JAKARTA, KOMPAS.com – Di tengah perkembangan teknologi yang bergerak semakin cepat, inovasi tidak lagi sekadar diukur dari kecanggihan produk atau kemampuan teknis semata.
Kini, perusahaan global juga dituntut agar mampu menghadirkan dampak sosial yang nyata, membangun koneksi antarmanusia, dan menciptakan pengalaman yang lebih bermakna bagi masyarakat.
Nilai tersebut juga diupayakan oleh Fujifilm melalui transformasinya selama beberapa dekade terakhir.
Berawal dari perusahaan fotografi asal Jepang, Fujifilm berkembang menjadi grup teknologi global dengan berbagai lini bisnis yang mencakup healthcare, imaging, material science, electronics, juga business innovation.
Di balik transformasi tersebut, Fujifilm membawa Group Purpose “Giving Our World More Smiles”.
Presiden dan Chief Executive (CEO) Representative Director FUJIFILM Holdings Corporation Teiichi Goto mengatakan, bagi Fujifilm, Group Purpose bukan sekadar kampanye komunikasi perusahaan. Filosofi tersebut menjadi fondasi strategis yang membentuk arah bisnis dan prioritas jangka panjang perusahaan.
“Group Purpose ’Giving Our World More Smiles’ memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar menghadirkan kebahagiaan sesaat,” ujar Goto dalam wawancara eksklusif dengan Kompas.com di Kantor Pusat Fujifilm Indonesia, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Baca juga: Fujifilm dan Siloam Bangun Kemitraan Strategis untuk Transformasi Layanan Kesehatan di Indonesia
Menurutnya, Group Purpose Fujifilm berkaitan dengan well-being, rasa aman, koneksi antarmanusia, dan kontribusi nyata terhadap masyarakat.
“Bagi Fujifilm, keberadaan perusahaan harus memiliki relevansi sosial. Teknologi tidak hanya diciptakan untuk kebutuhan industri, tetapi juga untuk menjawab tantangan yang dihadapi masyarakat,” jelas Goto.
Filosofi tersebut menjadi benang merah yang menyatukan berbagai lini bisnis Fujifilm yang sangat beragam. Mulai dari teknologi kesehatan hingga solusi imaging, semuanya diarahkan untuk menciptakan dampak positif yang lebih human-centered.
Visi itu pula yang kemudian diterjemahkan oleh Fujifilm melalui berbagai inisiatif sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah Instaxnesia.
Sebagai bagian dari Fujifilm Group, Fujifilm Indonesia berupaya mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui teknologi dan solusi yang relevan dengan kebutuhan lokal, termasuk lewat inisiatif Instaxnesia.
Baca juga: Fujifilm Rilis Instax Mini Evo Cinema, Kamera Instan yang Bisa Rekam Video dan Punya Filter Vintage
Berbeda dengan program sosial yang lahir dari instruksi korporasi pusat, Instaxnesia justru tumbuh secara organik dari tim lokal Fujifilm Indonesia. Goto mengungkapkan, program ini bermula dari satu hingga dua orang karyawan yang memiliki keinginan sederhana untuk berkontribusi kepada masyarakat.
Melalui kamera Instax, foto-foto yang diambil Yayasan Yatim Dhuafa Darul Quran Ar Rahman ditempelkan pada Photo Board sehingga membentuk rangkaian cerita yang merekam tawa, kreativitas, dan kebersamaan yang tercipta sepanjang kegiatan.Dari langkah kecil tersebut, gerakan Instaxnesia terus berkembang. Semakin banyak karyawan ikut terlibat, lalu komunitas kreatif, relawan, hingga media mulai berpartisipasi dalam inisiatif tersebut.
“Pesan utamanya adalah mari mulai melakukan sesuatu, bahkan dari hal kecil,” ujar Goto.
Salah satu program utama dalam Instaxnesia adalah “First Family Photo: A Gift for the Future”.
Program tersebut diwujudkan melalui kunjungan ke panti asuhan dengan mengajak anak-anak mengabadikan momen bersama orang-orang yang mereka anggap sebagai keluarga.
Baca juga: Kamera Fujifilm X-T30 III Hadir di Indonesia, Bawa Autofokus AI dan Perekaman 6,2K
Inisiatif itu hadir di tengah realitas sosial yang dihadapi banyak anak yatim piatu di Indonesia. Berbagai laporan mengenai perlindungan anak menunjukkan bahwa anak-anak di panti asuhan sering menghadapi keterbatasan dukungan emosional dan psikologis dalam proses tumbuh kembang mereka.
Melalui fotografi, Fujifilm Indonesia mencoba menghadirkan pendekatan yang sederhana dan personal. Anak-anak tidak hanya diajak berfoto, tetapi diberi ruang untuk memilih sendiri momen dan orang yang ingin mereka abadikan.
Di titik inilah fotografi berubah fungsi. Foto bukan lagi sekadar dokumentasi visual, melainkan medium untuk membangun rasa memiliki, pengakuan emosional, dan koneksi yang lebih mendalam.
Hasil cetak foto instan kemudian menjadi kenang-kenangan yang dapat mereka simpan dalam jangka panjang. Media sederhana ini sukses menyimpan memori tentang kasih sayang, kebersamaan, dan identitas diri.
Baca juga: Belajar dari Jepang: Cerita Fujifilm Keluar dari Krisis dengan Inovasi Tanpa Henti...
Sejak pertama kali dijalankan pada 2022, program tersebut telah menjangkau sekitar 17 panti asuhan dengan total penerima manfaat sekitar 1.350 anak.
Meski lahir di Indonesia, Fujifilm melihat nilai-nilai dalam Instaxnesia sebagai sesuatu yang universal.
Koneksi antarmanusia, rasa kebersamaan, ekspresi diri, dan dukungan emosional merupakan kebutuhan yang dimiliki masyarakat di berbagai negara.
Dalam lawatannya ke Indonesia kali ini, Goto berkesempatan mengunjungi Asrama Yatim Dhuafa Darul Qur'an Rahman di Mampang, Jakarta Selatan. Bagi Goto, kunjungan ini menjadi salah satu pengalaman yang sangat berkesan.
Ia melihat langsung bagaimana anak-anak menunjukkan antusiasme luar biasa saat melihat foto instan mereka mulai muncul perlahan. Anak-anak tampak tersenyum, berbincang satu sama lain, lalu dengan bangga menunjukkan hasil fotonya kepada teman-teman di sekitar mereka.
Menurut Goto, nilai terpenting dari pengalaman tersebut bukanlah proses memotret itu sendiri.
“(Pengalaman) yang paling membekas justru interaksi emosional yang tercipta selama dan setelah proses pengambilan foto berlangsung. Mereka begitu antusias menunggu foto instan dicetak,” kata dia.
Baca juga: Fujifilm Luncurkan Astalift The Serum, Hilangkan Kerutan di Wajah
Anak-anak diberi kebebasan memilih dengan siapa mereka ingin berfoto. Ada yang memilih sahabat dekat, ada pula yang memilih pengasuh yang mereka anggap sebagai keluarga. Kebebasan memilih itulah yang membuat pengalaman tersebut terasa sangat personal.
Goto menilai, foto cetak memiliki kekuatan berbeda jika dibandingkan sekadar gambar digital di telepon genggam. Foto yang dicetak dan dipajang dapat terus menghidupkan memori, memancing percakapan, sekaligus menghadirkan kehangatan emosional dalam kehidupan sehari-hari.
“Ini foto bersama cucu saya. Saya selalu bawa ke mana pun. Rasanya hangat walau hanya (lewat) selembar foto,” ujar Goto sambil menunjukkan foto yang terselip di dompetnya.
President and CEO, Representative Director FUJIFILM Holdings Corporation, Teiichi Goto, disambut dengan penuh antusias oleh anak-anak Yayasan Yatim Dhuafa Darul Quran Ar Rahman.Kegemaran Goto terhadap fotografi muncul sejak kecil. Kala itu, sang ayah kerap mengabadikan momen-momen sederhana lewat foto hitam-putih. Hobi itu kian besar saat Goto mendapatkan kamera pertamanya begitu duduk di bangku SMP.
“Saat punya kamera sendiri, saya mulai banyak mengambil foto, baik dengan teman maupun keluarga. Keseruan berfoto mendorong saya untuk langsung berkarier di Fujifilm setelah lulus kuliah,” cerita Goto.
Baca juga: Fujifilm dan Semangat Berbagi untuk Hidup Bersama Lebih Baik
Menurutnya, selembar foto mampu membangkitkan lebih dari sekadar ingatan visual. Foto juga dapat memunculkan kembali suasana, suara, bahkan emosi pada saat momen itu terjadi.
“(Kekuatan foto membuat) seolah-olah kita kembali berada di sana,” tambah Goto.
Bagi anak-anak panti asuhan yang jarang memiliki pengalaman difoto secara personal, momen sederhana tersebut dapat menjadi “core memory” yang membekas hingga bertahun-tahun kemudian.
Sejak berdiri pada 1934, Fujifilm secara konsisten transformasi mengikuti perubahan zaman. Di tengah perkembangan teknologi yang semakin kompleks, perusahaan tetap mempertahankan keyakinannya terhadap kekuatan hubungan antarmanusia.
Ke depan, Fujifilm tidak hanya ingin dikenal sebagai perusahaan teknologi atau produsen produk imaging.
“Kami ingin berperan dalam membangun koneksi yang lebih bermakna antara individu dan masyarakat,” tegas Goto.
Baca juga: Cara Fujifilm Indonesia Ciptakan “Rumah” di Perusahaan
Melalui Instaxnesia dan “First Family Photo”, Fujifilm Indonesia memperlihatkan bahwa teknologi dapat menjadi alat untuk menghadirkan empati, memperkuat hubungan sosial, dan menciptakan ruang ekspresi yang lebih inklusif.
Bagi Fujifilm, senyum yang ingin dihadirkan bukan sekadar ekspresi sesaat, melainkan rasa hangat yang muncul ketika seseorang merasa dihargai, diingat, dan terhubung dengan orang lain.
Di tengah dunia yang semakin digital, Fujifilm percaya bahwa foto tetap memiliki kekuatan yang abadi untuk menjaga memori dan mengingatkan bahwa setiap momen kecil dapat meninggalkan makna besar bagi masa depan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya