Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 7 Juli 2024, 09:32 WIB
Faqihah Muharroroh Itsnaini,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com -  PT Pupuk Indonesia (Persero) mengklaim telah mereduksi emisi karbon sebesar 1,91 juta ton CO2 equivalent pada 2023.

Direktur Portofolio dan Pengembangan Usaha Pupuk Indonesia Jamsaton Nababan mengatakan bahwa angka tersebut melebihi target pengurangan emisi karbon yang ditetapkan perusahaan pada 2023, yakni sebesar 1,21 juta ton CO2 equivalent.

“Tahun 2023, emisi CO2 kami malah melebihi target, kami sudah menyerap 1,91 juta ton CO2. Targetnya adalah 1,21 juta ton, tetapi yang sudah kami reduksi itu adalah 1,91 juta ton,” kata Jamsaton dalam talkshow Green Economy Expo 2024, di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (4/7/2024). 

Baca juga: Kurangi Emisi, RI Perlu Terapkan Kerangka Kerja Ketat

Menurutnya, upaya Perseroan dalam mengurangi emisi CO2 bukan semata-mata hanya untuk mengikuti peraturan, melainkan bertujuan untuk menciptakan industri pupuk yang berkelanjutan.

Perseroan telah menurunkan emisi dengan menerapkan inisiatif dekarbonisasi melalui pendekatan ekonomi sirkuler, melalui prinsip reduce, renew, dan recover.

Dengan berkontribusi mencapai target Nationally Determined Contribution (NDC), hal ini akan berdampak jangka panjang terhadap keberlangsungan produksi Pupuk Indonesia.

“Ini adalah dalam rangka bagaimana sustainability usaha kami, bisnis kami maupun growth ke depan. Maka kami harus comply dengan aturan global. Kami tidak ingin nanti suatu saat produk pupuk kami diboikot, karena kami sudah mulai masuk (reduksi emisi karbon),” papar Jamsaton. 

Upaya Pupuk Indonesia kurangi emisi

Pabrik pupuk memang merupakan salah satu industri yang menghasilkan emisi CO2 yang cukup besar. Hal itu disebabkan karena mayoritas bahan baku pupuk merupakan gas.

"Jadi artinya, proses produksi pupuk ini memang tidak terlepas daripada penggunaan energi fosil, dan memberikan emisi CO2. Untuk menghasilkan pupuk, proses pertama itu adalah dari gas, konversi ke amonia, amonia dan urea, dan turunannya. Jadi pada saat kita memproduksi amonia ini ada release CO2 yang cukup besar," tutur Jamaston. 

Salah satu upaya perseroan mengurangi hasil emisi karbon tersebut adalah dengan mengolahnya untuk industri lain. 

Baca juga: Karena AI, Emisi Karbon Google Meroket 48 Persen

Dengan penerapan ekonomi sirkular, amonia yang menghasilkan emisi karbon dioksida itu diserap menjadi bahan baku soda ash.

Kemudian, soda ash dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan kaca, keramik, tekstil, kertas, hingga aki.

Selain proses tersebut, Jamaston menerangkan bahwa pihaknya melakukan sejumlah upaya lain. Mulai dari efisiensi pabrik dan mengganti pabrik tua, hingga menanam pohon. 

"Efisiensi dan optimasi pabrik tetap akan kami lakukan sebagai prioritas. Nah yang kami lakukan adalah, revamping (pembaruan) daripada pabrik-pabrik tua dengan teknologi baru, atau mereplace (mengganti) sama sekali pabrik-pabrik tua," ujar Jamsaton. 

Tujuannya, pabrik-pabrik yang telah dilakukan pembaruan atau penggantian tersebut bisa lebih efisien terhadap pemakaian energi. 

Sebagai contoh, anak perusahaan Pupuk Indonesia yakni PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) telah memulai proses revamping pabrik tertuanya dengan melaksanakan pemasangan tiang pancang perdana (first piling) di Bontang, Kalimantan Timur, pada Mei 2024.

Di samping itu, pihaknya juga telah memasang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di lingkungan pabrik, terutama untuk kantor dan jalanan. 

Pupuk Indonesia juga mulai menyediakan kendaraan listrik untuk mobilisasi di pabrik. Serta, menerapkan kegiatan community forest yakni penanaman pohon pada waktu tertentu. 

"Setiap ulang tahun, setiap ada kegiatan kami selalu menanam pohon. Itu yang kami lakukan selama tahun 2023," pungkas Jamsaton. 

 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Walhi NTB Desak Pemerintah Moratorium IPR di 60 Titik
Walhi NTB Desak Pemerintah Moratorium IPR di 60 Titik
LSM/Figur
Banjir Rob Kian Meluas, Akademisi Unair Peringatkan Dampak Jangka Panjang bagi Pesisir Indonesia
Banjir Rob Kian Meluas, Akademisi Unair Peringatkan Dampak Jangka Panjang bagi Pesisir Indonesia
Pemerintah
Kalimantan dan Sumatera Jadi Pusat Kebakaran Hutan dan Lahan Selama 25 Tahun Terakhir
Kalimantan dan Sumatera Jadi Pusat Kebakaran Hutan dan Lahan Selama 25 Tahun Terakhir
LSM/Figur
Indonesia Perlu Belajar dari India untuk Transisi Energi
Indonesia Perlu Belajar dari India untuk Transisi Energi
LSM/Figur
Respons PT TPL usai Prabowo Minta Perusahaan Diaudit dan Dievaluasi
Respons PT TPL usai Prabowo Minta Perusahaan Diaudit dan Dievaluasi
Swasta
DLH DKI Siapkan 148 Truk Tertutup untuk Angkut Sampah ke RDF Rorotan
DLH DKI Siapkan 148 Truk Tertutup untuk Angkut Sampah ke RDF Rorotan
Pemerintah
Perancis Perketat Strategi Net Zero, Minyak dan Gas Siap Ditinggalkan
Perancis Perketat Strategi Net Zero, Minyak dan Gas Siap Ditinggalkan
Pemerintah
3.000 Gletser Diprediksi Hilang Setiap Tahun pada 2040
3.000 Gletser Diprediksi Hilang Setiap Tahun pada 2040
LSM/Figur
IATA Prediksi Produksi SAF 2025 1,9 Juta Ton, Masih Jauh dari Target
IATA Prediksi Produksi SAF 2025 1,9 Juta Ton, Masih Jauh dari Target
Pemerintah
Dorong Keselamatan Kerja, Intiwi Pamerkan Teknologi Las Berbasis VR Manufacturing Indonesia 2025
Dorong Keselamatan Kerja, Intiwi Pamerkan Teknologi Las Berbasis VR Manufacturing Indonesia 2025
Swasta
Gelondong Bernomor Di Banjir Sumatera
Gelondong Bernomor Di Banjir Sumatera
Pemerintah
Permata Bank dan PT Mitra Natura Raya Dorong Konservasi Alam lewat Tour de Kebun Raya
Permata Bank dan PT Mitra Natura Raya Dorong Konservasi Alam lewat Tour de Kebun Raya
Swasta
Hujan Lebat Desember–Januari, PVMBG Ingatkan Siaga Longsor dan Banjir Saat Nataru
Hujan Lebat Desember–Januari, PVMBG Ingatkan Siaga Longsor dan Banjir Saat Nataru
Pemerintah
89 Persen Masyarakat Indonesia Dukung EBT untuk Listrik Menurut Studi Terbaru
89 Persen Masyarakat Indonesia Dukung EBT untuk Listrik Menurut Studi Terbaru
Pemerintah
Teluk Saleh NTB jadi Habitat Hiu Paus Melahirkan dan Melakukan Pengasuhan
Teluk Saleh NTB jadi Habitat Hiu Paus Melahirkan dan Melakukan Pengasuhan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau