Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menakar Potensi Bangunan Ramah Lingkungan untuk Cegah Banjir di Jakarta

Kompas.com, 5 Maret 2025, 20:18 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Green building atau bangunan ramah lingkungan dinilai berpotensi mencegah ancaman banjir di Jakarta.

Ketua Dewan Pakar Green Building Council Indonesia (GBCI), Iwan Prijanto, menyampaikan peran penting dari konsep green building bukan hanya pada individual bangunan, namun juga pengelolaan kawasan secara keseluruhan.

"Aspek resiliensi atau ketangguhan itu menjadi satu pertimbangan dalam green building. Bukan sebagai individual building, tetpi sebagai kawasan," kata Iwan saat dihubungi, Rabu (5/3/2025).

Baca juga: Green Property Jadi Solusi Atasi Perubahan Iklim di Perkotaan

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri telah mewajibkan ruang terbuka hijau yang cukup di setiap pengembangan properti dengan tujuan memastikan air hujan bisa diserap dengan baik.

Dalam konsep green building, setiap pengembang harus menerapkan sistem zero runoff yaitu memastikan tidak ada air yang keluar dari tapak pembangunan.

Karenanya, pengembang perlu menyediakan sistem untuk menampung air hujan yang dapat digunakan kembali.

"Seluruh area itu bisa digunakan kembali, rainwater housing, dipanen kembali airnya untuk kebutuhan misalkan siram tanaman, flushing toilet, dan lain-lain. Atau kalau itu masih bisa keberlebihan lagi, harus diresapkan kembali ke dalam bumi," jelas Iwan.

Sayangnya, pengaturan tentang pengelolaan air dan mitigasi banjir di kawasan-kawasan pengembangan properti masih lemah. Padahal, pengembang wajib memastikan keberlanjutan bangunan yang didirikan.

"Tetapi kalau di DKI, pengaturan untuk lahan-lahan persil untuk air tidak keluar sebenarnya sudah ada dalam PBG (persetujuan bangunan gedung). Untuk kawasan saya rasa masih belum ada," ujar dia.

Iwan menuturkan, kriteria pembangunan bangunan ramah lingkungan dilakukan di area dengan infrastruktur yang memadai. Makin dekat ke tengah perkotaan maka akan makin baik.

"Artinya dia akan mengoptimalkan ruang-ruang kota yang ada, karena artinya utilisasi dari infrastruktur yang ada di dalam kota bisa dimanfaatkan semaksimum mungkin," papar Iwan.

Baca juga: Produk Bahan Bangunan Ramah Lingkungan Lebih Diminati Konsumen di Indonesia

Sebaliknya, dia tidak merekomendasikan proyek yang dibangun di atas lahan baru seperti pertanian yang diubah menjadi kawasan industri ataupun perumahan.

Biasanya, kawasan itu belum didukung infrastruktur yang optimal termasuk ketidaksiapan jalan, jaringan air minum, hingga jaringan listrik untuk penghuni.

"Lebih bagus lagi kalau lokasinya itu justru bekas area yang negatif. Misalkan bekas pembuangan sampah, bekas industri yang terkontaminasi, daerah-daerah kumuh yang mulai terdegradasi kualitasnya. Itu bisa direvitalisasi, bisa ditingkatkan tanpa menimbulkan penolakan sosial," jelas Iwan.

Lokasi tersebut, menurut dia, bisa meningkatkan nilai investasi karena bertujuan memperbaiki area yang telah rusak.

"Pilihan lokasi kalau sampai ada investasi untuk memperbaiki lahan tentu akan mendapatkan rating yang lebih tinggi, karena effort-nya besar," imbuh dia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau