Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 27/03/2025, 15:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com - Instalasi energi terbarukan pada 2024 kembali memecahkan rekor. Ada 585 gigawatt (GW) penambahan pembangkit bersih yang terpasang hanya tahun lalu saja.

Temuan tersebut mengemuka menurut laporan terbaru dari Badan Energi Terbarukan Internasional atau Renewable Energy Agency (Irena).

Dari seluruh penambahan pembangkit tersebut, 46 persennya berasal dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), dan pembangkit nonnuklir lainnya.

Baca juga: NDB Disebut Ingin Terlibat Pendanaan Proyek Energi Terbarukan di Indonesia

Secara total, penambahan pembangkit energi terbarukan pada 2024 naik 15,1 persen bila dibandingkan 2023. Hampir 64 persen penambahan listrik sepanjang 2024 terpusat di China.

China menambahkan 374 GW energi terbarukan pada 2024. Dari angka tersebut, tiga perempatnya merupakan PLTS. 

Jumlah tersebut lebih dari delapan kali lipat dibandingkan Amerika Serikat (AS) dan lima kali lipat dari yang ditambahkan Eropa tahun lalu.

China kini memiliki hampir 887 GW PLTS. Bila dibandingkan, energi terbarukan di AS 176 GW, Jerman 90 GW, Perancis 21 GW, dan Inggris sekitar 17 GW.

Baca juga: 20 Persen Listrik Lampung Sudah Berasal dari Energi Terbarukan

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengatakan, energi terbarukan akan mengakhiri era bahan bakar fosil. 

"Pertumbuhan yang memecahkan rekor menciptakan lapangan kerja, menurunkan tagihan listrik, dan membersihkan udara kita," kata Guterres, sebagaimana dilansir Euronews, Rabu (26/3/2025)

Akan tetapi, lonjakan penambahan tersebut masih belum cukup untuk mencapai tujuan tiga kali lipat energi terbarukan pada 2030.

Baca juga: Rencana Tata Ruang Daerah Perlu Akomodasi Lahan untuk Energi Terbarukan

Untuk diketahui, dalam COP28 di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), dunia sepakat untuk meningkatkan energi terbarukan hingga tiga kali lipat pada 2030 dibanding tingkat 2023.

Irena menghitung, kecepatan penambahan energi terbarukan pada 2024 masih kurang 28 persen untuk mencapai target tersebut.

"Namun, peralihan ke energi bersih harus lebih cepat dan lebih adil," papar Guterres.

Baca juga: Bukan Energi Terbarukan, Migas Jadi Fokus Pendanaan Danantara Gelombang Pertama

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau