Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perancis Mulai Wajibkan Warganya Pilah Sampah Organik, Dijadikan Kompos dan Biogas

Kompas.com, 4 Januari 2024, 16:00 WIB
Add on Google
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com - Pemerintah Perancis mulai menerapkan kewajiban memilah sampah organik mulai 1 Januari 2024 bagi warganya dan dunia usaha.

Dengan dukungan dari Dana Hijau, setiap pemerintah kota harus menyediakan cara bagi warganya untuk memilah sampah organik.

Sampah organik tersebut meliputi sisa makanan, kulit sayur, makanan kadaluwarsa, dan sampah kebun, sebagaimana dilansir Euronews.

Baca juga: Berapa Lama Sampah dapat Terurai?

Rumah tangga dan dunia usaha diharuskan membuang sampah organik secara terpisah, baik di tempat sampah kecil khusus untuk pengumpulan di rumah atau di tempat pengumpulan kota.

Sampah tersebut akan diubah menjadi biogas atau kompos untuk menggantikan pupuk kimia. Alternatif lainnya, warga boleh membuat kompos dari sampah organik sendiri di rumah.

Saat ini, pemerintah daerah mempunyai kewajiban untuk menyediakan sarana yang mudah bagi rumah tangga untuk membuat kompos atau memisahkan sampah organik.

Sebelumnya, peraturan pemilahan sampah organik ini hanya diterapkan kepada pihak yang menghasilkan lebih dari lima ton sampah organik per tahun.

Meskipun pemerintah kota diwajibkan menyiapkan fasilitasnya, sejauh ini belum ada penerapan denda kepada mereka yang melanggarnya.

Belum diketahui apakah peraturan yang lebih ketat termasuk denda akan diberlakukan di masa depan.

Baca juga: 4 Metode Mengubah Sampah Jadi Energi

Banyaknya sampah organik

Sampah organik dari makanan dan sisa hasil kebun menyumbang hampir sepertiga sampah rumah tangga.

Jika tercampur dengan sampah lain, sampah tersebut berakhir di tempat pembuangan sampah yang pada akhirnya akan menghasilkan metana, salah satu gas rumah kaca (GRK) penyebab pemanasan global.

Limbah makanan bertanggung jawab atas sekitar 16 persen total emisi sistem pangan di kawasan Uni Eropa.

Baca juga: Semangat Sehat Mahija Hadirkan Layanan Kesehatan bagi Pekerja Informal Sampah Daur Ulang

Secara global, food loss dan limbah makanan menghasilkan sekitar 8 persen dari seluruh emisi yang disebabkan oleh aktivitas manusia setiap tahunnya, kata PBB.

Sampah organik juga dapat mencemari kemasan yang akan didaur ulang seperti kertas, plastik, dan kaca.

Pada 2018, hanya 34 persen dari total sampah organik di Uni Eropa yang berhasil dikumpulkan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pertumbuhan Ikan Global Terus Menurun Akibat Perubahan Lingkungan
Pertumbuhan Ikan Global Terus Menurun Akibat Perubahan Lingkungan
Pemerintah
Perkuat Ekonomi Petani, Dairi Prima Mineral Luncurkan Program Agribisnis
Perkuat Ekonomi Petani, Dairi Prima Mineral Luncurkan Program Agribisnis
Swasta
Stres dan Jam Kerja Berlebih Jadi Ancaman Kematian Dini Pekerja Global
Stres dan Jam Kerja Berlebih Jadi Ancaman Kematian Dini Pekerja Global
Pemerintah
Perkuat Ketahanan Masyarakat Pesisir, Wahana Visi Indonesia Rehabilitasi Mangrove
Perkuat Ketahanan Masyarakat Pesisir, Wahana Visi Indonesia Rehabilitasi Mangrove
LSM/Figur
Arisan Telur Jadi Cara Unik Desa di Ngawi Cegah Stunting
Arisan Telur Jadi Cara Unik Desa di Ngawi Cegah Stunting
LSM/Figur
Rentan Krisis Global, Target Dedieselisasi Perlu Diperluas ke Pembangkit Listrik Energi Fosil Lain
Rentan Krisis Global, Target Dedieselisasi Perlu Diperluas ke Pembangkit Listrik Energi Fosil Lain
LSM/Figur
Sediakan Kredit Karbon, Pertamina NRE Dukung Kampanye IDXCarbon 'Aku Net-Zero Hero'
Sediakan Kredit Karbon, Pertamina NRE Dukung Kampanye IDXCarbon "Aku Net-Zero Hero"
BUMN
Data Satelit Ungkap TPA Bantargebang Jadi Kontributor Emisi Metana Tertinggi Kedua di Dunia
Data Satelit Ungkap TPA Bantargebang Jadi Kontributor Emisi Metana Tertinggi Kedua di Dunia
LSM/Figur
Laporan Terbaru: 266 Juta Penduduk Dunia Hadapi Krisis Pangan Akut
Laporan Terbaru: 266 Juta Penduduk Dunia Hadapi Krisis Pangan Akut
Pemerintah
Dampak Konflik Timur Tengah, Asia-Pasifik Berpotensi Rugi Rp 5.158 Triliun
Dampak Konflik Timur Tengah, Asia-Pasifik Berpotensi Rugi Rp 5.158 Triliun
Pemerintah
Dampak Nyata Perubahan Iklim, Mulai Pengaruhi Kehidupan Masyarakat Dunia
Dampak Nyata Perubahan Iklim, Mulai Pengaruhi Kehidupan Masyarakat Dunia
Pemerintah
Kesembuhan Kanker Anak Dunia Naik, Tapi Ada Ketimpangan Antar Negara
Kesembuhan Kanker Anak Dunia Naik, Tapi Ada Ketimpangan Antar Negara
Pemerintah
Gerakan Novo Club Ajak Ratusan Ribu Mahasiswa Ciptakan Dampak Nyata
Gerakan Novo Club Ajak Ratusan Ribu Mahasiswa Ciptakan Dampak Nyata
Swasta
Dilema Pemberantasan Ikan Sapu-Sapu di Indonesia
Dilema Pemberantasan Ikan Sapu-Sapu di Indonesia
LSM/Figur
Bencana Alam Berpotensi Ganggu Pelaksanaan Pemilu Dunia
Bencana Alam Berpotensi Ganggu Pelaksanaan Pemilu Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau