Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 8 Februari 2024, 16:00 WIB
Add on Google
Danur Lambang Pristiandaru

Editor

KOMPAS.com - Pemerintahan baru yang akan terpilih usai Pemilihan Umum (Pemilu) mendatang memiliki pekerjaan rumah (PR) untuk menyusun terobosan di sektor energi terbarukan, pangan, dan kesehatan.

Hal tersebut disampaikan Ketua Bidang ESDM Badan Pengurus Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Elia Nelson Kumaat di Jakarta, Rabu (7/2/2024). 

"(Ketiga) hal ini penting karena pada saat ini Indonesia menghadapi krisis. Tiga hal inilah yang akan menjadi kekuatan kita," ujar Elia, sebagaimana dilansir Antara

 Baca juga: PHE Siapkan Bisnis Pengeboran Deep Water hingga Geologic Hydrogen untuk Keberlanjutan Energi Masa Depan

Dari ketiga sektor tersebut, Elia menuturkan energi terbarukan menjadi sektor yang paling disorot. 

Pasalnya, belum ada komitmen nyata dari negara-negara G20 terkait pengembangan energi terbarukan untuk mengurangi dampak negatif perubahan iklim.

"Hal Itu berdampak kepada kebijakan dalam negeri Indonesia yang menjadi maju mundur (tidak pasti)," ucap Elia. 

Selain sebagai kekuatan untuk mengatasi krisis, Elia menuturkan terobosan pada ketiga sektor tersebut juga akan berdampak positif terhadap pembukaan lapangan kerja.

 Baca juga: Kerja Sama Internasional Dinilai Penting Bantu Penuhi Kebutuhan Energi Indonesia

"Pada saat dilakukan terobosan di tiga sektor ini, akan muncul pengusaha-pengusaha baru," ucapnya.

Ia mengatakan, Hipmi secara konsisten mendorong lahirnya pengusaha baru.

Sebab, idealnya jumlah pelaku wirausaha di suatu negara harus mencapai 8 hingga 10 persen dari total penduduk agar dapat dikategorikan sebagai negara maju.

Menurutnya, kini jumlah pengusaha telah tumbuh, namun masih berkisar di antara 3 hingga 4 persen dari total penduduk.

 Baca juga: AEON Mall BSD Hadirkan Energi Bersih Berkapasitas 1.161 MWh Per Tahun

Sehingga, untuk meningkatkan proporsi pengusaha sebesar 8 sampai 10 persen, Indonesia masih perlu mencetak 16,2 juta wirausahawan agar dapat menjadi negara maju.

Elia menuturkan, para pengusaha selanjutnya akan dapat membantu pemerintah membuka lapangan kerja baru dan menyerap tenaga kerja yang tersedia saat Indonesia mendapatkan bonus demografi.

"Masih ada dana yang cukup besar yang belum tersalurkan. Hal ini bisa diarahkan untuk tiga sektor tersebut dan mendukung lahirnya pelaku wirausaha baru," jelas Elia.

Baca juga: 85 Desa Energi Berdikari Pertamina Sukses Tekan 729.000 Ton Emisi Karbon

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau