Temuan ini muncul saat krisis iklim membuat panas ekstrem lebih sering terjadi dan intens di seluruh dunia.
Jumlah hari yang sangat panas telah meningkat dalam beberapa dekade terakhir, dan gelombang panas kini berlangsung lebih lama dan mencakup wilayah yang lebih luas.
Tahun 2024 sendiri merupakan tahun terpanas yang pernah tercatat dan kota-kota di seluruh dunia memecahkan rekor suhu.
Gelombang panas di Eropa, Amerika Utara, dan Asia telah dikaitkan dengan puluhan ribu kematian dalam beberapa tahun terakhir.
Baca juga: Karena Perubahan Iklim, Rekor Suhu Panas Kemungkinan Besar Berlanjut 2025
Ilmuwan memperingatkan bahwa tanpa pengurangan drastis emisi gas rumah kaca, panas ekstrem akan menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang lebih besar.
Pasalnya, semakin banyak orang menua di dunia yang memanas. Para ilmuwan pun mengatakan kota-kota harus memikirkan kembali cara melindungi populasi mereka dari paparan panas kronis.
"Jika di mana-mana semakin hangat dan populasi menua, orang-orang ini rentan. Kita perlu menjadi jauh lebih cerdas tentang strategi mitigasi ini," kata Jennifer Ailshire, penulis senior penelitian dan profesor gerontologi dan sosiologi di USC.
Para peneliti menyarankan agar para pembuat kebijakan dan perencana kota untuk mempertimbangkan panas ekstrem saat merancang kota.
Strategi seperti menambah ruang hijau, menyediakan halte bus yang teduh, dan memastikan orang dewasa yang lebih tua memiliki akses ke pusat pendingin dapat membantu mengurangi risiko kesehatan jangka panjang.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya