risiko yang jauh lebih besar," ungkap Letellier.
Baca juga: Pemerintah Perancis Tetapkan Siaga Panas Tertinggi di 35 Wilayah
Cuaca ekstrem ini juga bisa menimbulkan masalah besar bagi ibu hamil.
Menurut kumpulan bukti ilmiah yang diterbitkan dalam Journal of Climate Change and Health pada tahun 2024 beberapa dampak yang paling jelas terlihat adalah meningkatnya risiko buruk pada kelahiran, termasuk bayi lahir prematur dan bayi lahir dengan berat badan yang rendah.
"Paparan panas yang ekstrem juga memicu peningkatan jumlah anak-anak yang harus dibawa ke IGD, kambuhnya penyakit asma, penyakit akibat kepanasan serta menurunnya kemampuan belajar anak di sekolah," tambah laporan tersebut.
Sebuah laporan dari lembaga Climate Central memperingatkan bahwa perubahan iklim telah melipatgandakan jumlah hari yang berbahaya bagi kehamilan akibat suhu panas selama lima tahun terakhir di lebih dari 200 negara.
Heather Massey, seorang profesor di bidang lingkungan ekstrem dari Universitas Portsmouth di Inggris, menyarankan masyarakat untuk minum banyak air putih dan mengurangi aktivitas di luar ruangan saat jam-jam paling panas.
"Menjaga ruangan di dalam rumah tetap sejuk dengan cara menutup gorden atau tirai jendela pada siang hari, serta membuka jendela pada malam hari, bisa membantu mengurangi hawa panas yang terjebak di dalam rumah," ujarnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya