Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BRIN Gandeng Undip Kembangkan Padi Biosalin, Apa Itu?

Kompas.com, 29 Desember 2024, 10:57 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Bdan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggandeng Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Diponegoro (Undip) untuk mengembangkan padi biosalin.

Padi biosalin adalah varietas yang dapat tumbuh pada lahan dengan kadar garam tinggi atau kondisi air payau, untuk meningkatkan produktivitas dan ketahanan padi.

Kementerian Pertanian menyebut, padi ini dapat beradaptasi pada kondisi lahan pesisir dan udara yang kadar garamnya tinggi. Padi salin dirilis Kementerian Pertanian berdasarkan Surat Keputusan Nomor 894 dan Nomor 895 Tahun 2020.

Baca juga:

Koordinator Kelompok Riset Pusat Riset Sistem Produksi Berkelanjutan dan Penilaian Daur Hidup (PRSPBPDH) BRIN, Tri Martini Patria mengatakan, varietas yang dikembangkan antara lain biosalin 1 agritan dan biosalin 2 agritan.

“Selain toleran terhadap salinitas, biosalin juga agak tahan terhadap hama wereng batang cokelat, penyakit hawar daun bakteri, dan hama blas,” ujar Tri dalam keterangan tertulis, Sabtu (28/12/2024).

“Sementara potensi hasilnya mencapai 8,75 ton per hektare untuk biosalin 1 dan 9,06 ton per hektar untuk biosalin 2,” tambah dia.

Anggota Dewan Pengarah BRIN Tri Mumpuni menjelaskan bahwa Indonesia memiliki garis pantai terpanjang setelah Kanada. Padi salin dinilai menjadi solusi untuk ketahanan pangan.

“Saat penduduk semakin banyak, tanah semakin sedikit, kita harus berinovasi agar suatu saat padi bisa tumbuh di laut. Apa yang bisa kita miliki mari kelola dengan masyarakat lokal supaya membawa manfaat yang lebih besar,” ungkap Mumpuni.

Baca juga: Pertanian Regeneratif Kunci Ketahanan Pangan Global

Adapun penelitian ini telah dimulai sejak 2021. Kepala Kampus Undip Jepara Nyoman Widiasa menyampaikan, kerja sama muncul setelah Pemerintah Kota Semarang menanam padi salin bersama BRIN.

“Undip berinisiasi untuk turut berkolaborasi dengan mengambil bagian untuk mengembangkan mina padi salin. Fokus kami di bidang marine, termasuk untuk padi salin kami siap bergandengan dengan BRIN,” tutur Nyoman.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau