Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketua Umum Kowani: Perempuan Jadi Peneguh Persatuan Nasional

Kompas.com, 6 Juli 2024, 14:00 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com - Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Giwo Rubianto Wiyogo menekankan peran penting perempuan sebagai agen perubahan dalam meneguhkan persatuan nasional.

Hal ini disampaikannya dalam acara peningkatan kapasitas "Perempuan sebagai Agen Perubahan Dalam Meneguhkan Persatuan Nasional" yang diselenggarakan Himpunan Wanita Karya (HWK) di Jakarta, Rabu (3/6/2024).

Giwo mengatakan, meskipun kontribusi perempuan dalam menjaga persatuan nasional sering kali tidak terlihat secara langsung, namun nilainya sangatlah penting.

Menurutnya, perempuan berperan sebagai agen perubahan di berbagai bidang, termasuk edukasi dan teknologi, persatuan dan kesatuan, pemberdayaan ekonomi, kesehatan, digitalisasi, dan kelestarian lingkungan hidup.

Di bidang pendidikan dan pengasuhan, perempuan memiliki peran sentral dalam mendidik generasi muda. Ibu-ibu menanamkan nilai-nilai persatuan, toleransi, dan penghargaan terhadap keragaman kepada anak-anak mereka.

Dengan demikian, mereka membangun fondasi kuat bagi persatuan nasional di masa depan.

Acara peningkatan kapasitas ini dihadiri oleh Ketua DPP HWK Ir Danny Soedarsono dan Sekjen DPP HWK Dra Corry Y Soekotjo MSi.

"Peran perempuan dalam meneguhkan persatuan nasional perlu terus didorong dan diperkuat. Dengan bersatu dan bekerja sama, perempuan dapat berkontribusi signifikan dalam membangun bangsa yang maju dan sejahtera," tegas Giwo.

Perempuan juga banyak terlibat dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan yang mempromosikan dialog antarbudaya, perdamaian, dan keadilan sosial. "Mereka sering menjadi penggerak utama dalam inisiatif-inisiatif untuk menyelesaikan konflik dan membangun harmoni di masyarakat," jelasnya.

Dari sisi pembangunan ekonomi, perempuan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif. "Ini membantu mengurangi disparitas sosial dan ekonomi yang dapat mengancam persatuan nasional," tambah Giwo.

Dalam politik dan pemerintahan, perempuan sering kali membawa perspektif baru dan menekankan pentingnya inklusivitas dalam pengambilan keputusan. Mereka memperjuangkan kebijakan yang mempromosikan persatuan nasional dan perlindungan hak warga negara.

Sementara pada bidang seni, sastra, dan budaya, perempuan sering menjadi pengemban nilai-nilai kebangsaan dan kebhinekaan. Karya seni mereka sering kali mencerminkan dan mempromosikan keindahan dari keberagaman budaya Indonesia.

Bahkan dalam Kongres X Kowani yang dihadiri Presiden Pertama Ir. Soekarno, dengan jelas menyatakan, revolusi Indonesia tidak dapat berjalan tanpa adanya keterlibatan perempuan.

Dalam Kongres tersebut seluruh perempuan memakai kebaya. "Dan pada 24 juli ini, Kowani akan menyelenggarakan hari kebaya nasional pertama di istora senayan dengan mengundang 7.000 perempuan dan ASEAN," ujar Giwo.

"Kita akan kilas balik pergerakan perjuangan perempuan di istora senayan dari puluhan tahun lalu. Acara ini juga akan dibuka oleh Presiden RI," jelas Giwo yang juga penanggung jawab Hari Kebaya Nasional 2024.

Baca juga: Apakah Perempuan Memiliki Toleransi Nyeri yang Lebih Tinggi Dibandingkan Laki-laki?

Peneliti senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Siti Zuhro, mengatakan perempuan memiliki potensi kepemimpinan yang baik dan secara fitrahnya memiliki sifat keibuan.

Dalam berpolitik, tantangan yang harus dihadapi perempuan diantara patriarki yang masih kental, bahkan seleksi kandidat dilakukan oleh sekelompok kecil yang kebanyakan laki-laki.

"Bahkan di parlemen, keterwakilan perempuan masih kurang dari seharusnya. Sayangnya, sedikit media yang mengangkat isu tersebut," kata Siti Zuhro. 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BRIN Dorong Pemanfaatan Biomaterial untuk Industri Pertahanan
BRIN Dorong Pemanfaatan Biomaterial untuk Industri Pertahanan
Pemerintah
Filosi Tanam 1.000 Pohon di NTT untuk Hijaukan Kali Liliba
Filosi Tanam 1.000 Pohon di NTT untuk Hijaukan Kali Liliba
Swasta
Menteri LH: Indonesia Masuki Fase Kedua Pembangunan, Bertumpu pada Kredit Karbon
Menteri LH: Indonesia Masuki Fase Kedua Pembangunan, Bertumpu pada Kredit Karbon
Pemerintah
Kereta Hidrogen Komersial Pertama Jepang Siap Meluncur 2027
Kereta Hidrogen Komersial Pertama Jepang Siap Meluncur 2027
Pemerintah
UNU Yogyakarta Buka Beasiswa Kuliah terkait Pembangunan Berkelanjutan
UNU Yogyakarta Buka Beasiswa Kuliah terkait Pembangunan Berkelanjutan
LSM/Figur
Penurunan Angka Kelahiran Bentuk Ulang Transisi Energi Global
Penurunan Angka Kelahiran Bentuk Ulang Transisi Energi Global
Pemerintah
Peneliti Khawatir Suhu Daun Tanaman Naik Lebih Cepat akibat Perubahan Iklim
Peneliti Khawatir Suhu Daun Tanaman Naik Lebih Cepat akibat Perubahan Iklim
LSM/Figur
Limbah Tandan Kosong Sawit Berpotensi Jadi Bahan Plafon yang Lebih Kuat dan Murah
Limbah Tandan Kosong Sawit Berpotensi Jadi Bahan Plafon yang Lebih Kuat dan Murah
LSM/Figur
Gelombang Panas Ancam Stadion, Ahli Dorong Renovasi untuk Hadapi Krisis Iklim
Gelombang Panas Ancam Stadion, Ahli Dorong Renovasi untuk Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Pindad Kembangkan Amunisi dari Limbah Kelapa Sawit
Pindad Kembangkan Amunisi dari Limbah Kelapa Sawit
BUMN
 Primata Kunci Cegah Kepunahan Massal akibat Perubahan Iklim
Primata Kunci Cegah Kepunahan Massal akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
IATA: Penerbangan Ramah Lingkungan Mahal dan Maskapai Tak Sanggup Tanggung Sendiri
IATA: Penerbangan Ramah Lingkungan Mahal dan Maskapai Tak Sanggup Tanggung Sendiri
Pemerintah
Peta Risiko Penyakit Menular Lewat Air Bergeser akibat Perubahan Iklim
Peta Risiko Penyakit Menular Lewat Air Bergeser akibat Perubahan Iklim
LSM/Figur
Pasar Hijau Tembus Rp179,77 Kuadriliun, Asia Makin Dominan
Pasar Hijau Tembus Rp179,77 Kuadriliun, Asia Makin Dominan
Pemerintah
Pertamina Usul Blending SAF 1 Persen Rute Jakarta-Bali, Jaga Keseimbangan Emisi dan Harga Tiket Pesawat
Pertamina Usul Blending SAF 1 Persen Rute Jakarta-Bali, Jaga Keseimbangan Emisi dan Harga Tiket Pesawat
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau