BOGOR, KOMPAS.com - Semakin banyak pekerja kelas menengah memilih membangun usaha sampingan untuk menambah penghasilan di tengah meningkatnya biaya hidup dan terbatasnya kenaikan pendapatan dari pekerjaan utama.
Fenomena itu terlihat dalam bazar UMKM yang digelar warga di Boulevard Asana Residence Cibubur, Sabtu (4/7/2026). Salah satu peserta, Iman Ratra (34), memanfaatkan kegiatan tersebut untuk memasarkan merek parfum yang ia bangun bersama istrinya sejak 2023.
Dengan membuka stan di bazar lingkungan, Iman berharap memperoleh tambahan penghasilan di luar pekerjaannya sebagai karyawan di industri media.
Baca juga: Mendongkrak Daya Beli Kelas Menengah dengan Kebijakan Pajak
"Dalam kondisi ekonomi sekarang, bertahan saja sudah bersyukur. Saya melihat teman-teman enggak lagi mengejar gaji atau jabatan tinggi, tetapi bagaimana tetap punya penghasilan dengan membangun brand sendiri," ujar Iman.
Menurut dia, usaha sampingan bukan hanya menjadi sumber pendapatan tambahan, tetapi juga ruang untuk menyalurkan kreativitas yang sulit diwujudkan dalam lingkungan kerja yang penuh birokrasi dan jenjang organisasi.
"Kalau di korporasi banyak birokrasi dan hierarki. Bangun brand sendiri membuat saya tetap bekerja, tetapi juga punya ruang untuk menjadi diri sendiri," katanya.
Bisnis parfum yang dijalankan bersama istrinya sejak 2023 itu tidak mengganggu pekerjaan utamanya dan justru menunjang penampilannya sebagai garda depan perusahaan (frontliner). Bisnis parfumnya hanya bermain pada segmen premium tanpa perlu euforia di sosial media.
Botol-botol kosong yang dikembalikan para pelanggan di sekitar rumahnya untuk ditukar dengan potongan harga pengisian ulang parfum sebesar Rp 20.000 mencerminkan bagian dari upaya keberlanjutan bisnis dan lingkungan.
"Kami jualan di situ dari komplek-komplek, dari rumah ke rumah, dari tetangga ke tetangga. Jadi, ini bisa dibilang menyelamatkan keuangan untuk harian lah," ucapnya.
Iman mengatakan, bisnis parfum yang dijalankan secara sederhana dari lingkungan tempat tinggal hingga jaringan pertemanan kini membantu menopang kebutuhan sehari-hari.
Ia juga menerapkan sistem isi ulang (refill) dengan memberikan potongan harga bagi pelanggan yang mengembalikan botol parfum bekas sebagai bagian dari upaya mengurangi sampah kemasan.
Pengalaman serupa dirasakan Delly Ferdian (33). Peneliti di sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang transisi energi itu memulai usaha pempek beku (frozen) dengan modal sekitar Rp 800.000.
Ide bisnis tersebut muncul setelah keluarga besarnya di Palembang rutin mengirim pempek ke Jakarta. Respons positif dari rekan kerja istrinya membuat Delly melihat peluang usaha.
Baca juga: Konsumsi Naik Tak Selalu Tanda Optimistis, Kelas Menengah Justru Cemas Masa Depan
"Saat teman-teman istri minta dibawakan terus karena katanya enak, kami melihat pasarnya cukup menjanjikan. Dalam dua bulan sudah bisa membantu menambah penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari," ujarnya.
Menurut Delly, pekerjaan utamanya tetap menjadi prioritas. Namun, fleksibilitas jam kerja membuatnya dapat mengembangkan usaha sampingan tanpa mengganggu tanggung jawab di kantor.
Ia mulai menekuni bisnis pempek usai berpindah ke kantor yang lebih fleksibel jam kerjanya. Bahkan, kantornya sekarang justru memberi keleluasaan baginya untuk mengembangkan bisnis pempek, termasuk menjualnya melalui e-commerce.
"Karena yang penting pekerjaannya selesai ya? enggak mengganggu itu dan memang enggak satu ranah, enggak double job seperti menjadi sama-sama researcher di tempat lain," ucap peneliti & policy strategis di organisasi nirlaba yang berfokus mendorong kebijakan transisi energi bersih dan berkeadilan ini.
Kepala Pusat Ekonomi Makro dan Keuangan INDEF M. Rizal Taufikurahman menilai fenomena pekerja membangun usaha sampingan lebih tepat dipahami sebagai strategi bertahan dibanding sekadar tren gaya hidup.
Ia mengatakan, banyak pekerja merasa kenaikan pendapatan dari pekerjaan utama tidak lagi mampu mengimbangi peningkatan biaya hidup, mulai dari kebutuhan perumahan, pendidikan, transportasi, cicilan, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.
"Usaha sampingan, personal brand, jualan online, jasa kreatif, dan bisnis kecil menjadi bentuk diversifikasi pendapatan untuk mengurangi risiko keuangan keluarga," ujar Rizal, Senin (6/7/2026).
Menurut Rizal, tekanan terhadap kelas menengah perlu menjadi perhatian karena kelompok ini memegang peran besar dalam perekonomian nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kelas menengah dan calon kelas menengah mencakup 66,35 persen penduduk Indonesia dan menyumbang 81,49 persen konsumsi rumah tangga.
Namun, daya tahan kelompok ini mulai tergerus. Rata-rata upah pekerja pada November 2025 tercatat sekitar Rp 3,33 juta per bulan, sementara jumlah penduduk kelas menengah menyusut dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta orang pada 2025.
"Artinya, banyak pekerja merasa bekerja keras di pekerjaan utama belum tentu cukup untuk naik kelas secara ekonomi," katanya.
Baca juga: UKT dan Tekanan Kelas Menengah
Di sisi lain, perkembangan teknologi digital membuat semakin banyak orang dapat memulai usaha dengan modal relatif kecil melalui media sosial maupun platform perdagangan elektronik.
Meski demikian, Rizal mengingatkan bahwa peluang tersebut juga diiringi tantangan yang tidak ringan. Persaingan semakin ketat, biaya promosi digital meningkat, margin keuntungan menurun, dan regulasi perpajakan di sektor e-commerce mulai diperketat.
Karena itu, menurut dia, maraknya pekerja yang membangun usaha sampingan memang mencerminkan tumbuhnya semangat kewirausahaan.
Namun, fenomena tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa pendapatan dari pekerjaan utama belum cukup kuat untuk menopang standar hidup kelas menengah secara berkelanjutan.
"Fenomena ini positif dari sisi kewirausahaan, tetapi juga menunjukkan bahwa pekerjaan utama belum lagi memberikan daya dukung yang memadai bagi kehidupan kelas menengah," ujar Rizal.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya