Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak Pemanasan Samudra, Ukuran Hewan Laut Terus Mengecil

Kompas.com, 13 Juli 2026, 18:25 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Penelitian baru mengungkapkan ukuran tubuh hewan-hewan laut menyusut signifikan saat terjadi krisis iklim di bumi dibandingkan saat terjadi bencana jenis lainnya. Pola ini ternyata bahkan sudah terjadi sejak hampir setengah miliar tahun yang lalu.

Melansir Earth, Minggu (12/7/2026) para peneliti menemukan bahwa peristiwa pemanasan suhu bumi membuat ukuran tubuh makhluk laut menyusut dua kali lebih kecil daripada krisis yang disebabkan oleh hal lain.

Temuan ini menunjukkan bahwa menyusutnya ukuran hewan laut seperti ikan dan kerang yang terjadi saat ini bukanlah tren sementara, melainkan bagian dari pola lama yang terus berulang sepanjang sejarah bumi.

Jika air laut terus memanas, ukuran tubuh yang mengecil ini bisa meluas ke seluruh rantai makanan di laut. Hal ini tentu akan berdampak buruk pada industri perikanan yang menjadi sumber pangan manusia.

Menyusut sejak zaman purba

Penelitian ini didasarkan pada salah satu kumpulan data ukuran tubuh hewan laut terbesar yang pernah dikumpulkan. Di dalamnya tercatat hampir 9.000 perubahan ukuran tubuh.

Data tersebut mencakup lebih dari 1,6 juta pengukuran dari fosil hewan purba, hewan di masa lalu, hingga hewan yang hidup saat ini. Jangka waktunya mencakup masa hingga sekitar 450 juta tahun yang lalu.

Baca juga: Studi: Pemanasan Laut di Atas 1,5 Derajat C Rusak Ekosistem Global

Paulina S. Nätscher, seorang ahli biologi purba, memimpin penelitian ini di Universitas Erlangen-Nürnberg (FAU) di Jerman.

Timnya membagi setiap catatan data ke dalam tiga kondisi masa yakni masa tenang yang normal, masa krisis yang parah, dan masa pemulihan setelah krisis terjadi.

Di setiap krisis yang terjadi secara berturut-turut, ukuran tubuh hewan-hewan tersebut selalu mengecil, lalu kemudian kembali membesar setelah kondisi alam membaik.

Para ahli fosil sebenarnya sudah memiliki nama tersendiri untuk fenomena penyusutan ukuran tubuh ini, yaitu efek Lilliput. Fenomena efek Lilliput ini selalu muncul dalam catatan fosil sejarah bumi setelah terjadinya peristiwa kepunahan massal yang besar.

Bukti di seluruh samudra

Sebelumnya, hampir semua laporan tentang penyusutan ini hanya meneliti satu jenis hewan di satu tempat dalam waktu yang singkat. Hal ini membuat banyak orang ragu apakah efek tersebut benar-benar nyata.

Sebagian peneliti menganggap ini adalah hukum alam biologis yang nyata, sementara sebagian lainnya menganggap ini hanyalah kebetulan di beberapa tempat saja. Kebingungan ini akhirnya terjawab setelah semua catatan data dari seluruh dunia disatukan.

Hewan laut yang berdarah dingin selalu menyusut setiap kali krisis melanda.

Respons menyusut ini terjadi pada kerang, udang-udangan, ikan, dan kelompok hewan lainnya, entah pemicunya adalah pemanasan suhu, pendinginan suhu, atau hilangnya oksigen di dalam air.

Tubuh yang mengecil tampaknya menjadi tanda bahaya umum dari makhluk laut.

"Ini adalah tanda nyata bahwa ekosistem alam sedang dalam kondisi stres," kata Nätscher.

Kejutan yang lebih besar baru terlihat setelah semua kumpulan data tersebut akhirnya bisa dibandingkan. Para peneliti membagi masa krisis alam menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama adalah krisis akibat pemanasan global yang parah, sedangkan kelompok kedua adalah krisis akibat hal lain seperti pendinginan suhu atau berkurangnya oksigen. Hasilnya menunjukkan bahwa krisis akibat pemanasan suhu berdampak jauh lebih merusak.

Pada tiap jenis hewan yang diteliti, penyusutan ukuran tubuh mereka jauh lebih ekstrem dan drastis selama masa-masa bumi memanas tersebut.

Baca juga: Lautan Dunia Kritis, Laju Kenaikan Air Laut Naik 2 Kali Lipat

Ukuran tubuh mereka berubah sangat drastis dan tidak menentu dari satu waktu ke waktu berikutnya, jauh berbeda dengan perubahan ukuran yang lebih stabil saat menghadapi krisis jenis lain.

Tim peneliti menyebut fenomena ini sebagai pengerdilan sejati (genuine dwarfing).

Artinya, ukuran tubuh dalam satu jenis hewan memang benar-benar mengecil secara langsung, bukan karena jenis hewan yang berukuran besar punah dan menyisakan jenis hewan yang sejak awal berukuran kecil.

"Rata-rata, efek penyusutan ini terjadi dua kali lebih kuat saat suhu memanas dibandingkan saat terjadi krisis jenis lainnya," kata Kenneth De Baets, salah satu penulis penelitian tersebut.

Mengapa suhu panas membuat tubuh menyusut

Para ahli biologi telah melihat sendiri fenomena ini terjadi di lautan saat ini. Ketika air laut memanas, banyak hewan berdarah dingin tumbuh dengan sangat cepat di awal kehidupan mereka, tetapi proses tumbuh parah itu berhenti lebih cepat. Akibatnya, ukuran tubuh mereka saat dewasa menjadi lebih kecil.

Alasan utamanya berkaitan dengan oksigen. Air yang panas menyimpan lebih sedikit oksigen, sementara tubuh hewan yang kepanasan justru membakar pasokan oksigen mereka dengan jauh lebih cepat.

Hewan yang terus tumbuh besar membutuhkan lebih banyak oksigen daripada yang bisa diserap oleh insangnya. Berbagai bukti menunjukkan bahwa dengan menjaga tubuh tetap kecil, hewan tersebut bisa lebih mudah mengatasi masalah kekurangan oksigen ini.

Respons fisik yang cepat tersebut membantu menjelaskan mengapa efek pemanasan global bisa membuat ukuran tubuh hewan berubah-ubah dengan sangat cepat.

Para peneliti menduga bahwa penyusutan akibat suhu panas ini bisa terjadi dalam satu masa hidup si hewan saja. Prosesnya pun bisa berbalik sama cepatnya ketika kondisi air kembali membaik. Akibatnya, ukuran tubuh mereka tampak naik-turun dengan cepat mengikuti perubahan iklim yang tidak menentu.

Sebaliknya, krisis alam yang tidak disertai suhu panas berjalan lebih lambat. Krisis jenis ini langsung memusnahkan seluruh spesies, alih-alih mengubah ukuran tubuh hewan yang berhasil bertahan hidup.

Peringatan bagi industri perikanan

Karena tingkat penyusutan tubuh hewan di masa lalu selalu mengikuti seberapa parah suhu pemanasan bumi saat itu, catatan sejarah ini bisa digunakan untuk meramal masa depan.

Baca juga: AI Bisa Jadi Senjata Baru Berantas Perdagangan Satwa Laut Ilegal

Wolfgang Kießling, ketua tim analisis lingkungan purba di FAU, menganggap sejarah masa lalu yang sangat kuno ini sebagai gambaran nyata tentang apa yang akan terjadi pada lautan kita yang semakin memanas saat ini.

"Semakin tinggi kenaikan suhu bumi, maka akan semakin terlihat jelas pula penyusutan ukuran tubuh hewan laut," kata Kießling.

Tanda-tanda masa depan yang buruk itu sudah mulai terlihat saat ini.

Sebuah penelitian terhadap ribuan survei ikan terumbu karang di sekitar Australia menemukan bahwa rata-rata panjang tubuh ikan berkurang sekitar lima persen setiap kali suhu air memanas sebesar 1,1 derajat C.

Ukuran tubuh hewan sangat menentukan seberapa banyak ia makan, berapa banyak anak yang bisa dilahirkannya, serta seberapa banyak daging yang bisa ia berikan kepada hewan pemangsa yang memakannya.

Oleh karena itu, penurunan ukuran tubuh hewan laut secara massal ini akan berdampak buruk dan meluas ke seluruh rantai makanan di lautan.

Hasil tangkapan ikan yang semakin mengecil juga akan mengurangi pasokan protein yang biasa didapatkan oleh masyarakat pesisir dan industri perikanan dari laut.

Penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
LSM/Figur
United Tractors Gelar Wisuda 'Release Stunting' 2026
United Tractors Gelar Wisuda "Release Stunting" 2026
Swasta
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
Pemerintah
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana 'Loss and Damage', BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana "Loss and Damage", BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
LSM/Figur
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Pemerintah
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Pemerintah
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Pemerintah
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Pemerintah
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau