Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cara Produksi Hidrogen Berkelanjutan Dikembangkan, Bebas Emisi Karbon

Kompas.com, 15 Februari 2025, 10:07 WIB
Yunanto Wiji Utomo

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Tim ilmuwan internasional yang dipimpin oleh Universitas Peking mengembangkan metode produksi hidrogen baru yang menghilangkan emisi karbon dioksida (CO2) secara langsung.

Dipublikasikan dalam jurnal Science pada Jumat (14/2/2025), penelitian itu menawarkan solusi yang ramah lingkungan dan menguntungkan secara ekonomi untuk industri hidrogen.

Metode produksi hidrogen tradisional melalui pembentukan kembali etanol (ethanol reforming) biasanya memerlukan suhu tinggi mulai dari 300 hingga 600 derajat Celsius, mengonsumsi energi dalam jumlah besar, dan menghasilkan emisi CO2 yang signifikan.

Namun demikian, proses baru tersebut menggunakan katalis baru untuk menghasilkan hidrogen dengan mereaksikan bioetanol - yang berasal dari limbah pertanian dan kehutanan - dengan air pada suhu hanya 270 derajat Celsius.

Katalis dwilogam baru tersebut, yang dikembangkan oleh tim peneliti tersebut selama satu dekade terakhir, mengatasi tantangan teknis dari metode ethanol reforming konvensional.

Baca juga: Perusahaan UEA Bantah Terlibat Proyek Energi Nuklir di Indonesia

Solusi itu mengurangi suhu reaksi dengan mengatur situs-situs aktif secara tepat, sehingga mengubah jalur reaksi sepenuhnya.

"Penelitian kami menawarkan jalur baru untuk produksi hidrogen yang efisien tanpa emisi CO2," ujar Ding Ma, peneliti di Universitas Peking.

Selain itu, penelitian tersebut mengungkapkan bahwa metode baru itu juga menghasilkan asam asetat, bahan kimia organik yang banyak digunakan untuk pengawetan makanan, manufaktur, dan farmasi.

"Asam asetat bernilai tinggi yang juga dihasilkan dari proses tersebut menghadirkan potensi ekonomi yang signifikan bagi industri," imbuh Ma.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa metode produksi hidrogen baru itu dapat diskalakan dan memperlihatkan potensi kelayakan komersial di tingkat industri.

"Menemukan cara yang berkelanjutan untuk menghasilkan produk yang kita butuhkan dalam kehidupan sehari-hari sambil memenuhi target emisi net-zero masa depan merupakan tantangan utama bagi industri kimia, dan hidrogen diakui secara luas sebagai solusi utama," tutur Ma.

Tim peneliti tersebut yakin teknologi katalitik inovatif mereka dapat memainkan peran penting dalam memajukan ekonomi hidrogen hijau dan mewujudkan tujuan netralitas karbon global.

Penelitian ini merupakan kolaborasi antara peneliti dari Universitas Peking, Universitas Akademi Ilmu Pengetahuan China, Universitas Cardiff di Inggris, serta sejumlah institusi lainnya.

Baca juga: Ekosistem Energi Hidrogen Indonesia Tertinggal, Belum Punya Standar

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau