Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Minuman dalam Kemasan Plastik Kecil Paling Berbahaya bagi Lingkungan

Kompas.com, 11 Februari 2025, 13:03 WIB
Yunanto Wiji Utomo

Penulis

KOMPAS.com - Alasan kepraktisan kerap kali membuat kita mengonsumsi minuman dengan kemasan plastik, mulai dari air mineral, teh, kopi, minuman berprotein tinggi, hingga vitamin.

Di Indonesia, minuman dengan kemasan plastik hadir dalam beragam ukuran. Ada yang mendukung konsumsi porsi kecil dengan bentuk gelas berukuran 220 ml dan 240 ml, ada pula yang porsi besar berukuran 1,5 liter dan 2 liter yang mendukung konsumsi bersama.

Idealnya, kita tidak mengonsumsi minuman dengan kemasan plastik. Bawa air putih dengan tumbler. Membuat sendiri teh, kopi, ataupun protein shake di rumah dan menaruhnya dalam botol minum yang bisa dipakai berulang kali. 

Namun, bagaimana jika kita dalam kondisi terpaksa? Riset yang dirilis di Scientific Reports pada Februari 2021 lalu memberi petunjuk soal kemasan yang harus kita pilih jika terpaksa membeli dan mengonsumsi minuman dalam kemasan plastik.

R. Becerril-Arreola dari University of South Carolina mengumpulkan 187 kemasan plastik dari ragam ukuran, ketebalan, dan merek. Dia mengukur berat polyethylene terephthalate (PET) yang digunakan untuk membuat kemasan plastik dengan ukuran tertentu.

Baca juga: Plana Ubah Sampah Plastik dan Sekam Jadi Material Pengganti Kayu

Semakin sedikit PET yang dibutuhkan untuk memproduksi kemasan plastik dalam ukuran dan jumlah tertentu, maka semakin efisien dan ramah lingkungan pula kemasan tersebut. Kurang lebih begitu logikanya.

Hasil riset mengungkap bahwa kemasan kecil, berukuran kurang dari 473 ml (16 oz), ialah kemasan yang paling tidak efisien dan ramah lingkungan. Ukuran kemasan plastik 2,8 liter (100 oz) adalah yang lebih "bersahabat bagi lingkungan."

Studi menguraikan bahwa jika 20 persen penjualan minuman kemasan kecil bisa dialihkan ke kemasan sedang (17-99 oz), maka limbah PET bisa berkurang 1 persen tiap tahun. Angka itu mungkin terlkihat kecil tetapi sebenarnya setara dengan pengurangan 9.978 ton PET.

Mengambil pelajaran dari riset itu, jika membeli air mineral, lebih baik memilih yang berukuran 1,5 liter dan menghindari kemasan gelas plastik. Pilihan itu tak serta merta mmebuat kita bebas dari dosa lingkungan, tetapi setidaknya mengurangi.

Mungkin kita punya alasan beda saat memilih kemasan kecil. Karena sedang diet, misalnya, maka memilih jus kemasan 250 ml dan bukan 500 ml. Kita bisa minta produsen untuk memberi skala. Jadi, kita bisa tetap beli 500 ml, tetapi meminumnya 2 kali dengan porsi pas. 

Baca juga: Pemprov Bali Larang Instansi Sediakan AMDK Plastik, Wajibkan Bawa Botol Minuman

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau