KOMPAS.com - Penelitian baru mengungkapkan ukuran tubuh hewan-hewan laut menyusut signifikan saat terjadi krisis iklim di bumi dibandingkan saat terjadi bencana jenis lainnya. Pola ini ternyata bahkan sudah terjadi sejak hampir setengah miliar tahun yang lalu.
Melansir Earth, Minggu (12/7/2026) para peneliti menemukan bahwa peristiwa pemanasan suhu bumi membuat ukuran tubuh makhluk laut menyusut dua kali lebih kecil daripada krisis yang disebabkan oleh hal lain.
Temuan ini menunjukkan bahwa menyusutnya ukuran hewan laut seperti ikan dan kerang yang terjadi saat ini bukanlah tren sementara, melainkan bagian dari pola lama yang terus berulang sepanjang sejarah bumi.
Jika air laut terus memanas, ukuran tubuh yang mengecil ini bisa meluas ke seluruh rantai makanan di laut. Hal ini tentu akan berdampak buruk pada industri perikanan yang menjadi sumber pangan manusia.
Penelitian ini didasarkan pada salah satu kumpulan data ukuran tubuh hewan laut terbesar yang pernah dikumpulkan. Di dalamnya tercatat hampir 9.000 perubahan ukuran tubuh.
Data tersebut mencakup lebih dari 1,6 juta pengukuran dari fosil hewan purba, hewan di masa lalu, hingga hewan yang hidup saat ini. Jangka waktunya mencakup masa hingga sekitar 450 juta tahun yang lalu.
Baca juga: Studi: Pemanasan Laut di Atas 1,5 Derajat C Rusak Ekosistem Global
Paulina S. Nätscher, seorang ahli biologi purba, memimpin penelitian ini di Universitas Erlangen-Nürnberg (FAU) di Jerman.
Timnya membagi setiap catatan data ke dalam tiga kondisi masa yakni masa tenang yang normal, masa krisis yang parah, dan masa pemulihan setelah krisis terjadi.
Di setiap krisis yang terjadi secara berturut-turut, ukuran tubuh hewan-hewan tersebut selalu mengecil, lalu kemudian kembali membesar setelah kondisi alam membaik.
Para ahli fosil sebenarnya sudah memiliki nama tersendiri untuk fenomena penyusutan ukuran tubuh ini, yaitu efek Lilliput. Fenomena efek Lilliput ini selalu muncul dalam catatan fosil sejarah bumi setelah terjadinya peristiwa kepunahan massal yang besar.
Sebelumnya, hampir semua laporan tentang penyusutan ini hanya meneliti satu jenis hewan di satu tempat dalam waktu yang singkat. Hal ini membuat banyak orang ragu apakah efek tersebut benar-benar nyata.
Sebagian peneliti menganggap ini adalah hukum alam biologis yang nyata, sementara sebagian lainnya menganggap ini hanyalah kebetulan di beberapa tempat saja. Kebingungan ini akhirnya terjawab setelah semua catatan data dari seluruh dunia disatukan.
Hewan laut yang berdarah dingin selalu menyusut setiap kali krisis melanda.
Respons menyusut ini terjadi pada kerang, udang-udangan, ikan, dan kelompok hewan lainnya, entah pemicunya adalah pemanasan suhu, pendinginan suhu, atau hilangnya oksigen di dalam air.
Tubuh yang mengecil tampaknya menjadi tanda bahaya umum dari makhluk laut.
"Ini adalah tanda nyata bahwa ekosistem alam sedang dalam kondisi stres," kata Nätscher.
Kejutan yang lebih besar baru terlihat setelah semua kumpulan data tersebut akhirnya bisa dibandingkan. Para peneliti membagi masa krisis alam menjadi dua kelompok.
Kelompok pertama adalah krisis akibat pemanasan global yang parah, sedangkan kelompok kedua adalah krisis akibat hal lain seperti pendinginan suhu atau berkurangnya oksigen. Hasilnya menunjukkan bahwa krisis akibat pemanasan suhu berdampak jauh lebih merusak.
Pada tiap jenis hewan yang diteliti, penyusutan ukuran tubuh mereka jauh lebih ekstrem dan drastis selama masa-masa bumi memanas tersebut.
Baca juga: Lautan Dunia Kritis, Laju Kenaikan Air Laut Naik 2 Kali Lipat
Ukuran tubuh mereka berubah sangat drastis dan tidak menentu dari satu waktu ke waktu berikutnya, jauh berbeda dengan perubahan ukuran yang lebih stabil saat menghadapi krisis jenis lain.
Tim peneliti menyebut fenomena ini sebagai pengerdilan sejati (genuine dwarfing).
Artinya, ukuran tubuh dalam satu jenis hewan memang benar-benar mengecil secara langsung, bukan karena jenis hewan yang berukuran besar punah dan menyisakan jenis hewan yang sejak awal berukuran kecil.
"Rata-rata, efek penyusutan ini terjadi dua kali lebih kuat saat suhu memanas dibandingkan saat terjadi krisis jenis lainnya," kata Kenneth De Baets, salah satu penulis penelitian tersebut.
Para ahli biologi telah melihat sendiri fenomena ini terjadi di lautan saat ini. Ketika air laut memanas, banyak hewan berdarah dingin tumbuh dengan sangat cepat di awal kehidupan mereka, tetapi proses tumbuh parah itu berhenti lebih cepat. Akibatnya, ukuran tubuh mereka saat dewasa menjadi lebih kecil.
Alasan utamanya berkaitan dengan oksigen. Air yang panas menyimpan lebih sedikit oksigen, sementara tubuh hewan yang kepanasan justru membakar pasokan oksigen mereka dengan jauh lebih cepat.
Hewan yang terus tumbuh besar membutuhkan lebih banyak oksigen daripada yang bisa diserap oleh insangnya. Berbagai bukti menunjukkan bahwa dengan menjaga tubuh tetap kecil, hewan tersebut bisa lebih mudah mengatasi masalah kekurangan oksigen ini.
Respons fisik yang cepat tersebut membantu menjelaskan mengapa efek pemanasan global bisa membuat ukuran tubuh hewan berubah-ubah dengan sangat cepat.
Para peneliti menduga bahwa penyusutan akibat suhu panas ini bisa terjadi dalam satu masa hidup si hewan saja. Prosesnya pun bisa berbalik sama cepatnya ketika kondisi air kembali membaik. Akibatnya, ukuran tubuh mereka tampak naik-turun dengan cepat mengikuti perubahan iklim yang tidak menentu.
Sebaliknya, krisis alam yang tidak disertai suhu panas berjalan lebih lambat. Krisis jenis ini langsung memusnahkan seluruh spesies, alih-alih mengubah ukuran tubuh hewan yang berhasil bertahan hidup.
Karena tingkat penyusutan tubuh hewan di masa lalu selalu mengikuti seberapa parah suhu pemanasan bumi saat itu, catatan sejarah ini bisa digunakan untuk meramal masa depan.
Baca juga: AI Bisa Jadi Senjata Baru Berantas Perdagangan Satwa Laut Ilegal
Wolfgang Kießling, ketua tim analisis lingkungan purba di FAU, menganggap sejarah masa lalu yang sangat kuno ini sebagai gambaran nyata tentang apa yang akan terjadi pada lautan kita yang semakin memanas saat ini.
"Semakin tinggi kenaikan suhu bumi, maka akan semakin terlihat jelas pula penyusutan ukuran tubuh hewan laut," kata Kießling.
Tanda-tanda masa depan yang buruk itu sudah mulai terlihat saat ini.
Sebuah penelitian terhadap ribuan survei ikan terumbu karang di sekitar Australia menemukan bahwa rata-rata panjang tubuh ikan berkurang sekitar lima persen setiap kali suhu air memanas sebesar 1,1 derajat C.
Ukuran tubuh hewan sangat menentukan seberapa banyak ia makan, berapa banyak anak yang bisa dilahirkannya, serta seberapa banyak daging yang bisa ia berikan kepada hewan pemangsa yang memakannya.
Oleh karena itu, penurunan ukuran tubuh hewan laut secara massal ini akan berdampak buruk dan meluas ke seluruh rantai makanan di lautan.
Hasil tangkapan ikan yang semakin mengecil juga akan mengurangi pasokan protein yang biasa didapatkan oleh masyarakat pesisir dan industri perikanan dari laut.
Penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya