Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Transportasi Umum di Luksemburg Gratis, Bisakah Ditiru Negara Lain?

Kompas.com, 8 Januari 2024, 13:21 WIB
Faqihah Muharroroh Itsnaini,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

Biaya naik transportasi umum harus lebih rendah daripada biaya menjalankan mobil agar hal ini dapat berhasil.

Adapun sebenarnya transportasi umum di Luksemburg tidak benar-benar gratis bagi kebanyakan orang.

"Tentu saja hal ini dibayar melalui perpajakan umum dan karena masyarakat yang membayar pajak lebih banyak pada kenyataannya tidak memiliki akses bebas terhadap transportasi, mereka membayar secara tidak langsung melalui pajak mereka,” kata Bausch.

“Tetapi mereka yang, misalnya, tidak mendapat penghasilan apa-apa atau sangat sedikit, mereka adalah orang-orang yang tidak membayar pajak atau sangat sedikit pajak langsung, mereka benar-benar mendapatkannya secara gratis," imbuhnya. 

Terkait penurunan harga, laporan Greenpeace menyoroti sumber pendanaan potensial lainnya seperti pengalihan dana dari subsidi bahan bakar fosil, pajak tiket pesawat, atau penghapusan PPN dari tiket.

Baca juga: Eropa Jadi Benua yang Menghangat Paling Cepat karena Pemanasan Global

Tak hanya tiket gratis, perlu perbaiki jaringan 

Apakah ada cara lain untuk mendorong lebih banyak penggunaan transportasi umum?

Faktor utama lainnya yang membuat masyarakat Luksemburg berhenti menggunakan mobil adalah betapa mudahnya menavigasi jaringan transportasi.

Transformasi di Luksemburg lebih dari sekadar transportasi gratis, kata Bausch. Selama beberapa tahun terakhir, negara ini telah berinvestasi sekitar €500 per warga per tahun untuk modernisasi dan perluasan jaringan kereta api, misalnya.

“Kami berinvestasi empat, lima, enam kali lebih banyak pada jaringan, pada kualitas jaringan kereta api dibandingkan negara-negara Eropa lainnya. Dan yang jelas, kami juga telah sepenuhnya mereformasi sistem bus, bus nasional yang kami miliki," ujar dia. 

Menurut Bausch, jika suatu negara ingin masyarakat mengubah kebiasaan mereka, negara  harus memastikan alternatif baru tersebut benar-benar berhasil. 

Mengapa kita perlu beralih ke angkutan umum dibandingkan mobil?

Entah gratis atau tidak, tujuan utama skema gratis ini adalah agar lebih banyak masyarakat yang menggunakan transportasi umum.

Namun, mengapa hal ini jadi penting, bahkan jika di masa depan banyak mobil listrik digunakan?

Direktur DG Move, badan Komisi Eropa yang bertanggung jawab atas transportasi di Uni Eropa, Herald Ruitjers, mengatakan bahwa transportasi umum jauh lebih efisien dibandingkan transportasi individu. 

“Setiap mobil, misalnya, mengonsumsi listrik sekitar tujuh kali lebih banyak. Sekarang saya berbicara tentang mobil listrik untuk masa depan dibandingkan, misalnya, kereta api, trem, atau metro," ujar Ruitjers.  

Ia mengatakan, bahkan di masa depan ketika manusia telah melakukan dekarbonisasi sepenuhnya, kita masih harus bergantung pada transportasi umum untuk kapasitas dan efisiensi energi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
LSM/Figur
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari 'Paman Sam'
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari "Paman Sam"
LSM/Figur
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
LSM/Figur
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
LSM/Figur
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
LSM/Figur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Pemerintah
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
LSM/Figur
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
LSM/Figur
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Swasta
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Pemerintah
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Pemerintah
Kue Delapan Jam, 'Waktu' Jadi Bahan Utama
Kue Delapan Jam, "Waktu" Jadi Bahan Utama
Swasta
Video Viral Anak Gajah Diduga Terjerat, Kemenhut Sebut Lokasinya di Malaysia
Video Viral Anak Gajah Diduga Terjerat, Kemenhut Sebut Lokasinya di Malaysia
Pemerintah
Satgas Transisi Energi dan Usulan Potensi Dana Pungutan Batu Bara Rp 675 Triliun
Satgas Transisi Energi dan Usulan Potensi Dana Pungutan Batu Bara Rp 675 Triliun
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau