Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Judi Online Jadi Penyebab Lahirnya Kemiskinan Baru

Kompas.com, 29 November 2024, 07:25 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko mengungkapkan, judi online menjadi penyebab lahirnya kemiskinan baru.

Hal ini disampaikan Budiman, merespons pernyataan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar soal judi online meningkatkan angka kemiskinan.

"Sepakat, judol (judi online) itu menjadi faktor lahirnya kemiskinan baru. Memang seperti itu," ujar Budiman usai menghadiri acara Kagama AI di Jakarta Selatan, Kamis (28/11/2024).

Ia menyatakan, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) saat ini tengah gencar menutup akses ke laman judi online. Selain itu, pemerintah menangkap para pelaku di balik bisnis haram tersebut.

Baca juga:

"Kami melakukan literasi, supaya orang yang dapat BLT uangnya dipakai untuk pemberdayaan bisnis, bukan untuk judol," jelas Budiman.

Budiman menjelaskan, pertambahan kemiskinan turut dipengaruhi fenomena digitalisasi, robotisasi yang menyebabkan beberapa pabrik memecat buruh-buruhnya.

"Beberapa perusahaan yang tidak siap melakukan itu, kalah bersaing. Itu kemudian bangkrut juga, menyebabkan juga orang miskin baru," tutur dia.

Karena itu, BP Taskin berkoordinasi dengan Kementerian Sosial, Kementerian Ketenagakerjaan, serta BPJS Ketenagakerjaan untuk mengentaskan kemiskinan.

Diberitakan sebelumnya, Muhaimin Iskandar mengatakan bahwa pemerintah harus terus menyosialisasikan bahaya judi online terhadap masyarakat. Menurut dia, judi online bukanlah permainan yang dapat memperoleh keuntungan.

“Jadi tidak ada yang menguntungkan, judi itu mengeluarkan uang, yang ditipu oleh penyelenggara, tidak ada untung, jadi adiktif, sifat ketergantungan, itu penipuan!” ucap Muhaimin di Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (27/11/2024).

Baca juga: Tak Ada Tujuan SDGs yang Tercapai Tanpa Libatkan Perempuan

Pihaknya bakal menggelar rapat bersama kementerian terkait untuk membahas antisipasi dari maraknya judi online yang sudah menjadi bencana sosial. Sebab, judi online telah merusak kehidupan masyarakat.

“Yang paling pokok ya dari masyarakat yang belum miskin menjadi miskin gara-gara judi online,” terang Muhaimin.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Trump Tarik Amerika Serikat dari PBB, Pendanaan Organisasi Lingkungan Dihentikan
Trump Tarik Amerika Serikat dari PBB, Pendanaan Organisasi Lingkungan Dihentikan
Pemerintah
Fluktuasi Harga Batu Bara Disebut Hantui Indonesia karena Ketergantungan Energi Fosil
Fluktuasi Harga Batu Bara Disebut Hantui Indonesia karena Ketergantungan Energi Fosil
LSM/Figur
Pria Lebih Rentan, Mikroplastik Bisa Menyumbat Arteri dan Percepat Serangan Jantung
Pria Lebih Rentan, Mikroplastik Bisa Menyumbat Arteri dan Percepat Serangan Jantung
LSM/Figur
Kemenhut Bantah Kantor Digeledah Kejagung Terkait Dugaan Korupsi Nikel
Kemenhut Bantah Kantor Digeledah Kejagung Terkait Dugaan Korupsi Nikel
Pemerintah
Tak Sekadar Polusi, Mikroplastik Ganggu Laut Serap Karbon Dioksida
Tak Sekadar Polusi, Mikroplastik Ganggu Laut Serap Karbon Dioksida
LSM/Figur
Salju Kian Langka, Krisis Iklim Tekan Pariwisata Musim Dingin Eropa
Salju Kian Langka, Krisis Iklim Tekan Pariwisata Musim Dingin Eropa
LSM/Figur
Wacana Pangkas Produksi Batu Bara Dinilai Harus Percepat Transisi Energi
Wacana Pangkas Produksi Batu Bara Dinilai Harus Percepat Transisi Energi
Pemerintah
Krisis Iklim Picu Kematian Pohon Massal di Hutan Australia
Krisis Iklim Picu Kematian Pohon Massal di Hutan Australia
LSM/Figur
Mengapa Rambutan Langka Saat Akhir 2025? Ini Penjelasan Pakar
Mengapa Rambutan Langka Saat Akhir 2025? Ini Penjelasan Pakar
Pemerintah
Teknologi AI Jadi Cara Industri Berat Kejar Target Nol Emisi
Teknologi AI Jadi Cara Industri Berat Kejar Target Nol Emisi
LSM/Figur
2,5 Juta Hektare Hutan di Jambi Hilang dalam 5 dekade
2,5 Juta Hektare Hutan di Jambi Hilang dalam 5 dekade
LSM/Figur
Guru Besar Unpad Sebut Banjir Sumatera Tak Cuma Dipicu Hujan Ekstrem
Guru Besar Unpad Sebut Banjir Sumatera Tak Cuma Dipicu Hujan Ekstrem
LSM/Figur
Ilmuwan Ungkap Bahaya Mikroplastik untuk Lautan dan Suhu Bumi
Ilmuwan Ungkap Bahaya Mikroplastik untuk Lautan dan Suhu Bumi
LSM/Figur
Belajar dari India, Indonesia Dinilai Perlu Target Ambisius EBT
Belajar dari India, Indonesia Dinilai Perlu Target Ambisius EBT
LSM/Figur
Pakar Ungkap Peran Hutan dan Iklim Mikro untuk Kurangi Risiko Banjir Bandang
Pakar Ungkap Peran Hutan dan Iklim Mikro untuk Kurangi Risiko Banjir Bandang
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau