KOMPAS.com - Penyakit cacar air memiliki potensi penularan dan risiko komplikasi yang tinggi. Untuk pencegahan risiko penyakit ini, salah satu caranya adalah dengan pemberian imunisasi varisela.
Cacar air atau dikenal dalam istilah medis sebagai varicella, adalah penyakit sangat menular yang disebabkan oleh virus varicella-zoster (VZV).
Infeksi virus ini menyebabkan ruam kemerahan pada kulit yang gatal disertai lesi berisi cairan. Cacar air rentan menyerang anak-anak terutama di usia sekolah, dan seringkali dianggap sebagai penyakit ringan.
Dokter Anak sekaligus Edukator Kesehatan dan Penggiat Kemanusiaan dr. Mas Nugroho Ardi Santoso mengatakan, penyakit ini berpotensi menyebabkan berbagai komplikasi serius.
“Oleh karena itu, penting untuk melakukan pencegahan risiko serta komplikasi penyakit cacar air pada anak, terutama melalui pemberian imunisasi varisela,” ujar Ardi dalam pernyataannya, dikutip Minggu (7/7/2024).
Baca juga: Lindungi Anak Papua dari Polio, TP PKK Intan Jaya Dukung Pekan Imunisasi Nasional
Cacar air memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi, bahkan dapat menjadi wabah di suatu komunitas.
Virus penyebab cacar air ini dapat menular dari orang ke orang di tempat yang sama melalui droplet (percikan cairan) atau kontak langsung seperti saat menyentuh kulit yang terinfeksi cacar air.
Selain itu, virus ini juga bisa menyebar melalui udara yang terkontaminasi oleh partikel virus dari pernapasan orang yang terinfeksi, terutama apabila menghirup partikel dari cairan lepuh pada kulit yang terkena cacar air.
Ardi menjelaskan, penularan cacar air terjadi ketika seseorang yang terinfeksi cacar air menyebarkan virus kepada orang lain yang belum pernah terkena virus tersebut.
“Tingkat penularannya sangat tinggi, hingga mencapai 90 persen,” ujar Ardi.
Artinya, seseorang yang tidak memiliki kekebalan dan berada dalam kontak dekat dengan penderita cacar air berpotensi besar untuk tertular.
Seseorang yang terinfeksi varicella bisa menularkan virus mulai 1 hingga 2 hari sebelum timbulnya ruam hingga semua lesi cacar air mengering.
Bahkan, masih dianggap menular hingga tidak ada lesi baru yang muncul selama 24 jam.
Baca juga: Imunisasi Selamatkan Hingga 5 Juta Nyawa dari Penyakit Berbahaya
Cacar air ditandai dengan gejala awal berupa demam ringan yang timbul setelah 10 hingga 21 hari tubuh terpapar virus varicella.
Setelah 1 hingga 2 hari, muncul ruam kemerahan di dada, punggung, dan wajah, kemudian menyebar ke seluruh tubuh.
Ruam pada cacar air seringkali terasa gatal dan berkembang dengan cepat dari tahap awal berupa lesi yang merah (makula), kemudian menjadi tonjolan (papular), dan akhirnya berisi cairan (vesikuler) sebelum mengering.
“Gejala ini biasanya berlangsung selama 4 hingga 7 hari sampai semua lesi menjadi koreng,” terangnya.
Ardi menjelaskan bahwa cacar air berisiko memicu komplikasi yang lebih serius. Khususnya pada bayi, remaja, orang dewasa, wanita hamil, dan pasien immunocompromised (orang yang memiliki masalah dengan sistem imun).
Beberapa komplikasi tersebut antara lain: infeksi bakteri pada luka kulit akibat cacar air - umumnya dialami pada anak-anak; pneumonia atau radang paru-paru pada orang dewasa yang muncul setelah terkena cacar air; hingga gangguan pada sistem saraf pusat, mulai dari radang selaput otak hingga radang otak.
Menurutnya, penularan cacar air pada anak paling tinggi terjadi di lingkungan sekolah.
Sebagai contoh, apabila seorang anak terkena cacar air, maka dia dapat menularkan penyakit ini kepada anak-anak lainnya di lingkungan sekolah tersebut.
Oleh karena itu, imunisasi varisela penting diberikan pada anak untuk melindungi mereka dari risiko terkena cacar air.
“Anak yang sudah divaksinasi memiliki risiko terkena cacar air yang sangat rendah, dan jika terinfeksi, gejalanya lebih ringan daripada yang tidak divaksinasi,” ungkap Ardi.
Baca juga: Imunisasi Targetkan 95 Persen Anak Indonesia, Ada Tambahan 3 Vaksin
Apabila belum melakukan imunisasi varisela, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau Centers for Disease Control (CDC) menyarankan untuk melakukan vaksinasi dalam 3-5 hari setelah kontak dengan penderita cacar air.
Berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Indonesia (IDAI), vaksin varisela diberikan secara lengkap dua dosis pada anak mulai usia 12-18 bulan dengan interval 6 minggu sampai 3 bulan.
Adapun pada anak usia 13 tahun atau lebih, diberikan juga 2 dosis dengan interval 4 sampai 6 minggu.
“Dua dosis vaksin varisela efektif hingga 90 persen mencegah cacar air dan mengurangi risiko komplikasi yang mungkin muncul,” papar Ardi.
Menurutnya, pemahaman mengenai penyakit cacar air dan pencegahannya perlu terus ditingkatkan dan diperluas.
“Ini berarti bahwa imunisasi varisela bukan hanya melindungi individu yang mendapatkan vaksin, tetapi juga berperan dalam melindungi seluruh komunitas dari ancaman wabah penyakit cacar air,” pungkas Ardi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya