Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Negara Pencemar Terbesar Dunia Lewatkan Tenggat Waktu Target Iklim

Kompas.com, 11 Februari 2025, 15:12 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Negara pencemar terbesar di dunia telah melewatkan tenggat waktu PBB untuk menyerahkan target iklim baru pada 10 Februari.

Hampir 200 negara telah menandatangani Perjanjian Paris untuk mengekang pemanasan global.

Berdasarkan perjanjian tersebut, berbagai negara diharapkan menyerahkan target iklim nasional baru ke PBB yang menetapkan bagaimana rencana untuk memangkas emisi pada tahun 2035.

Namun, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (11/2/2025) banyak negara pencemar terbesar di dunia, termasuk China, India dan Uni Eropa belum melakukannya.

Sementara negara-negara ekonomi besar yang telah mengumumkan rencana iklim baru termasuk AS, Inggris, Brasil, Jepang, dan Kanada.

Kendati demikian, AS diperkirakan akan membatalkan kontribusinya karena penarikan diri pemerintahan Trump dari Perjanjian Paris.

Baca juga: Bank Tetap Biayai Investasi Batu Bara meski Ada Target Iklim

Kepala iklim PBB Simon Stiell mengatakan minggu lalu sebagian besar negara telah mengindikasikan bahwa mereka masih akan menyusun rencana mereka tahun ini.

Kesepakatan iklim Paris 2015 mengikat negara-negara untuk mencoba menghindari pemanasan global yang melebihi 1,5 C (2,7 derajat Fahrenheit) di atas tingkat pra-industri.

Tindakan yang diambil hingga saat ini masih jauh dari pemangkasan emisi besar-besaran yang akan mencapai tujuan ini. Tahun lalu adalah tahun pertama yang menembus 1,5 C pemanasan.

Melansir Phys, tidak ada sangsi untuk keterlambatan penyerahan target yang disebut nationally determined contributions (NDCs) ini.

NDC tidak mengikat secara hukum, tetapi bertindak sebagai ukuran akuntabilitas untuk memastikan negara-negara menanggapi perubahan iklim dengan serius dan melakukan bagian yang adil untuk mencapai tujuan Paris.

Namun tenggat waktu yang terlewati menambah kekhawatiran bahwa aksi iklim telah gagal dengan beberapa pejabat mengisyaratkan bahwa pembalikan arah kebijakan iklim AS mengganggu upaya negara lain.

"Jelas ada beberapa pergeseran geopolitik yang sedang berlangsung yang terbukti menjadi tantangan dalam hal kerja sama internasional, terutama pada isu-isu besar seperti perubahan iklim," kata Ebony Holland dari International Institute for Environment and Development.

Seorang juru bicara Uni Eropa mengatakan target kolektif itu akan diumumkan sebelum konferensi iklim COP30 PBB pada bulan November.

Sedangkan para analisis mengatakan China diharapkan merilis NDC pada paruh kedua tahun 2025.

Baca juga: Dunia Habiskan 2,6 Triliun Dollar AS Per Tahun untuk Subsidi Aktivitas yang Sebabkan Pemanasan Global

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau