KOMPAS.com - Studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Climate Change mengungkapkan hari-hari yang panas bisa menjadi lebih lama dengan tambahan panas ekstrem lebih dari empat jam pada akhir abad ke-21 jika emisi gas rumah kaca tetap tinggi.
Melansir Phys, Senin (10/8/2026) temuan ini menunjukkan bahwa penilaian berbasis jam mampu mendeteksi paparan panas yang luput dari perhatian jika hanya menggunakan data harian.
Kejadian panas ekstrem biasanya diukur menggunakan rata-rata, suhu tertinggi, atau suhu terendah harian. Namun, ukuran harian ini sering kali mengabaikan periode panas ekstrem yang berlangsung singkat tetapi sangat berdampak.
Baca juga: Bumi Makin Panas, Studi Peringatkan Heat Stress Ancam Miliaran Orang
Pengukuran suhu tiap jam sendiri jauh lebih akurat untuk mendeteksi bahaya panas singkat yang biasanya terlewat jika hanya mengukur suhu harian.
Data per jam ini penting untuk membantu pemerintah merencanakan perlindungan kesehatan masyarakat dan penanganan risiko gelombang panas secara lebih efektif.
Dalam penelitian ini, Xiaoping Liu dan timnya menganalisis data per jam dari tahun 1981 hingga 2023 yang menggabungkan pengamatan cuaca dan perkiraan model lalu memadukannya dengan proyeksi iklim hingga akhir abad ke-21.
Mereka memperkirakan bahwa selama periode tersebut, wilayah daratan dunia mengalami rata-rata sekitar 269 jam panas ekstrem setiap musim panas.
Para peneliti mendefinisikan "kejadian panas per jam" sebagai kondisi ketika suhu melebihi batas 90 persen teratas untuk jam tersebut dibandingkan dengan data acuan tahun 1981–2010.
Hasil penelitian menunjukkan lebih dari 80 persen daratan dunia menunjukkan peningkatan suhu panas ekstrem, dengan rata-rata tambahan 62 jam panas per dekade antara tahun 1981 dan 2023.
Sebanyak 28 persen dari kejadian panas ini ternyata terjadi pada hari-hari yang tidak terdeteksi sebagai "hari panas ekstrem" jika hanya menggunakan ukuran harian.
Jika emisi gas rumah kaca tetap tinggi, para peneliti memprediksi bahwa pada tahun 2070–2099, setiap hari yang panas akan memiliki tambahan lebih dari empat jam panas ekstrem dibanding kondisi saat ini (2001–2023).
Baca juga: Gelombang Panas Panjang Berisiko Picu Darurat Kesehatan Mental
Mereka juga memprediksi bahwa hari-hari yang tergolong "tidak panas" pun bisa bertambah tiga jam panas ekstrem yang kemungkinan besar tidak terdeteksi oleh pengukuran harian biasa.
Negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah menanggung lebih dari tiga perempat paparan panas saat ini maupun di masa depan, serta menghadapi lonjakan risiko paparan panas tertinggi lintas generasi.
Para peneliti berargumen bahwa penelitian selanjutnya harus berfokus pada penyebab lonjakan panas singkat per jam ini. Pemahaman yang lebih baik tentang kejadian panas jangka pendek skala jam dapat meningkatkan sistem peringatan dini, penilaian risiko kesehatan, serta upaya penyesuaian diri terhadap iklim yang makin memanas.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya