KOMPAS.com - Sebuah studi memperkirakan gelombang panas terburuk di Eropa pada bulan Juni lalu telah menewaskan sekitar 20.390 orang.
Perkiraan awal tersebut berdasarkan pada data jumlah kematian akibat cuaca panas di wilayah tersebut pada masa lalu.
"Angka ini masih perkiraan awal. Namun, hal ini menunjukkan bahwa kita butuh langkah penyesuaian yang cepat untuk mencegah dampak buruk seperti ini di masa depan," kata Christopher Callahan dari Indiana University.
Melansir New Scientist, Kamis (2/7/2026) perkiraan Callahan ini sendiri didasarkan pada penelitian yang diterbitkan timnya tahun lalu.
"Kami mengambil data suhu dan angka kematian di seluruh Eropa, lalu melihat hubungan antara suhu yang sangat panas dengan lonjakan angka kematian," jelas Callahan.
Peneliti kemudian menggunakan pola tersebut untuk memperkirakan seberapa besar dampak gelombang panas terhadap jumlah korban jiwa di wilayah seperti Eropa.
Baca juga: Antisipasi Suhu Panas, Perancis Matikan Sejumlah Reaktor Nuklir
Kesimpulannya adalah gelombang panas di Eropa dari tanggal 22 hingga 28 Juni 2026 menewaskan sekitar 20.390 orang. Angka tersebut termasuk 5.210 di Prancis, 4.543 di Jerman, 3.163 di Spanyol, 2.709 di Jerman, dan 862 di Inggris.
Angka-angka ini jauh lebih tinggi daripada laporan resmi saat ini. Namun, hal ini wajar karena pengumpulan dan analisis data kematian memang membutuhkan waktu.
"Angka ini adalah perkiraan model, bukan hitungan pasti. Perlu waktu beberapa bulan untuk memastikan jumlah korban yang sebenarnya, salah satunya karena penyebab 'panas' jarang ditulis langsung di sertifikat kematian," kata Raquel Nunes dari University of Warwick, Inggris.
Para ahli lain berpendapat bahwa Callahan mungkin telah melebih-lebihkan angka tersebut.
“Dua puluh ribu untuk satu minggu tampaknya sangat besar. Kita perlu meneliti detail pemodelan untuk lebih yakin,” kata Dann Mitchell dari Universitas Bristol di Inggris.
Sementara itu Marcin Walkowiak dari Universitas Ilmu Kedokteran Pozna? di Polandia mengungkapkan meski metode Callahan masuk akal, masalah utamanya adalah ia menggunakan data dari tahun 2015 hingga 2019 untuk menghitung hubungan antara panas dan kematian.
Perhitungan kasar Walkowiak kemudian menunjukkan bahwa jika diperhitungkan, jumlah kematian sebenarnya akan sekitar 15.000 orang.
Kendati demikian Callahan tetap pada pendiriannya.
"Kita tidak punya bukti kuat bahwa hubungan antara suhu panas dan angka kematian telah berubah drastis dari waktu ke waktu. Jadi, belum tentu kondisinya saat ini berbeda dengan 10 tahun lalu," ujarnya.
"Secara umum, perkiraan statistik kami yang lebih luas menghasilkan angka yang lebih tinggi daripada laporan langsung di lapangan. Hal ini karena laporan langsung sering kali melewatkan orang-orang yang meninggal akibat panas, terutama ketika penyebab kematiannya tidak terlihat jelas karena faktor suhu," tambahnya.
Namun di sisi lain, Walkowiak menyebutkan bahwa Callahan belum memperhitungkan waktu terjadinya gelombang panas. Gelombang panas dengan suhu yang sama jauh lebih mematikan jika terjadi di awal musim panas dibandingkan di akhir musim panas.
"Di akhir musim panas, sebagian besar kelompok orang yang paling rentan biasanya sudah meninggal terlebih dahulu," jelas Walkowiak.
Baca juga: Dampak Gelombang Panas Eropa, Pabrik AC di China Beroperasi 24 Jam
Metode yang digunakan Callahan juga hanya menghitung kematian langsung. Padahal, gelombang panas juga bisa memicu dampak jangka panjang, seperti meningkatnya kasus kematian akibat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), bunuh diri, dan gagal ginjal.
"Dampak panas terhadap kesehatan itu sangat bervariasi tergantung jangka waktunya," kata Mitchell.
Hal terpenting saat ini adalah mencegah jatuhnya korban jiwa lebih banyak seiring bumi yang makin hangat dan cuaca panas yang makin ekstrem.
"Pesan ini sudah sangat jelas. Panas kini menjadi bencana cuaca paling mematikan yang kita hadapi, padahal sebagian besar kematian ini sebenarnya bisa dicegah," kata Nunes.
"Saat ini kita sudah bisa memprediksi datangnya gelombang panas dengan sangat akurat. Namun, kita belum membangun sistem pendukung seperti di bidang kesehatan, perumahan, layanan sosial, dan transportasi yang bisa mengubah prediksi akurat tersebut menjadi perlindungan nyata. Cara kita beradaptasi masih tertinggal jauh dari risiko yang ada," paparnya lagi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya