KOMPAS.com - Krisis iklim menyebabkan pohon-pohon di negara kecil yang terkurung daratan di Eropa Barat, Luksemburg, tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan penyesuaian terhadap perubahan kondisi cuaca.
Selama berabad-abad, pohon-pohon di hutan Luksemburg telah beradaptasi untuk bertahan hidup dengan sedikit air.
Jika suhu naik terlalu tinggi, maka pohon-pohon di hutan Luksemburg tidak mampu mengerahkan kekuatan fisik yang sangat besar untuk memompa air dari tanah ke tajuknya.
Imbasnya, pohon-pohon di hutan Lusemburg memutus pasokan air ke cabang-cabang teratas dan tajuk pohon mati hingga ke bawah.
Baca juga: Kemhut Revisi Aturan, Peran Kesatuan Pengelolaan Hutan Bakal Diperkuat
"Pohon menghemat energi dengan mengecilkan ukurannya. Di negara-negara Mediterania, pohon-pohon umumnya lebih pendek daripada di sini karena alasan yang sama," ujar pakar kehutanan dari Badan Alam Luksemburg, Martine Neuberg, dilansir dari Luxembourg Times, Senin (6/7/2026).
Dalam cuaca panas ekstrem, pepohonan di hutan Luksemburg menutup stomata, yang digunakan untuk pertukaran gas dan fotosintesis. Beberapa spesies bahkan menggulung daunnya untuk mengurangi penguapan. Namun, refleks perlindungan ini memiliki batasnya.
Beruntungnya, saat ini kondisi hutan di hutan Luksemburg sedikit membaik. Beberapa musim panas terakhir lebih basah, suhu lebih moderat, dan data dari inventarisasi terbaru menunjukkan bahwa beberapa pohon sedikit pulih.
Namun, tren jangka panjang tetap mengkhawatirkan, yang mana dibandingkan dengan tahun 2010 atau 2015, kondisi keseluruhan akan jauh lebih buruk.
"Apa yang tampak seperti kanopi yang sehat dari kejauhan ternyata hanyalah ilusi ketika Anda mendekat: jumlah daun lebih sedikit dari biasanya, daun lebih kecil, sedikit menguning, dan di bagian atas tajuk terdapat cabang-cabang halus seperti cakar di mana dahan-dahan sudah mulai mati. Ini adalah tahap tepat sebelum pohon benar-benar meninggalkan cabang-cabang teratasnya," tutur Neuber.
Baca juga: El Nino Perparah Degradasi Hutan dan Lahan,
Berdasarkan hasil survei kesehatan hutan nasional, sekitar 80 persen pohon di Luksemburg pada 1984 berwarna hijau yang sehat. Kini, hanya 18 persen pohon berwarna hijau pada semua spesies di seluruh negeri. Selama musim panas tahun 2018-2020 serta 2022, kekeringan ekstrem terjadi berbulan-bulan, semakin banyak energi yang harus dikeluarkan pohon-pohon untuk mengakses air.
Pada titik tertentu, energinya akan habis, dengan pohon beech yang sakit di pinggir jalan merupakan simbol dari kondisi hutan Luksemburg secara keseluruhan. Sebagai spesies asli, nasib pohon beech yang sangat mengkhawatirkan justru menyingkap betapa buruknya kondisi lanskap hutan Luksemburg.
Pohon cemara juga terdampak sangat parah, meski bukan spesies asli Luksemburg dan ditanam karena kayunya dihargai sebagai bahan bangunan dan struktural. Sistem perakaran pohon cemara yang dangkal tidak mampu bertahan dengan baik dalam kondisi kekeringan.
"Apa yang dimulai oleh kekeringan selama bertahun-tahun, diselesaikan oleh kumbang kulit kayu. Pohon cemara yang melemah tidak lagi mampu mempertahankan diri dari hama tersebut; hama itu menyerang mereka secara massal, dan kemudian terjadi dengan cepat. Seluruh tegakan pohon telah mati begitu saja," ucapnya.
Spesies pohon lain yang berada di bawah tekanan di seluruh Eropa Tengah adalah pohon abu. Jamur invasif, yang diperkenalkan dari Asia, menghancurkan sistem pembuluh darahnya.
Pohon-pohon abu secara bertahap mati, baik yang muda maupun yang tua. Neuberg membandingkannya dengan pohon elm, yang mengalami nasib serupa pada tahun 1920-an. Saat itu, kematian massal pohon elm di seluruh Eropa juga disebabkan jamur yang diperkenalkan.
Baca juga: Tingginya Konsumsi Daging Sapi Dunia jadi Penyebab Utama Kerusakan Hutan Amazon
Yang telah hilang, kata dia, akan lenyap selamanya, meski mayoritas spesies pohon berdaun gugur mampu membentuk tajuk sekunder. Keanekaragaman menjadi respons sektor kehutanan terhadap semua permasalahan ini. Namun, kepunahan beberapa spesies pohon di hutan Luksemburg tidak berdampak sederehana.
"Yang memperparah masalah ini adalah kebiasaan makan selektif satwa liar. Rusa roe lebih menyukai pohon ek dan maple daripada pohon beech dan memakan spesies pohon yang tumbuh secara alami yang justru ingin kita lestarikan. Kepadatan satwa liar yang tinggi dapat menjadi masalah serius," ujar Neuberg.
Di sisi lain, regenerasi hutan membutuhkan waktu yang sangat terbatas. Ia memperingatkan untuk berhati-hati dalam melakukan intervensi terhadap hutan Luksemburg agar tidak menciptakan celah yang terlalu besar, yang akan menambah tekanan pada sistem. Dalam upaya menyelematkan hutan Luksemburg, kata dia, para ilmuwan pada dasarnya bekerja di bawah ketidakpastian yang tingi.
“Kita tidak tahu segalanya. Kita juga perlu memperoleh pengetahuan baru yang sebelumnya tidak ada. Kehutanan itu sendiri harus beradaptasi dengan perubahan iklim. Kita baru saja mulai mempelajari seperti apa tepatnya hal itu nantinya," tutur Neuberg.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya