Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

KTH Bakau Lestari Bisa Cuan dari Menanam Mangrove di Jambi

Kompas.com, 7 Juli 2024, 11:00 WIB
Add on Google
Faqihah Muharroroh Itsnaini,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kelompok Tani Hutan (KTH) Bakau Lestari mengangkut 4.000 bibit bakau menuju hutan kawasan Hutan Mangrove Pangkal Babu, Desa Tungkal Satu, Kecamatan Tungkal Ilir, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi. 

Penanaman KTH Bakau Lestari ini guna memperkaya tanaman di hutan mangrove, dalam program baby tree yang dikembangkan oleh organisasi non-profit Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) WARSI. 

Inisiatif pemulihan mangrove sudah dilakukan sejak hampir tiga dekade lalu, hingga kini kawasan itu menjadi ekowisata di Tanjung Jabung Barat.

Sebagai reward dalam penjagaan lingkungan yang dilakukan oleh masyarakat, KKI WARSI memberikan insentif masyarakat untuk melakukan pengayaan tanaman mangrove dengan nilai Rp 45.000 per pohon.

Baca juga: Jaga Ekosistem Laut, PIS Ajak Pelajar Tanam 1.500 Bakau di Pulau Terdepan

“KKI Warsi bersama mitra jejak.in mengadakan program baby tree, yaitu program menanam pohon bakau, dan untuk memastikan pohon yang ditanam ini tumbuh, masyarakat akan merawatnya. Upaya masyarakat menanam dan merawatnya ini yang kita beri reward,” kata Koordinator Program KKI Warsi, Ade Candra, dalam pernyataannya, Jumat (5/7/2024). 

Untuk diketahui, selama ini masyarakat Desa Tungkal Satu berjuang memulihkan kawasan hutan mangrove di desa tersebut.

Kehadiran tambak udang di masa lalu seiring dengan kehilangan mangrove, berdampak pada kehidupan masyarakat yang umumnya bermata pencarian sebagai nelayan. 

Penanaman dan perawatan mangrove

Ade menjelaskan skema pemberian reward dilakukan secara bertahap. Pada saat penanaman, masyarakat mendapatkan dana sebanyak 10 persen untuk pembibitan.

Lalu, 20 persen setelah penanaman selesai, 20 persen setelah enam bulan pasca penanaman, 25 persen setelah 18 bulan pasca penanaman, dan 25 persen pembayaran terakhir dilakukan setelah 36 bulan pasca penanaman.

“Tanaman mangrove ini, biasanya pada umur 3 tahun, perakarannya sudah baik, sehingga kemungkinannya tidak tumbuh atau hilang bibit sudah bisa kita eliminir,” terang Ade.

Penanaman mangrove oleh KTH Bakau Lestari dan proses monitoring tanaman melalui aplikasi Karlon pada Selasa, 2/7/2024 di Hutan Mangrove Pangkal Babu Desa Tungkal Satu, Kecamatan Tungkal Ilir, Kabupaten Tanjung Jabung BaratDok. KKI Warsi Penanaman mangrove oleh KTH Bakau Lestari dan proses monitoring tanaman melalui aplikasi Karlon pada Selasa, 2/7/2024 di Hutan Mangrove Pangkal Babu Desa Tungkal Satu, Kecamatan Tungkal Ilir, Kabupaten Tanjung Jabung Barat

Untuk memastikan bibit yang ditanam tumbuh dan tidak hanyut terbawa arus, sebelum menanam bibit terlebih dahulu ditanam ajir, penanda sekaligus tempat tempelan bibit.

Untuk memastikan bibit tumbuh dan berkembang dengan baik, bibit ini diberi barcode yang dapat diawasi dengan aplikasi khusus. Barcode ini memuat informasi tentang jenis bibit, koordinat keberadaan bibit, dan informasi pertumbuhan bibit.

“Secara berkala akan dilakukan monitoring dan diverifikasi dengan pembaharuan informasi di aplikasi. Monitoring juga menjadi acuan dalam pencairan dana,” ujar Ade.

Total bibit yang akan ditanam sebanyak 14.2905 bibit ini melibatkan empat kelompok tani. Di antaranya KTH Bakau Lestari, Makmur Jaya, Kelompok Pemuda Pesisir, dan Kelompok Bahagia Bersamamu.

Baca juga: 1.500 Mangrove Ditanam di Instalasi Tambak Silvofishery Maros

KTH Bakau Lestari menjadi kelompok yang pertama menanam dan akan disusul oleh tiga kelompok tani lainnya.

“Program baby tree yang dijalankan selain memberikan manfaat penjagaan lingkungan juga masyarakat dapat memetik manfaat ekonomi berupa tambahan penghasilan,” katanya.

Sebagai informasi, Desa Tungkal Satu merupakan salah satu desa yang berada paling ujung di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan berbatasan langsung dengan laut Cina Selatan.

Kondisi ini membuat mereka sadar bahwa mereka lah yang pertama terdampak dari naiknya permukaan laut. Hutan mangrove saat ini merupakan benteng pertahanan terakhir dari air laut.

“Masyarakat menjaga kawasan mangrove sebagai penjaga agar kebun milik masyarakat tidak terendam air laut. Karena kalau tidak ada kawasan hutan mangrove, air akan sampai ke desa dan merendam kebun-kebun masyarakat,” kata Ketua KTH Bakau Lestari, Ambo Angka.

Penanaman mangrove oleh KTH Bakau Lestari dan proses monitoring tanaman melalui aplikasi Karlon pada Selasa, 2/7/2024 di Hutan Mangrove Pangkal Babu Desa Tungkal Satu, Kecamatan Tungkal Ilir, Kabupaten Tanjung Jabung BaratDok. KKI Warsi Penanaman mangrove oleh KTH Bakau Lestari dan proses monitoring tanaman melalui aplikasi Karlon pada Selasa, 2/7/2024 di Hutan Mangrove Pangkal Babu Desa Tungkal Satu, Kecamatan Tungkal Ilir, Kabupaten Tanjung Jabung Barat

Tantangan menanam mangrove

Pada awal tahun 2000, Angka mengungkapkan bahwa Desa Tungkal Satu pernah mengalami banjir rob, yang disebabkan oleh alih fungsi kawasan mangrove menjadi pertambakan udang milik pemodal dari luar.

Terdampak dari bencana lingkungan, masyarakat pun terdorong melakukan pemulihan kawasan mangrove. Penanaman secara swadaya itu berlanjut hingga sekarang.

Menurut Angka, tidak mudah untuk melakukan penanaman di kawasan mangrove. Pertama, petani harus melakukan pembibitan di darat, kemudian mengangkut bibit dari darat melewati jalur sungai.

Sebelum menanam bibit, petani harus memasang ajir atau alat penyangga agar bibit yang baru ditanam kokoh ketika terjadi pasang surut. Saat menanam pun butuh usaha yang ekstra, mengingat kondisi tanah basah dan berlumpur.

“Kami selama ini telah terbiasa untuk melakukan penanaman, namun kegiatan ini sedikit berbeda karena pelaporan yang detail lewat aplikasi. Tetapi kami optimis untuk menjaga pohon mangrove untuk tetap hidup,” tutur Angka.

Masyarakat di desa menggantungkan pendapatannya pada kebun kelapa, sedangkan sebagian ada yang menjadi nelayan.

Bergantung pada hasil kebun, artinya masyarakat mendapatkan penghasilan dalam waktu sekali dalam tiga bulan. Menurut Angka, program yang dilakukan dapat memberikan pendapatan tambahan bagi petani di Desa Tungkal Satu.

"Program ini menjadi pecutan semangat bagi masyarakat dalam menjaga mangrove dan meraih manfaat ekonomi dari setiap upaya yang dilakukan," pungkas Angka. 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
LSM/Figur
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
Pemerintah
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau