KOMPAS.com - Jika ada mesin waktu yang membawa warga Beijing kembali ke 10 tahun lalu, mereka mungkin tak akan mengenali kotanya sendiri.
Pada masa itu, keluar-masuk rumah berarti wajib mengenakan masker tebal. Jarak pandang kerap terhalang kabut asap ekstrem atau smog. Bahkan, warga sampai membeli kantong udara segar atau fresh air bag untuk sekadar menghirup udara yang lebih bersih.
Dilansir Reuters pada (5/1/2016), indeks kualitas udara atau air quality index (AQI) di Kota Beijing pernah mencapai lebih dari 250. Angka tersebut masuk kategori sangat tidak sehat.
China Daily pada (3/1/2017) melaporkan, partikel udara halus PM2.5 di Beijing mencapai 73 mikrogram per meter kubik, nyaris tiga kali lipat dari batas aman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang berada di level 25 mikrogram per meter kubik.
Penyebab langit merah di Kota Beijing adalah kombinasi kegiatan industri dan pembakaran energi fosil, terutama batu bara.
Baca juga: Ragam Masker Saat Kabut Asap di Beijing
Berkat industrialisasi masif, China berhasil menjadi “pabrik dunia”, mengalahkan gabungan sembilan negara manufaktur terbesar lainnya. Namun, capaian besar itu juga membawa konsekuensi terhadap lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat.
Pada April 2026, realitas muram tersebut mulai memudar. Langit Beijing kembali membiru. Burung-burung pun dapat kembali terbang nyaman di atas kota.
Transformasi itu tidak terjadi begitu saja. Pemerintah China menjalankan kebijakan elektrifikasi dan pengendalian emisi secara agresif. Hanya dalam satu dekade, konsentrasi PM2.5 di Beijing turun menjadi 27 mikrogram per meter kubik pada 2025.
Meski kepadatan lalu lintas di kota berpenduduk 21 juta jiwa itu tetap tinggi, jalanan mulai kehilangan suara bising dan asap knalpot yang dahulu menyesakkan. Salah satu faktor penentunya adalah kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) yang menggantikan kendaraan berbahan bakar fosil.
Perubahan drastis itu turut dirasakan warga Indonesia yang bermukim di China, Chrisnadi. Sebagai pengguna angkutan umum dan pejalan kaki, dia merasa Beijing kini jauh lebih tenang dan aman.
Baca juga: Pabrikan China Mulai Fokus Kembangkan Mesin Hybrid
Mahasiswa Indonesia yang telah delapan bulan menetap di Beijing dan Guangzhou itu mengatakan, kota tempat dia tinggal terasa lebih nyaman berkat semakin banyaknya kendaraan listrik.
“Kalau ada truk lewat, tidak ada lagi getaran mesin diesel yang mengintimidasi atau kepulan asap hitam yang biasa kami sebut 'cumi-cumi darat'. Suasananya jauh lebih bersih," ujarnya kepada Kompas.com di sela-sela perhelatan pameran otomotif di Beijing, pada akhir April 2026.
Pengalaman senada dibagikan oleh Junhi, mahasiswa asal Bekasi yang telah tiga tahun menimba ilmu di Beijing. Menurut dia, kendaraan listrik yang memenuhi kota turut meningkatkan kualitas hidup menjadi lebih baik.
“Kota Beijing ini menjadi kota yang sangat minim polusi, sangat nyaman untuk ditinggali, baik itu belajar, bekerja maupun hidup,” ungkapnya.
Banyak orang menyebut perubahan di Beijing sebagai “revolusi senyap”. Lanskap kota yang dahulu dipenuhi raungan mesin dan asap tebal perlahan berubah menjadi lebih tenang dan bersih.
Baca juga: Produksi Kendaraan Listrik di China Disebut Bisa Pangkas Emisi dan Atasi Polusi
Tidak hanya itu, “revolusi senyap” juga mengubah paradigma masyarakat yang memandang elektrifikasi tidak hanya baik untuk bumi, tetapi juga nyaman dan murah.
Perubahan wajah kota yang terjadi di Beijing saat ini merupakan akhir dari maraton elektrifikasi terstruktur yang dijalankan Pemerintah China lebih dari satu dekade lalu.
Pada pertengahan 2010-an, Beijing dan sejumlah kota industri di China tertutup smog hingga kerap dijuluki airpocalypse. Pemerintah China pun menyatakan “perang” terhadap polusi secara agresif.
Saat berkunjung ke SAIC Motor pada 2014, Presiden China Xi Jinping menyatakan bahwa pengembangan kendaraan energi baru merupakan satu-satunya jalan bagi China untuk beralih dari pasar otomotif besar menjadi kekuatan otomotif global.
Pada tahun yang sama, Perdana Menteri China Li Keqiang juga menegaskan di hadapan Kongres Rakyat Nasional bahwa China mendeklarasikan perang terhadap polusi, sebagaimana negara itu memerangi kemiskinan.
Baca juga: Demi Capai Target Emisi, China Bangun PLTS Terbesar di Dunia
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya