Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemerintah Akan Beri Literasi Digital ke Pemasok Makan Bergizi Gratis

Kompas.com, 29 November 2024, 15:34 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko menyampaikan bahwa pemerintah akan membekali literasi digital bagi pemasok bahan makanan program makan bergizi gratis.

Dia menyebut, saat ini mayoritas UMKM di desa belum memanfaatkan teknologi digital. Sehingga, pemerintah mendorong penggunaan teknologi termasuk artificial intelligence (AI) bagi pengusaha kecil.

“Saya sudah bicara juga pada menteri Komdigi untuk nanti kasih rekomendasi-rekomendasi kebijakan digitalisasi macam apa, untuk membuat orang miskin bisa ikut di dalam program digitalisasi dan menyuplai makan bergizi gratis,” kata Budiman di Jakarta Selatan, Kamis (28/11/2024).

Baca juga:


Budiman mengakui, digitalisasi harus diterapkan secara perlahan kepada mayarakat terutama petani ataupun pelaku UMKM. Karenanya, pemerintah berkomitmen melatih masyarakat terbiasa dengan hal tersebut.

“Kami harus melatih itu, enggak cepat.

Tetapi setidaknya, dengan program makan bergizi gratis yang terus-menerus ini, akan ada proses belajar. Di situlah pentingnya Komdigi,” papar Budiman.

Ia menjelaskan, setidaknya ada 82 juta orang yang akan menerima makan bergizi gratis hingga 2027 mendatang. Artinya, diperlukan bahan makanan berupa telur, daging, beras, dan sayuran untuk memenuhi program tersebut.

“Pemerintah sudah mengamankan siapa yang belinya. Ayo lebih digital, agar kamu bisa melaporkan kualitas berasmu, telur, dan sayur di platform digital yang sederhana. Mungkin bisa ada AI juga nantinya,” kata dia.

Sebagai informasi, pemerintah mengalokasikan Rp 71 triliun untuk program makan bergizi gratis pada APBN 2025.

Mengutip laman Indonesia.go.id, Badan Gizi Nasional bakal melakukan tiga skema pembagian makanan. Pertama, membangun dapur pusat. Kedua, membangun dapur di sekolah atau pesantren dengan jumlah siswa minimal 2.000 orang.

Baca juga:

Ketiga, melayani di daerah-daerah terpencil yang sulit dijangkau dalam waktu 30 menit. Sedangkan wilayah yang harus dijangkau dalam satu hari, akan dikirimkan dengan paket vacuum.

Pengiriman ke daerah terpencil dilakukan setiap satu bulan atau satu pekan, dengan menu makanan yang bervariasi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Panas Ekstrem di Indonesia, Suhu Tertinggi Capai 37 Derajat
Panas Ekstrem di Indonesia, Suhu Tertinggi Capai 37 Derajat
Pemerintah
Fakta Proyek Waste to Energy di Indonesia, Waktu hingga Lokasi
Fakta Proyek Waste to Energy di Indonesia, Waktu hingga Lokasi
Pemerintah
Agroforestri: Jembatan Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketahanan Pangan
Agroforestri: Jembatan Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketahanan Pangan
Pemerintah
Prabowo Susun 2 Kebijakan Perlindungan Gajah dan Taman Nasional
Prabowo Susun 2 Kebijakan Perlindungan Gajah dan Taman Nasional
Pemerintah
Hujan Masih Turun di Indonesia, Diprediksi hingga Sepekan ke Depan
Hujan Masih Turun di Indonesia, Diprediksi hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Konflik AS-Israel Vs Iran Jadi Momentum Indonesia Percepat Penggunaan BBM Bersih
Konflik AS-Israel Vs Iran Jadi Momentum Indonesia Percepat Penggunaan BBM Bersih
Pemerintah
Hutan Mangrove Bisa Kekurangan Oksigen akibat Pemanasan Global
Hutan Mangrove Bisa Kekurangan Oksigen akibat Pemanasan Global
LSM/Figur
Apa Peran AI dalam Hadapi Tantangan Sistem Pangan Global?
Apa Peran AI dalam Hadapi Tantangan Sistem Pangan Global?
LSM/Figur
GEF Kucurkan Rp 74,6 Miliar untuk Lindungi Biodiversitas dari Spesies Invasif
GEF Kucurkan Rp 74,6 Miliar untuk Lindungi Biodiversitas dari Spesies Invasif
Pemerintah
Peringatan Hari Air Sedunia, Akses Air Minum Aman di Indonesia Masih Jadi Tantangan
Peringatan Hari Air Sedunia, Akses Air Minum Aman di Indonesia Masih Jadi Tantangan
Swasta
Menambang Nikel di Kota, Ini Keuntungan Daur Ulang Baterai Bekas
Menambang Nikel di Kota, Ini Keuntungan Daur Ulang Baterai Bekas
Pemerintah
Kolaborasi Beorganik dan Anteraja Hadirkan Ruang Berbagi untuk Anak-anak Rumah Yatim
Kolaborasi Beorganik dan Anteraja Hadirkan Ruang Berbagi untuk Anak-anak Rumah Yatim
Swasta
Potensi Hidrogen Hijau di Indonesia Capai 345,6 juta Ton per Tahun, Apa Tantangannya?
Potensi Hidrogen Hijau di Indonesia Capai 345,6 juta Ton per Tahun, Apa Tantangannya?
LSM/Figur
Tren Cyberbullying pada Anak Meningkat, Diperparah oleh AI
Tren Cyberbullying pada Anak Meningkat, Diperparah oleh AI
Pemerintah
Gandeng Pegadaian, Pemkot Banjarmasin Inisiasi Program Menabung Sampah Jadi Emas
Gandeng Pegadaian, Pemkot Banjarmasin Inisiasi Program Menabung Sampah Jadi Emas
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau