Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Video Viral Ratusan Kayu Gelondongan di Sungai Kapuas, Kemenhut Jelaskan Asalnya

Kompas.com, 27 Februari 2026, 15:43 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kayu gelondongan yang terbawa arus Sungai Kapuas, Desa Bajuh, Kecamatan Kapuas Hulu, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, disebut berasal dari PT GM dan PT PNT.

Hal ini disampaikan Kepala Balai Penegakkan Hukum (Gakkum) Kalimantan, Leonardo Gultom merespons video viral yang menunjukkan gelondongan kayu bulat tampak tersusun rapi mengarungi sungai tersebut. Petugas lantas mengumpulkan data dan informasi kejadian ini.

Baca juga: 

"Apabila ditemukan adanya pelanggaran, Petugas Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Gakkum Kehutanan akan melakukan penyidikan sesuai peraturan perundang-undangan yg berlaku," kata Leonardo dalam keterangannya, Jumat (27/2/2026).

Penemuan kayu gelondongan di Kapuas, Kalimantan Tengah

Kayu yang diangkut berjumlah ratusan batang

Ratusan kayu gelondongan mengarungi Sungai Kapuas viral di media sosial. Gakkum Kehutanan menyebut kayu berasal dari dua perusahaan.pixabay.com Ratusan kayu gelondongan mengarungi Sungai Kapuas viral di media sosial. Gakkum Kehutanan menyebut kayu berasal dari dua perusahaan.

Leonardo menyampaikan, petugas gabungan menemukan dua rakit kayu bulat, yang berdasarkan informasi dari pihak penarik kayu berasal PT GM dan PT PNT.

Kedua perusahaan merupakan pemegang perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH) yang beroperasi di wilayah Kabupaten Kapuas, Kecamatan Mandau Telawang.

“Saat ini Gakkum Kehutanan sudah mengamankan rakit kayu bulat di Sungai Kapuas, selanjutnya tim telah berkoordinasi dengan BPHL wilayah X Palangkaraya untuk mengecek kesesuaian fisik kayu dengan keterangan yang tertera dalam dokumen Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan Kayu," jelas Leonardo.

Kayu-kayu tersebut diangkut dari Tempat Penimbunan Kayu Antara di Desa Mendaun, Kecamatan Mandau Telawang, dengan jumlah kayu yang diangkut dari PT GM sebanyak 305 batang.

Sementara itu, dari PT PNT berjumlah 780 batang yang seluruhnya merupakan kayu bulat dari kelompok jenis Meranti.

"Pada batang kayu bulat ditemukan label barcode PT GM dan PT PNT. Pengangkutan rakit kayu bulat tersebut disertai bersama-sama dengan surat keterangan sahnya hasil hutan kayu," tutur Leonardo.

Baca juga:

Ratusan kayu gelondongan mengarungi Sungai Kapuas viral di media sosial. Gakkum Kehutanan menyebut kayu berasal dari dua perusahaan.Dok. Freepik/wirestock Ratusan kayu gelondongan mengarungi Sungai Kapuas viral di media sosial. Gakkum Kehutanan menyebut kayu berasal dari dua perusahaan.

Saat ini rakit kayu bulat tersebut diamankan oleh petugas Balai Gakkum Kehutanan Wilayah Kalimantan di Sungai Kapuas di wilayah Desa Bajuh.

Leonardo menyatakan, pengamanan ini dalam rangka penghitungan dan penentuan jenis kayu oleh pihak Balai Pengelolaan Hutan Lestari Wilayah X Palangka Raya. 

Tujuannya, mengecek kesesuaian fisik kayu dengan keterangan yang tertera dalam dokumen SKSHHK yang menyertai pengangkutannya.

Bilamana dalam pengecekan ditemukan pelanggaran terkait legalitas dokumen kayu, akan ditempuh upaya penegakan hukum terhadap PBPH.

Berdasarkan video yang tersebar di media sosial, tampak ratusan kayu gelondongan terususn rapi menyerupai pola tulang daun saat mengarungi Sungai Kapuas.

Sungai ini dikenal sebagai jalur transportasi air yang dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas termasuk pengangkutan hasil hutan.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau